Konon, kata tua-tua, seorang muda harus meninggalkan kampung halamannya. Ada gunung di ujung cakrawala. Puncaknya tertutup awan, supaya tak seorangpun tahu ada apa di puncak sang gunung. Konon kata mereka, lelaki muda harus pergi ke sana, untuk membuktikan dirinya.
Tapi perempuan itu berkata: Kalau mereka bisa, kenapa aku tidak. Aku akan pergi ke puncak gunung itu, dan aku akan melihat cakrawala yang luas. Aku akan pergi seperti bunga rumput yang tertiup angin. Aku akan bersahabat dengan angin dan pergi ke tempat ia bertiup.
Ah, perempuan muda pemimpi. Ia hanya berbekal selembar peta dan bekal secukupnya di ransel bututnya. Hanya itu, ditambah sebongkah doa dari orang-orang yang dicintainya, yang mendoakannya untuk menemukan tujuannya. Sisanya, ia percaya ia harus mengikuti sang Angin.
Dua musim. Ia melewati desa-desa kecil nan cantik, pengelana-pengelana yang ramah. Saat melalui kota kecil, ia berhenti sejenak untuk menghirup kopi di kedai-kedai pinggir kota. Semua tampak indah, tapi ia tahu, perjalanannya akan makin melelahkan di perhentian-perhentian selanjutnya.
Empat musim dilaluinya, jalanan tak lagi lurus. Menyempit, berkelok, bahkan hanya jalan setapak. Tak ada lagi lalu lalang orang yang sering ia temui di awal perjalannya. Sekali dua ia bertemu pengelana, yang membawa berita terhangat dari kota-kota nan jauh.
Delapan musim. Peta di tangannya mulai kusut, namun puncak gunung masih terlihat jauh. Tak hanya semangat mengendur, badan pun mulai terasa lelah. Pemandangan di kiri-kanan indah dan menggoda, namun jalanan kian terjal. Ia harus lebih berhati-hati melangkah dengan sepatu boot nya yang mulai tua dan licin. Ia ingin berhenti saja dan menyerah.
Malam berikutnya. Ia beristirahat di bawah taburan bintang. Ia masih tergoda untuk menyerah, atas nama kesepian, fisik, dan semangat yang melemah. Tapi bila ia menyerah, mati sudah impiannya. Pun ia harus kembali meretas jalan untuk pulang. Jadi bagaimana?
Ia menunggu pagi, berharap istirahat semalam akan memulihkan tenaganya dan mengusir kepenatannya.
Tapi perempuan itu berkata: Kalau mereka bisa, kenapa aku tidak. Aku akan pergi ke puncak gunung itu, dan aku akan melihat cakrawala yang luas. Aku akan pergi seperti bunga rumput yang tertiup angin. Aku akan bersahabat dengan angin dan pergi ke tempat ia bertiup.
Ah, perempuan muda pemimpi. Ia hanya berbekal selembar peta dan bekal secukupnya di ransel bututnya. Hanya itu, ditambah sebongkah doa dari orang-orang yang dicintainya, yang mendoakannya untuk menemukan tujuannya. Sisanya, ia percaya ia harus mengikuti sang Angin.
Dua musim. Ia melewati desa-desa kecil nan cantik, pengelana-pengelana yang ramah. Saat melalui kota kecil, ia berhenti sejenak untuk menghirup kopi di kedai-kedai pinggir kota. Semua tampak indah, tapi ia tahu, perjalanannya akan makin melelahkan di perhentian-perhentian selanjutnya.
Empat musim dilaluinya, jalanan tak lagi lurus. Menyempit, berkelok, bahkan hanya jalan setapak. Tak ada lagi lalu lalang orang yang sering ia temui di awal perjalannya. Sekali dua ia bertemu pengelana, yang membawa berita terhangat dari kota-kota nan jauh.
Delapan musim. Peta di tangannya mulai kusut, namun puncak gunung masih terlihat jauh. Tak hanya semangat mengendur, badan pun mulai terasa lelah. Pemandangan di kiri-kanan indah dan menggoda, namun jalanan kian terjal. Ia harus lebih berhati-hati melangkah dengan sepatu boot nya yang mulai tua dan licin. Ia ingin berhenti saja dan menyerah.
Malam berikutnya. Ia beristirahat di bawah taburan bintang. Ia masih tergoda untuk menyerah, atas nama kesepian, fisik, dan semangat yang melemah. Tapi bila ia menyerah, mati sudah impiannya. Pun ia harus kembali meretas jalan untuk pulang. Jadi bagaimana?
Ia menunggu pagi, berharap istirahat semalam akan memulihkan tenaganya dan mengusir kepenatannya.
Comments
jangan2 kmu penulis ya?
Btw, postingan ini keren Mit, walau ak ga tau gimana endingnya tapi, so touching sekali!, kamu menyelesaikan ceritanya bagus. so, emang bersambung kah cerita ini?
salam,
(ak ijin link blog punya kmu)
keren bangeeeet Mba...
pembangkit motivasi ku....