Skip to main content

Makanan Asia di Pittsburgh

Kalau kamu doyan mencoba makanan dari berbagai negara, tinggal di US adalah kesempatan untuk icip makanan dari sana-sini.

Selama 10 bulan tinggal di Pittsburgh, kamus makanan saya bertambah dengan makanan dari berbagai negara yang jarang/belum pernah saya icipi. Gimana kalau saya tinggal di kota besar macam New York yaa, pasti lebih seru lagi!

OK, sebagai orang Indonesia yang gak kenyang kalau belum makan nasi, kali ini kita bahas makanan-makanan Asia. Nggak di Jakarta, nggak di Pittsburgh, yang pertama kali saya cari tentu saja Chinese food. Bedanya, Chinese food di US memiliki lebih banyak varian daripada Chinese food di Jakarta. Kalau di Jakarta Chinese food biasanya didominasi dengan bakmi goreng, capcay, dan fuyunghai, di sini banyak makanan baru yang belum pernah saya coba sebelumnya. Beberapa yang saya suka antara lain : orange beef (make it extra crispy plissss), dan general tso chicken (benernya ini cuman ayam boneless goreng tepung, dimakan pake saos kayak saos fuyunghai).

Oh ya, seperti saya bilang tadi, Chinese food di sini variannya macem2, gak cuma Javanese-Chinese food :p. Ada ala Taiwan, Hongkong, juga Sechuan, yang katanya terkenal pedes. Salah satu makanan ala Sechuan yang baru saya coba belakangan adalah dandan noodle. Sounds weird, eh? Basically dandan noodles = yamin asin ekstra puedesss. Isinya cuma mie, dan daging ala yamin yang ekstra pedessss. Semangkoknya murah, cuman 2 dollar. Tapi mangkoknya kecil banget, cuma sebesar mangkok kuah mie :p Jadi sekali makan, kita biasanya pesan minimal 2 porsi, hehehe.

Ah, udah ah ngebahas Chinese food. Bagaimana dengan makanan-makanan Asia lainnya? Hmmm, hampir setiap pulang gereja kami mampir ke Tram's Kitchen (makanan Vietnam). Walaupun kami sering banget complain gara2 harganya naekkk terus, tapi tetep aja ke situ lagi ke situ lagi. Selain makanan Vietnam, saya dan teman-teman juga cukup sering makan makanan Korea n Jepang. I think Korean Garden is the best, sayangnya kalau pulang dari situ, baju kita selalu bau makananan :| bete deh. Kalau lagi iseng pengen makan bulgogi atau galbi (tapi lagi pelit atau gak punya duit :p), saya bisa ke Korean Store, beli daging bulgogi/galbi yang udah dibumbuin. Sampai rumah tinggal ditumis-tumis. Hehehe, ngirit euyyyy.

Makanan Thai dan Malaysia juga relatif gampang didapat. To bad so sad, makanan Indonesia bisa dibilang tidak ada :( Satu-satunya menu yang sangat Indonesia adalah "Java fried rice" di Spice Island. Well, di situ ada juga gado-gado dan rendang (yang diucapkan oleh bule-bule itu dengan logat yang sangat aneh). Can I have rendang? Excuse me? OOOh, you mean reeendeng. Huehehe. Tapi rasanya gak gitu nendang :)

Naaah, sekarang kita bergeser dikit ke arah barat. India! Gimana dengan makanan Indiaaa ? Waktu awal2 di Pittsburgh, saya diajak makan di Udipi, sebuah restauran India vegetarian. Katanya siih, katanya, orang-orang kaya dari India sering datang ke situ. Sayangnya malam itu jadi nightmare yang tidak bisa saya lupakan :p Perpaduan antara rempah-rempah yang bau dan rasanya menusuk sangat tajam, kuah kental yang penuh susu/keju, dan tidak adanya unsur hewani (baca: vegetarian gitu lho!) sukses membuat saya bolak balik ke kamar mandi sementara orang-orang lain begitu menikmati makanan itu. Saat itu, saya berjanji, that was my first and last time :p

Tapi minggu kemaren, entah bagaimana, sepulang gereja semua orang setuju untuk makan di India Garden. Oalah, perut saya langsung mules-mules membayangkannya. Tapi kata Fenny, saya harus nyobain, karena kali ini bukan vegetarian, dan ada yang nggak terlalu berbumbu *Glek, saya tetep saja nervous*. OK, tarik napas panjang, celingak-celinguk. Sialan, yang lain semua doyan makanan india. * Joek, kenapa elu pas ke Atlanta? Gw kehilangan teman sesama anti makanan India :( * "OK deh, gw ikut", dengan senyum ditegar-tegarkan gw mengiyakan ajakan teman-teman.

Eng i eng, masuklah kami ke India Garden. $7 untuk lunch buffet, not bad. Dengan hati-hati saya ambil sedikit nasi, sedikit lamb curry, dan tandori chicken. Tidak lupa saya tambah dengan timun dan sawi-sawian yang harusnya berfungsi sebagai salad, hahaha. Makanan-makanan lain yang mostly berkuah kental, blenyek-blenyek, dan menusuk hidung tidak saya ambil sama sekali. Hmm, nasinya aneeh. Kayak nasi uduk tapi aneh. Lamb curry nya not bad, tapi sangat kental, dan saya gak berani ambil banyak-banyak. Tandori chicken nya lumayan. Waktu Fenny menyarankan saya mengambil secuil chili chicken, untunglah rasanya lebih mirip chinese food ... Fuihhh, lega. Ronde kedua, main safe aja lah, ambil tandori chicken aja. Itu yang rasanya paling masuk akal.

Tapi kok perut saya rasanya nggak enak yaa ? Padahal ini gak separah yang dulu. Pasti ini gara-gara sugesti. Buru-buru, saya ambil semangka banyak-banyak biar seger. Lalu saya ambil juga dessert yang bentuknya kayak 'gethuk'. Alamaaak, manisnya. Udah deh, saya nyerah, makan semangka aja.

So, menyerahkah saya dengan makanan India? Tampaknya begitu :p Kecuali dalam keadaan terpaksa (enggak ada teman ngabur), saya kayaknya rada kapok deh nyobain lagi. Masih banyak kok makanan Asia yang laen di Pittsburgh ini :p Hihihihi

Comments

Anonymous said…
HOreeeeeeeee... ternyata kita sama2 anti makanan India!
Anonymous said…
punya darah jogja? wah, kita satu kampung dong, hihihi....
Ddee said…
Hehe lam kenal ya.

India: = roti prata/canai
Wahh ini enak lor.. :)

But emang dmana2, makanan Indo tetep the best.
Anonymous said…
makanan India emang challenging.. hehehehe.. ada temenku yang pas di India cuma makan nasi sama timun krn ga cocok lauknya :).

tapi aku sih, alhamdulillaah ga masalah :)
Chezumar said…
Waduh Mit, ternyata blogspot mu ini masih sering diupdate yah, yang aku tunggu-tunggu updatenya cuma multiply mu aja.

Makanan Thailand walaupun baru sekali dua kali gw cobain kayaknya masih cocok di lidah. Kalau makanan India yang asli plek dari sana gw belom pernah cobain. Tapi makanan restoran Queen's Tandoor di kantor enak juga.
Anonymous said…
jojga? Ok mbak tak salamke..aku baca2 besok aja ya :D. lagi lembur je.
redwhitebride said…
waktu di jepang salah satu resto fave: indian resto :-) used to like it alot. few weeks ago di philly diundang dinner ama temen india yg vegetarian, bener2 beda. asli kesiksa. mo dimakan perut menolak en hampir throw up, gak dimakan nggak enak ama yg ngundang... hehehe...

Popular posts from this blog

Thanksgiving 2020

What a crazy ride we have been riding in 2020. The COVID-19 pandemic has pretty much put our life on hold, if not going on a slower pace. I feel that we are running a marathon, and it's not over yet. The emotional toll that we have been experiencing since March is real. Everything that we used to take for granted, like meeting up with friends, birthday parties, kids activities, traveling, the convenience of doing grocery shopping anytime we want, a lot of them have been taken away from us, from my family. No more parties, no more lunch or dinner with friends, no more invitation for birthday parties, no more traveling. Perhaps my life had become too easy before the pandemic. We had to switch Nathaniel from a brick and mortar school to a cyber school. I tried to plan my grocery trips ahead of time to avoid crowds. We had to wear masks everywhere. But at least we are healthy. At least I am facing this together with my husband and kids as a family. At least I am at home that is fu...

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

What would they decide ?

When I was a little girl, I heard a lot of stories about far-away lands from my mother. She told me stories that she got from my father's letters when he was away. Our family was apart for four years. My father went to school to Montpelier, France while my Mom raised my brother and me in Yogyakarta. Every other year Dad visited us, brought a lot of books and pictures home. Pictures of Versailles, Lourdes, Marseilles, Spain, and a lot more. He told us many stories, brought me from our little home to those countries, although only in imagination. Since that day, I convinced myself that someday, when I grow up, I will see those places with my own eyes :) About twenty some years later, my turn came. I stand here, a few thousand miles away from home. About once a week I call home, talked to my parents about this place. About the harsh winter in Pittsburgh, about my new town near Philadelphia, about my new job. I might not be here if my father never brought me those pictures, told me st...