Gara2 baca artikel ini saya jadi inget seorang temen nun jauh di sana yang bangga banget dengan identitasnya dari suku tertentu :D. Dia berbeda 180 derajat dari saya yang nggak peduli banget dengan identitas gw yang tidak jelas ini - setengah jawa setengah cina - ngomong Cina gak bisa ngomong Jawa belepotan, hahaha.
Lahir di tengah2 clash budaya, saya memang tidak punya ketertarikan khusus terhadap budaya suku tertentu. Bagi saya, upacara-upacara adat adalah serentetan seremoni yang cenderung membosankan. Bahkan dalam bergaul sekalipiun, saya merasa canggung berada di lingkungan yang Jawa sekali atau Cina sekali, tidak berminat memacari laki2 yang Jawa sekali atau Cina sekali, dan lebih suka bergaul dengan anak2 perantauan yang relatif tidak punya budaya yang kental. Singkatnya, saya gegar budaya :)
Ketertarikan dan kepedulian saya tentang adat istiadat leluhur baru muncul belakangan. Itupun lebih pada kepedulian secara pasif semata. Dari teman2 saya belajar. Contohnya adalah bapak ini yang peduli banget dengan ke-Bali-an nya sampai mau membuat aksara bali yang standard di internet, my online sister:D, yang sering memposting hal-hal yang berhubungan dengan Batak-nya dan beberapa eks teman kantor yang masih mempraktekkan budaya tionghoa.
Dari mereka saya mendengar banyak adat istiadat, mulai yang menurut saya absurd, sampai yang mengagumkan. Mulai dari cerita bagaimana seorang cewek di Bali "diungsikan" karena dia dianggap "sang terpilih" sehingga tidak boleh mengenal lelaki, sampai cerita tentang adat tepai (kalo gak salah tulis) pada pernikahan Cina. Mendengar cerita-cerita dari mereka, sedikit demi sedikit saya mulai ngeh, betapa kayanya adat dari tiap2 suku. Dan betapa sayangnya kalau hilang dimakan waktu.
Kembali ke artikel yang gw refer di awal tuisan ini, untung aja ya masih ada orang2 yang peduli dengan adat istiadat. Gimana jadinya kalau semua orang kayak saya :), hehehe.
Lahir di tengah2 clash budaya, saya memang tidak punya ketertarikan khusus terhadap budaya suku tertentu. Bagi saya, upacara-upacara adat adalah serentetan seremoni yang cenderung membosankan. Bahkan dalam bergaul sekalipiun, saya merasa canggung berada di lingkungan yang Jawa sekali atau Cina sekali, tidak berminat memacari laki2 yang Jawa sekali atau Cina sekali, dan lebih suka bergaul dengan anak2 perantauan yang relatif tidak punya budaya yang kental. Singkatnya, saya gegar budaya :)
Ketertarikan dan kepedulian saya tentang adat istiadat leluhur baru muncul belakangan. Itupun lebih pada kepedulian secara pasif semata. Dari teman2 saya belajar. Contohnya adalah bapak ini yang peduli banget dengan ke-Bali-an nya sampai mau membuat aksara bali yang standard di internet, my online sister:D, yang sering memposting hal-hal yang berhubungan dengan Batak-nya dan beberapa eks teman kantor yang masih mempraktekkan budaya tionghoa.
Dari mereka saya mendengar banyak adat istiadat, mulai yang menurut saya absurd, sampai yang mengagumkan. Mulai dari cerita bagaimana seorang cewek di Bali "diungsikan" karena dia dianggap "sang terpilih" sehingga tidak boleh mengenal lelaki, sampai cerita tentang adat tepai (kalo gak salah tulis) pada pernikahan Cina. Mendengar cerita-cerita dari mereka, sedikit demi sedikit saya mulai ngeh, betapa kayanya adat dari tiap2 suku. Dan betapa sayangnya kalau hilang dimakan waktu.
Kembali ke artikel yang gw refer di awal tuisan ini, untung aja ya masih ada orang2 yang peduli dengan adat istiadat. Gimana jadinya kalau semua orang kayak saya :), hehehe.
Comments
Meski jauh di negeri seberang, jangan lupakan dong adat istiadat asalmu.
Salam kenal...