Apa kabar Jakarta? Apakah hujan deras berpetir masih mengguyur? Membayangkan hujan deras berpetir, saya teringat jalan-jalanmu yang selalu tergenang air. Lalu lintas macet di mana-mana, para karyawan terjebak di jalanan. Saya juga teringat suasana pagi hari yang cerah, semarak, dan menyenangkan, yang sering saya nikmati dalam perjalanan ke kantor. Ada abang-abang penjual sayur yang selalu menyambangi ibu kost saya, ada pak ojek yang selalu setia nongkrong di depan kost, ada sesama anak kost yang saling menyapa ketika berangkat bekerja. Lalu, ketika beranjak siang, matahari Jakarta selalu menyengat panas. Sengatannya makin terasa ketika kami keluar dari kantor untuk makan siang. Di siang hari yang terik itu, satu gelas jus buah sangat menyegarkan :) Murah, hanya 3 atau 4 ribu rupiah saja. Dan ketika malam tiba, lampu-lampu semarak menghiasi Jakarta, menyembunyikan wajah muram karyawan yang kelelahan menunggu bis kota, menyembunyikan para gelandangan yang berteduh di jembatan penyeberang...