Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2007

Mari-mari, beramai-ramai kita mulai berempati

"Mbak, aku pusing. Ditanya-tanyain melulu kapan punya anak, jadi stress." "Udah, jangan stress. Cuekin ajah, kalau dipikirin tambah stress. Kalau kata temenku, dasar orang Indonesia. Emang kalau ditanyain kapan punya anak bisa bikin jadi hamil :p" "Hehehe,tapi tetep aja sih, stress. Pernah nggak Mbak capek ditanya-tanya sama orang rumah?" "Lha, kamu kan tau sendiri. Mana pacarnya, kapan nikah." "Trus gimana dong Mbak?" "Ya nggak bisa diapa2in. Makanya aku ngabur ke Amerika aja, hihihi." "Tapi Mbak, soal nikah kan emang nggak bisa dipaksain." "Nah, apa bedanya sama punya anak. Kan itu juga diluar kendali kamu, wong kamunya juga udah usaha. Tapi belum dikasih, mau diapain. Sama aja toh?" "Iya sih ... hiks hiks, aku jadi males mudik, ditanya-tanyain melulu." "Seriously, nggak usah ditanggapin. Tiap orang punya rejekinya sendiri-sendiri. Kalau kamu belum punya anak, it doesn't make you worse ...

Cause we both know that expectation kills ...

A friend said, "You are going nowhere, until any of you have the guts to talk about what kind of relationship it is. Even if you both only want companionship, it should be discussed to avoid misunderstanding.Then it's just the matter of time until you both get exhausted." Too bad, I don't have the courage.

Just another fool wish

It's just another fool wish. That we're seven or ten years younger than now. Why? So we have plenty of time to have fun, without worrying about the future, no need to think about lots of stuff ahead of us. Again, it's really just a fool wish. Because all we have is today. Not even seven or ten years before now, yesterday is already gone. And will we have time tomorrow? We never know. If only we can play with the time, freezing the time so there is no yesterday nor tomorrow.

Gegar budaya

Gara2 baca artikel ini saya jadi inget seorang temen nun jauh di sana yang bangga banget dengan identitasnya dari suku tertentu :D. Dia berbeda 180 derajat dari saya yang nggak peduli banget dengan identitas gw yang tidak jelas ini - setengah jawa setengah cina - ngomong Cina gak bisa ngomong Jawa belepotan, hahaha. Lahir di tengah2 clash budaya, saya memang tidak punya ketertarikan khusus terhadap budaya suku tertentu. Bagi saya, upacara-upacara adat adalah serentetan seremoni yang cenderung membosankan. Bahkan dalam bergaul sekalipiun, saya merasa canggung berada di lingkungan yang Jawa sekali atau Cina sekali, tidak berminat memacari laki2 yang Jawa sekali atau Cina sekali, dan lebih suka bergaul dengan anak2 perantauan yang relatif tidak punya budaya yang kental. Singkatnya, saya gegar budaya :) Ketertarikan dan kepedulian saya tentang adat istiadat leluhur baru muncul belakangan. Itupun lebih pada kepedulian secara pasif semata. Dari teman2 saya belajar. Contohnya adalah bapak i...