Skip to main content

Jadi bagaimana?

Konon, kata tua-tua, seorang muda harus meninggalkan kampung halamannya. Ada gunung di ujung cakrawala. Puncaknya tertutup awan, supaya tak seorangpun tahu ada apa di puncak sang gunung. Konon kata mereka, lelaki muda harus pergi ke sana, untuk membuktikan dirinya.

Tapi perempuan itu berkata: Kalau mereka bisa, kenapa aku tidak. Aku akan pergi ke puncak gunung itu, dan aku akan melihat cakrawala yang luas. Aku akan pergi seperti bunga rumput yang tertiup angin. Aku akan bersahabat dengan angin dan pergi ke tempat ia bertiup.

Ah, perempuan muda pemimpi. Ia hanya berbekal selembar peta dan bekal secukupnya di ransel bututnya. Hanya itu, ditambah sebongkah doa dari orang-orang yang dicintainya, yang mendoakannya untuk menemukan tujuannya. Sisanya, ia percaya ia harus mengikuti sang Angin.

Dua musim. Ia melewati desa-desa kecil nan cantik, pengelana-pengelana yang ramah. Saat melalui kota kecil, ia berhenti sejenak untuk menghirup kopi di kedai-kedai pinggir kota. Semua tampak indah, tapi ia tahu, perjalanannya akan makin melelahkan di perhentian-perhentian selanjutnya.

Empat musim dilaluinya, jalanan tak lagi lurus. Menyempit, berkelok, bahkan hanya jalan setapak. Tak ada lagi lalu lalang orang yang sering ia temui di awal perjalannya. Sekali dua ia bertemu pengelana, yang membawa berita terhangat dari kota-kota nan jauh.

Delapan musim. Peta di tangannya mulai kusut, namun puncak gunung masih terlihat jauh. Tak hanya semangat mengendur, badan pun mulai terasa lelah. Pemandangan di kiri-kanan indah dan menggoda, namun jalanan kian terjal. Ia harus lebih berhati-hati melangkah dengan sepatu boot nya yang mulai tua dan licin. Ia ingin berhenti saja dan menyerah.

Malam berikutnya. Ia beristirahat di bawah taburan bintang. Ia masih tergoda untuk menyerah, atas nama kesepian, fisik, dan semangat yang melemah. Tapi bila ia menyerah, mati sudah impiannya. Pun ia harus kembali meretas jalan untuk pulang. Jadi bagaimana?

Ia menunggu pagi, berharap istirahat semalam akan memulihkan tenaganya dan mengusir kepenatannya.

Comments

Anonymous said…
salam kenal balik Mita, kmu bilang blog saya cerita nya bagus2? kmu ini mengejek y? soalnya saya pas baca blog kmu, jauh..jauh..lebih bagus gaya bercerita dan bertuturnya, suer! saya kagum! :)

jangan2 kmu penulis ya?

Btw, postingan ini keren Mit, walau ak ga tau gimana endingnya tapi, so touching sekali!, kamu menyelesaikan ceritanya bagus. so, emang bersambung kah cerita ini?

salam,
(ak ijin link blog punya kmu)
Anonymous said…
yang ini cakep banget deh. mengingatkan pada narasi Phillip Pullman ;)
Anonymous said…
Glad to hear you there, Mita. Finally, find u again....after 4 years. Good luck.
Anonymous said…
Sis! This is so beautiful .. :)
Anonymous said…
MMMMmmmpph...
keren bangeeeet Mba...
pembangkit motivasi ku....

Popular posts from this blog

Thanksgiving 2020

What a crazy ride we have been riding in 2020. The COVID-19 pandemic has pretty much put our life on hold, if not going on a slower pace. I feel that we are running a marathon, and it's not over yet. The emotional toll that we have been experiencing since March is real. Everything that we used to take for granted, like meeting up with friends, birthday parties, kids activities, traveling, the convenience of doing grocery shopping anytime we want, a lot of them have been taken away from us, from my family. No more parties, no more lunch or dinner with friends, no more invitation for birthday parties, no more traveling. Perhaps my life had become too easy before the pandemic. We had to switch Nathaniel from a brick and mortar school to a cyber school. I tried to plan my grocery trips ahead of time to avoid crowds. We had to wear masks everywhere. But at least we are healthy. At least I am facing this together with my husband and kids as a family. At least I am at home that is fu...

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

What would they decide ?

When I was a little girl, I heard a lot of stories about far-away lands from my mother. She told me stories that she got from my father's letters when he was away. Our family was apart for four years. My father went to school to Montpelier, France while my Mom raised my brother and me in Yogyakarta. Every other year Dad visited us, brought a lot of books and pictures home. Pictures of Versailles, Lourdes, Marseilles, Spain, and a lot more. He told us many stories, brought me from our little home to those countries, although only in imagination. Since that day, I convinced myself that someday, when I grow up, I will see those places with my own eyes :) About twenty some years later, my turn came. I stand here, a few thousand miles away from home. About once a week I call home, talked to my parents about this place. About the harsh winter in Pittsburgh, about my new town near Philadelphia, about my new job. I might not be here if my father never brought me those pictures, told me st...