Skip to main content

Sesudah 6 bulan di Pittsburgh

Saya mulai menyukai kota yang tenang ini. Sepintas lalu kota ini mengingatkan saya pada Bandung, dengan jalan-jalan asimetrisnya yang membingungkan dan susah dihapal. Kota ini juga mirip Bandung, dengan kontur tanahnya yang naik turun. Biking to campus :p? Makasih deh :D

Kota ini juga ramah, seperti keramahan yang saya temukan di Bandung. Kalau dulu keramahan itu ada pada sopir-sopir angkot, sekarang keramahan itu saya temukan di wajah sopir-sopir bus yang tiap hari mengantar saya ke kampus. Ada satu wajah yang sangat berkesan karena keramahannya. Seorang sopir perempuan kulit hitam yang masih muda, mungkin umurnya hanya beberapa tahun di atas saya. Dia selalu tersenyum ramah pada setiap penumpang, dan mengucapkan "Have a save night" kalau saya pulang agak malam dari kampus.

Tiga sungai yang membelah kota ini, Allegheny, Ohio, dan Monongahela memberikan wajah unik pada kota ini. Konon, kota ini mempunyai jembatan lebih banyak dari London (cmiiw: Emang London punya banyak jembatan ya?) Saya suka sekali menikmati view sungai ini, bersih, tidak seperti Sungai Ciliwung yang selalu membuat saya menutup hidup :(

Apakah saya mulai jatuh cinta pada kota ini? Bisa jadi :) Meskipun demikian, itu tak bisa menghapus kerinduan saya pada tiga kota yang telah menjadi rumah saya - Jogja, Bandung, dan Jakarta. Apakah Pittsburgh akan menjadi kota keempat yang saya anggap rumah saya ? Kita lihat saja nanti ;)

Comments

Anonymous said…
Fran Drescher: I've gone very far, far away, but my character keeps me close to home.
Anonymous said…
JFYI, Pittsburgh has more bridges than any place in America - second in the world only to Venice, Italy.

Popular posts from this blog

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

Turned out alright

Last week everything turned out alright :) Jumat siang, dengan restu teman2 kantor :p gw cabut dari kantor, walaupun area leader gw ngajakin meeting buat next recipe, tapi dia bilang "Go ahead and don't worry about the meeting, you better get your license today :p" . Jam 12.30an, gw dijemput sama orang dari driving school, dan ngebutlah kita ke DMV Norristown ngejar ujian jam 2 siang. Gw deg2an banget, apalagi karena udah gagal 1x. Kalau gw fail lagi, means that I screw everything up. Karena in the next four weeks para tebengan bakalan cabut ke site di Oregon (gak mungkin kan gw jalan 2 mile ke kantor), kontrak apartment gw habis akhir September dan gw harus cari apartment baru, dan ada chance gw bakalan dikirim ke Oregon juga (walaupun bukan shift pertama). Tapi above it all, hidup tergantung sama orang lain itu sucks. Gw gak bisa bebas ke mana-mana, gak bisa cari kegiatan dan temen2 sendiri (temennya ya cuman temen dari temen gw), gak ada social life sama sekali. Nyampe...