Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2008
Sekedar update saja :) Besok Selasa hari pertama filing H1B visa (visa buat specialty worker). 65,000 visa, yang quotanya tahun lalu habis di hari pertama plus 20,000 extended quota untuk graduate degree from US universities, yang tahun lalu habis dalam 29 hari. Kabarnya tahun ini 65,000 visa tersebut akan diundi (duh!) kalau quotanya habis dalam 5 hari pertama. Saya sendiri setengah berharap dapat visa setengah berharap ditolak :) Supaya lebih mudah mengatur langkah pulang, hehehe.

A dumb question

A friend said, "I always asked, how do I know that someone is the one or not?" A few days ago she said, "Now I know, when you meet him/her, you just know." As someone retarded and always failed in "Relationship-101" :p, I have one question: What if you feel that you already met him/her, but somehow you've missed the chance? Was it just your heart/brain/whatever misinterprets something and so call it love? Oh well, love is never be as simple as that - for me :).

Last Supper - Good Friday

I didn't manage to go to church today. When Josefina called at 7 pm, I was still at my desk, discussing a functional spec with my supervisor :( Even more, tomorrow is not a holiday for Emerson, so it's less likely I can go to church for Good Friday. Although I am not a religious person, I do miss to attend holy-mass, especially around Easter time. This time is usually when my mind wanders thousand miles away, thinking about loved ones back home. What are they doing right now? Maybe they just went back from attending station of cross. Or maybe my mother is preparing vegie-lunch for today, yes, everybody in the family usually do not eat meat on Good Friday.

Something red

I don't want something blue nor mellow yellow today, all I need is everything in red.

Dan kereta api pun kebablasan

Ah, dasar gila. Bagaimana mungkin kereta api bisa kebablasan dan salah jalan :p? Aneh dan bin ajaib, tapi itulah yang terjadi kemarin sore. Bukan di Indonesia, atau di negara lain yang mis-managed, tapi di United States yang konon negara adidaya itu :D Sebenarnya kemarin adalah Sabtu yang menyenangkan. Pergi ke downtown Philadelphia, makan siang dan shopping bersama ibu dosen dan teman-temannya. Sekitar jam 5, saya buru2 pamitan karena harus mengejar kereta jam 5.25 di Suburban station, Philadelphia. Lupakan ide2 tentang dinner atau Saturday night hang-out. Perjalanan 2 jam dari downtown Phily ke Royersford dengan transportasi yang minim dan mahal menjadi kendala utama. Tiba di stasiun sekitar jam 5 lebih dikit, saya punya cukup waktu sebelum kereta tiba. Lima menit, sepuluh menit, mulai muncul gelagat yang tidak menyenangkan. Departure status yang tadinya ontime mulai berubah menjadi 2 minutes late, 5 minutes late, dan akhirnya 8 minutes late. Ah, harusnya saya memperhitungkan faktor...

Surat untuk sahabat (sambungan thn 2005)

Dear sahabat, Tiba2 aku kangen dan ingat padamu. Ingin curhat tentang keinginan-keinginan setinggi awan, tentang hal-hal yang paling muluk dan ideal, yang mungkin aneh di mata orang. Mana undanganmu? Pasti lagi sibuk dengan persiapan ini itu untuk perayaan besar di akhir bulan ya, semoga semua lancar :) ... Ingat tidak dua setengah tahun yang lalu ? Saat aku berjuang beradaptasi di negeri yang baru ini, kau malah 'bertualang' ke Girisonta sebagai penanda tahun ke-30 dalam hidupmu. Mau mencari panggilanku , katamu waktu itu. Kau tetap berangkat walaupun banyak orang berkata kamu tak punya potongan jadi pastor. Dan mereka ternyata benar, hehehe. 'Petualangan'-mu itu malah membuatmu makin yakin bahwa itu bukan jalanmu. Lalu beberapa bulan kemudian dengan penuh keceriaan dan kekonyolan kau bercerita bahwa kau telah menemukan tambatan hatimu. Kami bertemu di sebuah acara muda mudi gereja , demikian katamu. Dan dia memintaku untuk tetap menjadi pasanganku dalam sebuah permain...

Jadi bagaimana?

Konon, kata tua-tua, seorang muda harus meninggalkan kampung halamannya. Ada gunung di ujung cakrawala. Puncaknya tertutup awan, supaya tak seorangpun tahu ada apa di puncak sang gunung. Konon kata mereka, lelaki muda harus pergi ke sana, untuk membuktikan dirinya. Tapi perempuan itu berkata: Kalau mereka bisa, kenapa aku tidak. Aku akan pergi ke puncak gunung itu, dan aku akan melihat cakrawala yang luas. Aku akan pergi seperti bunga rumput yang tertiup angin. Aku akan bersahabat dengan angin dan pergi ke tempat ia bertiup. Ah, perempuan muda pemimpi. Ia hanya berbekal selembar peta dan bekal secukupnya di ransel bututnya. Hanya itu, ditambah sebongkah doa dari orang-orang yang dicintainya, yang mendoakannya untuk menemukan tujuannya. Sisanya, ia percaya ia harus mengikuti sang Angin. Dua musim. Ia melewati desa-desa kecil nan cantik, pengelana-pengelana yang ramah. Saat melalui kota kecil, ia berhenti sejenak untuk menghirup kopi di kedai-kedai pinggir kota. Semua tampak indah, tapi...

Just a two cents ...

Teman: Di Indo mah nggak ada yang applicable, kecuali korupsi, jalan2 studi banding ... Saya: *Deg* Kamu keterlaluan ih :) ... Ya, memang Indonesia porak poranda. Sampai saya mati pun, rasanya saya nggak akan mati dalam keadaan melihat Indonesia yang jauh lebih baik dari sekarang. Mungkin generasi cucu saya pun akan mati dalam keadaan melihat Indonesia yang masih begini-begini saja. Tapi masih ada setitik rasa *tsah* untuk tempat yang porak poranda itu. Serius, saya masih berharap bahwa suatu hari saya, kamu, dan teman-teman yang lain, bisa membuat keadaan menjadi lebih baik. Tentu saja tidak seperti tongkat ibu peri yang menyelesaikan masalah dalam sekejab. Mungkin saja tingkat kegagalannya 95%. Tapi toh masih ada 5% probability? Kenapa saya tiba2 posting begini? Karena saya capek, capek melihat keadaan yang tidak kunjung membaik. Capek dengan ketakutan dan kepengecutan saya sendiri, yang menghalangi saya untuk langsung pulang ke tanah kelahiran saya. Duh, emang bisa apa saya kalau ...