Akhirnya fase yang dialami banyak perempuan lain itu pun saya alami. Fase menjelang 30, yang penuh dengan hal-hal menjengkelkan seputar ayo-dong-kenalkan-pasangan-kamu, kapan-menikah, sudah-saatnya-kamu-berpikir-untuk-berumahtangga, dan seterusnya, dan seterusnya ...
Sebenarnya ini bukan barang baru bagi saya. Semenjak umur saya memasuki angka 25, pertanyaan-pertanyaan ini sudah mulai terlontar dari mulut tante, om, nenek, kakek. Tapi saya memilih untuk tertawa-tawa, lalu akhirnya hengkang dari Jakarta. Selamat. Untuk sementara saya terbebas dari pertanyaan-pertanyaan itu karena mereka jadi lebih tertarik dengan rencana saya melanjutkan studi, jalan-jalan di negeri orang. Tapi tadi malam bola salju itu menggelinding, membesar, dan membuat saya pusing ketika ia menabrak saya.
Bagi saya, memiliki keluarga adalah anugerah. It's precious when you find someone who is willing to spend the rest of his/her life with you. Tapi toh hidup yang relatif mulus tanpa lika-liku hanya diberikan untuk sebagian orang saja. Sisanya harus berjuang untuk mewujudkan mimpi-mimpinya, harus mengalami hidup yang seperti roller coaster, sesaat di atas, sedetik kemudian harus menahan isi perut yang bergejolak ketika kamu hanya bisa pasrah saat roller coaster berputar begitu cepat. Dan saya adalah salah satu yang ada di kelompok itu.
Kalau saja hidup itu sesuatu yang kita miliki, yang kita memiliki kuasa penuh terhadapnya, tentu saja saya tak akan berada di kota ini. Tak pernah sedikitpun terbersit bahwa saya akan berada di kota ini. Dalam bayangan saya dulu, selepas kuliah saya ingin bekerja sekitar 2 atau 3 tahun, lalu pergi ke Eropa untuk kembali ke bangku kuliah. Lalu kembali ke Jakarta, membangun rumah kecil bersama laki-laki yang saya cintai sebelum berumur 30. Mempunyai seorang anak lelaki yang sehat dan dan menggendong anak perempuan bermata bulat. Indah bukan? Tapi toh itu hanya rancangan manusiawi, yang berbeda jauh dengan rancanganNya.
Perjalanan telah membawa saya ke sini, ke tempat dan kondisi yang jauh dari keinginan saya. Tapi toh saya tak mau menyesalinya. Terlalu banyak kegembiraan yang saya peroleh, terlalu banyak berkat yang Ia berikan, tak mungkin saya berkata bahwa Dia tidak mencintai saya. Sekarang saya sedang berjalan menujuke sebuah persimpangan. Cepat atau lambat harus saya kembali memutuskan, ke mana arah saya selanjutnya. Saya sudah membuat sketsa keputusan itu.
Sekali lagi saya di persimpangan. Saya tidak tega berkata tidak. Tapi ini hidup saya. Saya tak mau terjebak pada stereotype perempuan menjelang 30 yang hanya sibuk mencari suami. Bukan saya tak mau mengikatkan diri, tapi saya tak mau terjebak, memandang pernikahan adalah tolok ukur seorang perempuan.
Jika tiba saatnya, jika saya bertemu dengannya, saya pasti akan melabuhkan hati saya. Tapi tolong, beri saya kesempatan untuk mencari jawaban atas hidup saya.
Sebenarnya ini bukan barang baru bagi saya. Semenjak umur saya memasuki angka 25, pertanyaan-pertanyaan ini sudah mulai terlontar dari mulut tante, om, nenek, kakek. Tapi saya memilih untuk tertawa-tawa, lalu akhirnya hengkang dari Jakarta. Selamat. Untuk sementara saya terbebas dari pertanyaan-pertanyaan itu karena mereka jadi lebih tertarik dengan rencana saya melanjutkan studi, jalan-jalan di negeri orang. Tapi tadi malam bola salju itu menggelinding, membesar, dan membuat saya pusing ketika ia menabrak saya.
Bagi saya, memiliki keluarga adalah anugerah. It's precious when you find someone who is willing to spend the rest of his/her life with you. Tapi toh hidup yang relatif mulus tanpa lika-liku hanya diberikan untuk sebagian orang saja. Sisanya harus berjuang untuk mewujudkan mimpi-mimpinya, harus mengalami hidup yang seperti roller coaster, sesaat di atas, sedetik kemudian harus menahan isi perut yang bergejolak ketika kamu hanya bisa pasrah saat roller coaster berputar begitu cepat. Dan saya adalah salah satu yang ada di kelompok itu.
Kalau saja hidup itu sesuatu yang kita miliki, yang kita memiliki kuasa penuh terhadapnya, tentu saja saya tak akan berada di kota ini. Tak pernah sedikitpun terbersit bahwa saya akan berada di kota ini. Dalam bayangan saya dulu, selepas kuliah saya ingin bekerja sekitar 2 atau 3 tahun, lalu pergi ke Eropa untuk kembali ke bangku kuliah. Lalu kembali ke Jakarta, membangun rumah kecil bersama laki-laki yang saya cintai sebelum berumur 30. Mempunyai seorang anak lelaki yang sehat dan dan menggendong anak perempuan bermata bulat. Indah bukan? Tapi toh itu hanya rancangan manusiawi, yang berbeda jauh dengan rancanganNya.
Perjalanan telah membawa saya ke sini, ke tempat dan kondisi yang jauh dari keinginan saya. Tapi toh saya tak mau menyesalinya. Terlalu banyak kegembiraan yang saya peroleh, terlalu banyak berkat yang Ia berikan, tak mungkin saya berkata bahwa Dia tidak mencintai saya. Sekarang saya sedang berjalan menujuke sebuah persimpangan. Cepat atau lambat harus saya kembali memutuskan, ke mana arah saya selanjutnya. Saya sudah membuat sketsa keputusan itu.
Sekali lagi saya di persimpangan. Saya tidak tega berkata tidak. Tapi ini hidup saya. Saya tak mau terjebak pada stereotype perempuan menjelang 30 yang hanya sibuk mencari suami. Bukan saya tak mau mengikatkan diri, tapi saya tak mau terjebak, memandang pernikahan adalah tolok ukur seorang perempuan.
Jika tiba saatnya, jika saya bertemu dengannya, saya pasti akan melabuhkan hati saya. Tapi tolong, beri saya kesempatan untuk mencari jawaban atas hidup saya.
Comments
Keep on walking [and looking], he's just waiting to be bumped in to you at that very corner..
and also keep smiling, of course.. :-)
Seneng udh bisa mampir kesini, salam hangat dari Afrika Barat
--------------
PS: Ohya, Warung yang lama ini akhirnya kembali di buka, setelah lama di tinggal mudik.