Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2005

A step to leave a comfort zone

To : Shirley Shir, waktu kamu mutusin berangkat ke Prancis, ada rasa takut gak? Tapi dulu kamu banyak temen2 ya ... From : Shirley Kalo pengalaman saya ketika mutusin berangkat ke Perancis sih ngga ada takut2nya ... malahan seneng banget bisa dapet pengalaman ke luar negeri ... waktu itu bahkan belum tau akan ada temen2 yang barengan berangkat ... nekat khan padahal bahasa Perancis aja saya ngga bisa ... tapi memang waktu itu kayaknya perasaan seneng mengalahkan perasaan takut deh ... Jadi kamu pun jangan takut ... ini khan yang udah kamu tunggu2 selama ini, jangan sia2kan kesempatan ini ... selama ini kamu khan memang cari beasiswa dan ketika dapet jangan malah takut ... udah bosen dengan kerjaan yang sekarang juga khan jadi ini saat yg tepat juga ... Ok ?!! Let's go for it !!! From : Ovik Selamat ya Neng, akhirnya kesampaian juga. Aku iri sama kamu. To : Andro Benernya aku takut From : Andro Takutt ??? Buset ni anak, ngapain juga takut. Berangkat sana! Kalau takut biar aku aja ...

Seneng, Bingung, campur2 ...

Yesterday a big thing happened in my life. After several tries, I finally got a scholarship to continue get master degree in the School of Health and Rehabilitation Science, University of Pittsburgh. My first reaction is “WOW, I make it !!! But that euphoria didn’t last long. I suddenly realize that it is a very important step in my life. My decision whether to take the offer or to reject (stay here) will lead me to very different ways of life. Although I sometimes complain to my friends about how bored I am with my recent jobs : programming, debugging, trouble shooting – which is so exhausted – I know that what I have now is more than I need, even more, I get more than many other people. I have good-stable job, good salary (I am not saying it is great, but really really more than enough for a young single woman), although it is a loan, I also can afford myself to have a little house in Cimanggis – a suburban area south of Jakarta. I should gamble those things for my scholarship. For...

'Dirgahayu' Indonesia

Dua hari setelah perayaan 60 tahun Indonesia merdeka. Lima menit, bis yang saya tunggu belum juga datang. Sepuluh menit, saya semakin tidak sabar, haus dan gerah. Memang belum ada jam sembilan pagi, tapi udara di Sudirman sudah semakin pengap dengan asap knalpot kopaja, bis-bis besar, dan sepeda motor-sepeda motor yang berseliweran. Damned, kapan saya akan bisa menikmati pagi di Jakarta tanpa harus merusak paru-paru saya dengan polusi udara? Akhirnya saya memutuskan untuk membeli sebotol aqua. Tak lama setelah saya membeli aqua dari ibu-ibu pedagang asongan yang mangkal di sebelah saya, tiba-tiba ibu itu melambai-lambaikan tangan. “Hush-hush, sana, pergi”. “Ada apa, Bu? “ “Itu, ada tramtib”. “Oooh, sering dikejar tramtib Bu?” “Yah, begitulah. Kalau dikejar, kita lari kayak maling. Padahal kita kan nggak jualan buat beli mobil. Kita cuma mau ngumpulin uang buat beli buku.” “Ooh, buat buku anak-anak ya Bu? Berapa anaknya?” “Dua mbak, satu SD, satu SMP. Anak SD aja sekarang bukunya udah ...

Kate Winslet - What If

Tadi malem nonton video musiknya di channel-V ... Here I stand alone With this weight upon my heart And it will not go away In my head I keep on looking back Right back to the start Wondering what it was that made you change Well I tried But I had to draw the line And still this question keeps on spinning in my mind What if I had never let you go Would you be the man I used to know If I'd stayed If you'd tried If we could only turn back time But I guess we'll never know Many roads to take Some to joy Some to heart-ache Anyone can lose their way And if I said that we could turn it back Right back to the start Would you take the chance and make the change Do you think how it would have been sometimes Do you pray that I'd never left your side What if I had never let you go Would you be the man I used to know If I'd stayed If you'd tried If we could only turn back time But I guess we'll never know If only we could turn the hands of time If I could take you back ...
Pernahkah nilai-nilai yang kamu percayai sekarang tiba-tiba kamu pertanyakan validitasnya? Ketika rasa aman hilang, kepercayaan runtuh, dan banyak pertanyaan tak terjawab oleh nilai-nilai itu?

Menanti pelangi

Aku menanti kembalinya matahari, kilau cemerlang yang meriangkan hati ... Menyinari buliran air di ujung daun, memahkotai pagi dengan cahayanya ... Aku menunggunya menghalau hujan yang turun membadai ... Berharap pelangi terlukis, langit merona berwarna-warni ... Ya, aku berharap suatu saat gemuruh di hatiku akan berlalu ... Aku berharap untuk terbangun di pagi yang cerah, seperti ceritaku ... Kapankah pagi itu akan datang dalam hidupku ?

Selamat Ulang Tahun 'Nd** ...

Selamat ulang tahun 'Nd**, time really flies, tak terasa ini tahun ke 3 sejak perkenalan kita dulu. Banyak hal berubah, aku dan kamu yang sekarang bukan lagi aku dan kamu yang dulu. Kamu sekarang seorang suami, kepala rumah tangga, mungkin tak lama lagi akan ada yang memanggilmu 'Bapak'. Aku juga bukan aku yang dulu. Aku masih berusaha mencari ke mana jalan akan membawa langkahku, tapi ada banyak hal yang berubah. Kita juga sudah tak mungkin tertawa berdua seperti dulu lagi. Tapi ada hal yang tak berubah. Kamu tetap teman yang baik, yang mau mendengarkan keluh kesahku. Hmmm, I wish you were here, menemaniku dengan secangkir kopi dan sepiring pisang bakar lagi. Mendengar keluh kesahku yang tak berujung tentang 'dia', yang masih saja mengisi hatiku. 'Dia' yang menggantikan sosokmu di hatiku. Setahun yang lalu, akhirnya aku berhasil melupakan 'cerita kita'. Setahun yang lalu, dia menambatkan hatiku. 'Nd**, apa yang harus aku lakukan untuk melupakann...

Di penghujung hari

Malam semakin larut, tapi saya yakin, di luar sana kehidupan masih hiruk pikuk. Jakarta tidak akan pernah tidur, walaupun dia kelelahan menanggung sekian juta orang yang bergantung padanya. Kesibukan kota ini dengan setia menemani saya, dimulai dengan hiruk pikuknya suasana kost di pagi hari : tawa pembantu kost, musik dari kamar sebelah, atau teriakan anak ibu kost - yang membangunkan saya. Lalau datanglah kesibukan di kantor, telpon berdering-dering, email-email yang memerlukan response, dan sejumlah problem dari customer yang harus dihadapi. Dan kemudian senja pun tiba, suasana berganti, tetapi tetap dalam hiruk pikuknya kota yang selalu terjaga. Semua hiruk pikuk itu baru berakhir di penghujung hari, ketika saya meluangkan waktu untuk diri sendiri, seperti saat ini. Yang tersisa adalah kesunyian di penghujung hari, bercampur rasa lelah, penat, dan sedikit pegal-pegal. Dalam kesunyian itu sebuah sosok tiba-tiba berkelebat di benak, menggoda rindu. Membawa saya kembali ke angan tak b...