Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2005

Ojo ngawur ...

Eventhough I did enjoy my coming home last weekend, pulang ke Jogja weekend kemaren benar2 melelahkan. Thanks to Perumka, hari gini masih ada aja kereta anjlok :( I got stucked for 3 hours in Gambir, then decided to go home and got a flight instead of train. Mau ngirit malah jadi boros ke mana2 deh, hehehe. Seperti sudah diduga, keputusan saya untuk berangkat ke negeri nun jauh di sana membuat saya banyak menuai pertanyaan dan petuah-petuah sepanjang kepulangan kemaren, hahaha. Mulai dari komentar standar seperti "Ntar cari cowok bule deh di sana" sampai petuah yang agak-agak ajaib dari mama, yang kayaknya kuatir anak sulungnya yang bandel ini berniat gak pulang, hehehe. "Neng kono ojo ngawur, ngati-ati ..." "Heh? Ngawur gimana?" "Ojo ora bali ..." "Lha kalo aku dapet kerjaan di sana mosok gak boleh ?" "Ngawur. Wong duwe omah ya bali ... " Diam, senyap. Mendingan tidak menjawab, hanya menambah kekuatiran mama yang gak perlu. ...

Beruntung

Hp saya bergetar, Kalista, adik sahabat saya: "Mbak, aku keterima kerja di Jkt, weekend ini temenin aku nyari kontrakan buat aku dan Mama ya ..." . Jadilah hari Minggu itu saya menemaninya hunting rumah kontrakan. Setelah berputar-putar tanpa hasil, kami memutuskan pergi ke daerah Senopati untuk cari kost instead of rumah kontrakan, at least untuk satu bulan pertama. Beruntunglah kami, it's just the very right time ketika saya menelpon Mr. Sibuk :), sahabat saya yang pernah kost di daerah itu. Si bapak itu pas sekali mau mengambil beberapa barangnya yang tertinggal di kost lama, jadilah dia mengantar kami ke sana. Meluncurlah kami ke Senopati, walaupun dengan perasaan sangsi karena kost tersebut terkenal laku keras. Sesampai di sana, ternyata ada kamar kosong. Tepat hari itu ada yang barusan ‘dipaksa pindah’ oleh ibu kost, hehehe. Keberuntungan kedua … “Ck ck ck, anak ini keberuntungannya bagus banget ya. Everything is just at the right time, hehehe”, kata saya. Koment...

Obat buat kepala saya yang nyut-nyutan

Pagi ini saya terbangun dengan kepala pusing dan perasaan konyol sekalee gara-gara kejadian semalam. Gara-gara address book yang hilang, saya baru sadar semalam bahwa beberapa hari ini saya sms-an dengan orang yang salah :p Duh, konyol banget rasanya Pantesan ada sesuatu yang rasanya salah, gaya kalimatnya di sms kok beda banget dengan gaya bicaranya waktu saya ketemu dengan orang itu berbulan-bulan yang lalu. *Ini pun saya cuma samar-samar ingat, hahaha* Saya jadi senyum-senyum sendiri. Kemarin memang banyak kejadian2 yang bikin ketawa sendiri, salah satunya di pagi hari, sebuah pesan masuk ke kotak surat. Ucapan terima kasih dari seorang sahabat. Sekilas saya baca, saya tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum dan tertawa membacanya, “Mit, sadar gak sih kalau kamu jadi malaikat buat kami selama ini ?” Huahahaha, jangan hiperbola gitu dong! I am far from angelic, tak ada aura memancar di sekitar kepala saya, dan saya lebih cocok digambarkan dengan tanduk di kepala, tertawa nyengi...

Another good book

Kemarin saya diprotes bapak ini karena posting saya yang sentimentil ;), hahaha. Oke deh, daripada bermelodrama, sebenarnya saya berniat memposting tentang buku yang sedang saya baca : Heroic Leadership , by Chris Lowney . Buku ini direkomendasikan oleh seorang teman lama, Sigit. Thanks ya Git! Tapi karena belum selesai baca dan sedang malas membuka notebook untuk sekedar membuat resensi, nanti saja ya!

Sepinya …

Hiruk pikuk perjalanan mulai berakhir. Satu per satu teman dan sahabat seperjalanan saya berbelok, menemukan teman berbagi, kemudian membelok menuju sebuah tempat yang bernama ‘harmoni’, ‘relationship’. Dewi, sahabat saya, akhirnya menemukan pencahariannya. Seorang teman lain yang dulu pernah ada di hati bahkan kini sedang menanti kehadiran anak-anak pertamanya, kembar :) – saya tersenyum membayangkan kelucuan anak-anak itu kelak, sekaligus merasa perih dan sesak di dada. Sepasang teman lama saya tampaknya kembali bersama (I’m happy for you guys :). Salah seorang sahabat terdekat saya menemukan cintanya pada seorang anak SMA (no offense :). Saya? Masih begini-begini saja. Sendiri, betul-betul sendiri. Laki-laki yang saya pernah temui di simpang jalan itu pun entah ke mana. Ada, tapi bahkan untuk menyapanya pun saya tak berani. Saya ingin tahu, tapi tak punya keberanian untuk bertanya, “Sudah kah kamu bertemu perempuan yang kau cintai?” Saya, tenggelam tak berkesudahan, selalu menengok ...