Posting ini sudah ingin saya publish sejak seminggu yang lalu, tapi baru sempat sekarang.
Sesampainya di Bandung pagi itu, saya bergegas ke stasiun bagian belakang untuk mencari angkot. Sesaat kemudian saya sudah duduk di angkot ungu Cisitu Tegallega yang dengan setia selama bertahun-tahun mengantar kami – para Cisituers – berangkat dan pulang kuliah.
Banyak yang berubah di Bandung. Jalan layang Pasupati membelah daerah Kebon Bibit, membuat wajah daerah ini berubah total dibandingkan 4-5 tahun yang lalu. Menurut seorang teman, kemacetan di pintu keluar jalan layang sangat parah. Arus lalu lintas dan jalur angkot pun sudah berubah beberapa kali. Saya yang dari dulu tidak akrab dengan jalur angkot, makin bingung saja. Tapi untung, rute perjalanan saya ke Bandung tidak pernah aneh-aneh, hanya seputar Dago, dan tentu saja Cisitu :). Tapi ada yang tidak berubah dari kota ini, keramahannya, kesantaiannya, dan mojang- mojangnya yang pandai bersolek. Bahkan, di saat banyak orang mengeluh bahwa Bandung kian hari kian gerah dan macet, bagi saya kota ini tetap menyejukkan hati.
Tak terasa saya sudah sampai di depan BNI Taman Sari. Aduh, tumpukan sampah di fotocopy-an dekat pintu Kebun Binatang masih saja menggunung. Cepat-cepat saya berjalan menjauhinya, masuk ke kampus, tempat saya biasa memarkir motor dulu. Sekarang, parkiran motor dan mobil di depan kampus sudah tidak ada. Tempat itu sekarang menjadi lapangan rumput yang teduh, sangat teduh. Menyejukkan, tapi kalau malam pasti tambah menyeramkan karena banyak pohon-pohon besar, hahaha. Sebagai gantinya, ada parkiran baru di ujung kampus, pojokan antara jalan Taman Sari dan Ganesha. Lebih tertata, lebih teratur.
Mencoba mengingat kembali hari-hari saya dulu, saya berjalan perlahan-lahan menikmati kampus yang pagi itu masih sepi. Lapangan rumput di depan Teknik Sipil kini jadi lebih nyaman karena ada blok-blok untuk pejalan kaki. Tapi pasti tak bisa lagi digunakan untuk main sepak bola, hahaha. Bougenville ungu di atap gerbang Ganesha masih indah seperti dulu. Sejenak terdengar beberapa mahasiswa sedang sibuk dengan suatu acara di Aula Barat. Selasar Sipil dan Fisika pun masih sama, antik, adem, persis seperti ketika saya dan teman-teman saya menyusurinya dengan ribut dan penuh canda sehabis kuliah dulu. Hmmm, betapa menyenangkannya menghirup kembali aroma kampus ...
Sampai sudah saya di Labtek V. Tempat ini pun masih seperti dulu, bahkan mbak-mbak di fotocopy sebelah ruang himpunan pun masih sama. Bergegas saya ke lantai 4, ruang dosen. Tak ada yang berubah di lantai ini, pintu-pintu lab yang tertutup, gang yang sepi. Aduh, kalau saja saya orang asing yang tidak pernah mondar-mandir di sini, pasti saya bilang selasar ini sangat kaku dan tidak ramah. Untungnya setelah celingukan mencari ruang yang tepat, saya menemukan keramahan yang ditawarkan oleh dosen-dosen saya. Mungkin karena saya sudah bukan lagi murid mereka, kini mereka jauh lebih ramah, santai, dan bisa tertawa bebas tanpa harus menjaga wibawa hahaha. Sepotong pagi di kampus, memang menyenangkan.
Sesampainya di Bandung pagi itu, saya bergegas ke stasiun bagian belakang untuk mencari angkot. Sesaat kemudian saya sudah duduk di angkot ungu Cisitu Tegallega yang dengan setia selama bertahun-tahun mengantar kami – para Cisituers – berangkat dan pulang kuliah.
Banyak yang berubah di Bandung. Jalan layang Pasupati membelah daerah Kebon Bibit, membuat wajah daerah ini berubah total dibandingkan 4-5 tahun yang lalu. Menurut seorang teman, kemacetan di pintu keluar jalan layang sangat parah. Arus lalu lintas dan jalur angkot pun sudah berubah beberapa kali. Saya yang dari dulu tidak akrab dengan jalur angkot, makin bingung saja. Tapi untung, rute perjalanan saya ke Bandung tidak pernah aneh-aneh, hanya seputar Dago, dan tentu saja Cisitu :). Tapi ada yang tidak berubah dari kota ini, keramahannya, kesantaiannya, dan mojang- mojangnya yang pandai bersolek. Bahkan, di saat banyak orang mengeluh bahwa Bandung kian hari kian gerah dan macet, bagi saya kota ini tetap menyejukkan hati.
Tak terasa saya sudah sampai di depan BNI Taman Sari. Aduh, tumpukan sampah di fotocopy-an dekat pintu Kebun Binatang masih saja menggunung. Cepat-cepat saya berjalan menjauhinya, masuk ke kampus, tempat saya biasa memarkir motor dulu. Sekarang, parkiran motor dan mobil di depan kampus sudah tidak ada. Tempat itu sekarang menjadi lapangan rumput yang teduh, sangat teduh. Menyejukkan, tapi kalau malam pasti tambah menyeramkan karena banyak pohon-pohon besar, hahaha. Sebagai gantinya, ada parkiran baru di ujung kampus, pojokan antara jalan Taman Sari dan Ganesha. Lebih tertata, lebih teratur.
Mencoba mengingat kembali hari-hari saya dulu, saya berjalan perlahan-lahan menikmati kampus yang pagi itu masih sepi. Lapangan rumput di depan Teknik Sipil kini jadi lebih nyaman karena ada blok-blok untuk pejalan kaki. Tapi pasti tak bisa lagi digunakan untuk main sepak bola, hahaha. Bougenville ungu di atap gerbang Ganesha masih indah seperti dulu. Sejenak terdengar beberapa mahasiswa sedang sibuk dengan suatu acara di Aula Barat. Selasar Sipil dan Fisika pun masih sama, antik, adem, persis seperti ketika saya dan teman-teman saya menyusurinya dengan ribut dan penuh canda sehabis kuliah dulu. Hmmm, betapa menyenangkannya menghirup kembali aroma kampus ...
Sampai sudah saya di Labtek V. Tempat ini pun masih seperti dulu, bahkan mbak-mbak di fotocopy sebelah ruang himpunan pun masih sama. Bergegas saya ke lantai 4, ruang dosen. Tak ada yang berubah di lantai ini, pintu-pintu lab yang tertutup, gang yang sepi. Aduh, kalau saja saya orang asing yang tidak pernah mondar-mandir di sini, pasti saya bilang selasar ini sangat kaku dan tidak ramah. Untungnya setelah celingukan mencari ruang yang tepat, saya menemukan keramahan yang ditawarkan oleh dosen-dosen saya. Mungkin karena saya sudah bukan lagi murid mereka, kini mereka jauh lebih ramah, santai, dan bisa tertawa bebas tanpa harus menjaga wibawa hahaha. Sepotong pagi di kampus, memang menyenangkan.
Comments