Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2005

Good luck!

Pagi ini Deweu, sahabat saya sejak kuliah, pulang ke Bali. Dia adalah salah satu penerima beasiswa Sampoerna tahun ini. Rencananya bulan depan dia akan berangkat untuk melanjutkan sekolah di UCLA. Belakangan ini, dia adalah sahabat yang paling sering menemani saya jalan. Gak heran kalau dia memberi saya gelar 'default'. Default teman jalan, hehehe. Berbeda dengan Setio, sahabat saya yang sangat teratur dan apa2 dipikirin *kayak mikir negara*, teman saya yang satu ini lebih spontan dan gak terlalu pikir panjang untuk hal-hal tertentu. That's why mana kala saya tidak berani cerita tentang kelakuan saya ke Setio - demi menghindari helaan napas panjang, omelan, atau kata-kata 'no comment', Deweu yang menjadi tempat cerita saya. Biasanya dia hanya ketawa-tawa, atau malah menambah bumbu-bumbu ... Hmmm, ada a little bit rasa kehilangan juga. Gak ada teman yang nyamperin ke kost untuk sekedar nyari makan pagi, atau cerita-cerita bentar, sebelum kami masing-masing kembali ...

Pernahkah menatap orang terdekat ketika sedang tidur....

Kemarin saya mendapat email ini dari teman saya, Laras. Bagus dan menyentuh. Kalau belum, cobalah sekali saja menatap mereka saat sedang tidur. Saat itu yang tampak adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari seseorang. Seorang artis yang ketika di panggung begitu cantik dan gemerlap pun bisa jadi akan tampak polos dan jauh berbeda jika ia sedang tidur. Orang paling kejam di dunia pun jika ia sudah tidur tak akan tampak wajah bengisnya. Perhatikanlah ayah anda saat beliau sedang tidur. Sadarilah, betapa badan yang dulu kekar dan gagah itu kini semakin tua dan ringkih, betapa rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya, betapa kerut merut mulai terpahat di wajahnya. Orang inilah yang tiap hari bekerja keras untuk kesejahteraan kita, anak-anaknya. Orang inilah, rela melakukan apa saja asal perut kita kenyang dan pendidikan kita lancar. Sekarang, beralihlah. Lihatlah ibu anda. Hmm...kulitnya mulai keriput dan tangan yang dulu halus membelai- belai tubuh bayi kita itu, kini k...

Sekolah lagi

Satu keinginan lama yang saya coba wujudkan tahun ini adalah sekolah lagi. Dulu sekali ... (2002 - 2003), saya pernah mencoba mewujudkan mimpi saya ini. Tapi waktu itu tidak berhasil. Admission letter sudah ditangan, tapi apa daya, saya gagal dapat beasiswa. Sekarang saya coba sekali lagi. Berhubung umur sudah tambah tua ;), rasanya ini kesempatan terakhir untuk mencoba sekolah. Now or never. Bermula dari tawaran seorang teman lama beberapa bulan yang lalu untuk bekerja sebagai asisten riset dengan imbalan dibiayai sekolah S2 dan uang saku untuk biaya hidup, maka saya mulai mengurus tetek bengek yang diperlukan. Mulai dari test TOEFL (score saya yang lama sudah expired), cari surat rekomendasi, bikin motivation letter, nego dengan bokap nyokap, dan prentil-prentil yang lain. Sekarang semua sudah beres. Application package sudah dikirim, ijin dari ortu pun sudah keluar. Tinggal menunggu hasil, semoga kali ini saya sukses. Doakan saja ...

Sepotong pagi di kampus

Posting ini sudah ingin saya publish sejak seminggu yang lalu, tapi baru sempat sekarang. Sesampainya di Bandung pagi itu, saya bergegas ke stasiun bagian belakang untuk mencari angkot. Sesaat kemudian saya sudah duduk di angkot ungu Cisitu Tegallega yang dengan setia selama bertahun-tahun mengantar kami – para Cisituers – berangkat dan pulang kuliah. Banyak yang berubah di Bandung. Jalan layang Pasupati membelah daerah Kebon Bibit, membuat wajah daerah ini berubah total dibandingkan 4-5 tahun yang lalu. Menurut seorang teman, kemacetan di pintu keluar jalan layang sangat parah. Arus lalu lintas dan jalur angkot pun sudah berubah beberapa kali. Saya yang dari dulu tidak akrab dengan jalur angkot, makin bingung saja. Tapi untung, rute perjalanan saya ke Bandung tidak pernah aneh-aneh, hanya seputar Dago, dan tentu saja Cisitu :). Tapi ada yang tidak berubah dari kota ini, keramahannya, kesantaiannya, dan mojang- mojangnya yang pandai bersolek. Bahkan, di saat banyak orang mengeluh bah...
Senin - nomat di Setiabudi sama Susan. Selasa - olahraga, trus makan dan ngopi di Cikini bareng ma Deweu. Rabu - lembur, ketemu bentar ma Dik Ilud. Kamis - ke Bandung Jumat - cepat-cepat pulang, dan tidur, capek. Sabtu - bersih-bersih, jalan sama anak-anak kost. Minggu - ngopi lagi, sama adik-adik. Apa yang kamu cari Mita?

Salam perpisahan

Semua kenangan indah tentangmu yang terbingkai dalam jiwaku, Kini akan kulemparkan ke dalam sungai yang begitu dingin ini. Biar dia membunuh asaku, menyirnakan kehangatan yang sejenak pernah kauberikan, Membekukan semua luka yang timbul karenanya. Sehingga segala kesedihanku akan sirna, Segala kenangan tentangmu akan membeku, menjadi batu, hanyut dibawa arus. Ini hampir setahun sejak percakapan kita di gerai kopi larut malam itu. Pikiran jernih yang saling kita ungkapkan malam itu ternyata tak cukup memberikan kekuatan kepada saya untuk tidak mematahkan hati saya sendiri. Setahun berlalu, cinta saya belum terhapus, bahkan bertumbuh. Saya masih menunggu, berharap bahwa waktu dan cinta akan memihak kepada saya. Mungkin sekarang waktunya untuk melupakanmu, setelah setahun penantian yang sia-sia dan menyiksa.