Malam semakin larut, tapi saya yakin, di luar sana kehidupan masih hiruk pikuk. Jakarta tidak akan pernah tidur, walaupun dia kelelahan menanggung sekian juta orang yang bergantung padanya. Kesibukan kota ini dengan setia menemani saya, dimulai dengan hiruk pikuknya suasana kost di pagi hari : tawa pembantu kost, musik dari kamar sebelah, atau teriakan anak ibu kost - yang membangunkan saya. Lalau datanglah kesibukan di kantor, telpon berdering-dering, email-email yang memerlukan response, dan sejumlah problem dari customer yang harus dihadapi. Dan kemudian senja pun tiba, suasana berganti, tetapi tetap dalam hiruk pikuknya kota yang selalu terjaga.
Semua hiruk pikuk itu baru berakhir di penghujung hari, ketika saya meluangkan waktu untuk diri sendiri, seperti saat ini. Yang tersisa adalah kesunyian di penghujung hari, bercampur rasa lelah, penat, dan sedikit pegal-pegal. Dalam kesunyian itu sebuah sosok tiba-tiba berkelebat di benak, menggoda rindu. Membawa saya kembali ke angan tak berujung yang tak terengkuh.
Semua hiruk pikuk itu baru berakhir di penghujung hari, ketika saya meluangkan waktu untuk diri sendiri, seperti saat ini. Yang tersisa adalah kesunyian di penghujung hari, bercampur rasa lelah, penat, dan sedikit pegal-pegal. Dalam kesunyian itu sebuah sosok tiba-tiba berkelebat di benak, menggoda rindu. Membawa saya kembali ke angan tak berujung yang tak terengkuh.
Comments