Hiruk pikuk perjalanan mulai berakhir. Satu per satu teman dan sahabat seperjalanan saya berbelok, menemukan teman berbagi, kemudian membelok menuju sebuah tempat yang bernama ‘harmoni’, ‘relationship’.
Dewi, sahabat saya, akhirnya menemukan pencahariannya. Seorang teman lain yang dulu pernah ada di hati bahkan kini sedang menanti kehadiran anak-anak pertamanya, kembar :) – saya tersenyum membayangkan kelucuan anak-anak itu kelak, sekaligus merasa perih dan sesak di dada. Sepasang teman lama saya tampaknya kembali bersama (I’m happy for you guys :). Salah seorang sahabat terdekat saya menemukan cintanya pada seorang anak SMA (no offense :).
Saya? Masih begini-begini saja. Sendiri, betul-betul sendiri. Laki-laki yang saya pernah temui di simpang jalan itu pun entah ke mana. Ada, tapi bahkan untuk menyapanya pun saya tak berani. Saya ingin tahu, tapi tak punya keberanian untuk bertanya, “Sudah kah kamu bertemu perempuan yang kau cintai?” Saya, tenggelam tak berkesudahan, selalu menengok ke belakang. Hati saya tercuri, dan tak kunjung kembali.
Saya takut.
Dewi, sahabat saya, akhirnya menemukan pencahariannya. Seorang teman lain yang dulu pernah ada di hati bahkan kini sedang menanti kehadiran anak-anak pertamanya, kembar :) – saya tersenyum membayangkan kelucuan anak-anak itu kelak, sekaligus merasa perih dan sesak di dada. Sepasang teman lama saya tampaknya kembali bersama (I’m happy for you guys :). Salah seorang sahabat terdekat saya menemukan cintanya pada seorang anak SMA (no offense :).
Saya? Masih begini-begini saja. Sendiri, betul-betul sendiri. Laki-laki yang saya pernah temui di simpang jalan itu pun entah ke mana. Ada, tapi bahkan untuk menyapanya pun saya tak berani. Saya ingin tahu, tapi tak punya keberanian untuk bertanya, “Sudah kah kamu bertemu perempuan yang kau cintai?” Saya, tenggelam tak berkesudahan, selalu menengok ke belakang. Hati saya tercuri, dan tak kunjung kembali.
Saya takut.
Comments