Skip to main content

Do you have any experiences with people with disabilities?


Do you have any experiences with people with disabilities? No, I don't. This is my first time. Namanya saja sekolah di School of Health and Rehabilitation Science, no wonder lah kalau di kampus kami banyak bertemu dan berinteraksi dengan people with disabilities.

Yesterday, I went late for a class : Human Resources in Health Care System. I completely forgot that there would be a guest lecturer conducting the class, and the place was also moved to the other part of the city, not in the campus area :) Oh well, let's say it's an opportunity to explore Pittsburgh, hahaha. The guest lecturer was Lucy Spruil, director of UCP Pittsburgh (United Celebral Palsy of Pittsburgh). UCP is a non-profit organization who helps the society by providing facilities for people with disability. In fact, Lucy herself uses wheel chair.

Dalam kuliah kemarin, mungkin saya adalah orang yang paling awam, paling tidak punya pengalaman berinteraksi dengan people with disability. Di Indonesia, at least di lingkungan saya, kesempatan untuk berinteraksi dengan people with disability bisa dibilang nol besar. Seumur hidup saya hanya kenal tidak lebih dari 5 orang mungkin. And that's all about the opportunity and facilities provided for them, which is almost zero.

Ingat halte busway di depan Sarinah? Desainnya sudah bagus, ada lift sehingga orang yang memakai kursi roda bisa naik turun dengan mudah. Prakteknya? Lift itu tidak difungsikan sama sekali :( Belum lagi trotoar yang naik turun, yang tidak memungkinkan orang berkursi roda lewat dengan mudah, salah-salah malah keseruduk motor2 yang merebut trotoar dari para pejalan kaki.

Kuliah kemarin sebenarnya berhubungan dengan employment. Berbeda dengan di Indonesia, people with disabilities di Amerika benar-benar mendapatkan tempat dan kesempatan yang sama - mulai dari hal2 sederhana seperti menggunakan fasilitas umum, sampai kesempatan untuk bekerja. Nah, karena kesadaran yang tinggi tersebut lah, maka ada bahan kuliah tentang employment terhadap people with disabilities. Apa-apa saja yang menjadi hak dan kewajiban employer dan employee.

Menarik, sungguh menarik. Di sini saya baru tahu kalau seseorang bisa menggugat perusahaan, atau malah pemerintah ke pengadilan kalau dia tidak diterima kerja karena disability yang dimilikinya. Disability sendiri macam2, mulai dari diabetes, sampai hal-hal yang sudah jamak seperti penggunaan kursi roda. Ada kasus, seseorang melamar kerja menjadi polisi di sebuah kota, dan dia tidak diterima karena alasan diabetes yang dideritanya. Pada prinsipnya disability yang dimiliki oleh seseorang tidak boleh menghalangi ia dari fungsi yang harus ia lakukan pada pekerjaannya tanpa membahayakan dirinya dan orang lain. Dan dalam hal ini kasus menjadi bias. Seseorang dengan diabetes kronis bisa kehilangan kontrol tiba2, dan bisa dibayangkan apa jadinya kalau hal tersebut terjadi pada seorang polisi. Yang lucunya, si orang itu sudah berpengalaman 10 tahun jadi polisi di kota lain, hahaha. Dan baik2 saja. Dengan landasan itulah dia menggugat, dan dia menang.

Well, benar2 hal yang baru bagi saya. Contohnya dalam sebuah interview. Kalau ada seorang pelamar yang cacat, kamu sebagai seorang interviewer tidak boleh bertanya tentang kecacatannya. Kamu boleh bertanya tentang kapabilitas dia untuk melakukan pekerjaan, tapi tidak boleh mengungkit-ungkit kecacatannya. Contoh ekstremnya, kalau ada orang berkursi roda melamar jadi pelatih bola basket ;) - it's weird isn't it? Tapi tetap saja kamu tidak boleh bertanya hal-hal yang 'fisik' seperti kenapa kamu cacat, treatment apa saja yang kamu jalani, etc. TAPI interviewer boleh meminta dia untuk mendemonstrasikan kemampuan dia yang berhubungan dengan pekerjaan - dengan atau tanpa alat bantu. Dengan kata lain, boleh saja dia diminta untuk melakukan lemparan three point, atau slam dunk untuk membuktikan kemampuannya.It's interesting, isn't it :) ?

Tak hanya menarik, tapi juga menyentuh begitu dalam. Betapa penghargaan terhadap sesama dan kesamaan hak betul-betul dijunjung tinggi di sini. Ada contoh lucu yang diceritakan kemarin. Hal-hal apa sih yang boleh kamu tanyakan ke orang cacat, dan apa yang tidak boleh? Well, just ask them the question which is appropriate for people without disability. Contohnya : bertanya apakah mereka butuh bantuan, itu sopan dan appropriate, tapi kalau mereka bilang NO, then it means they don't need any help. Lucy cerita dia pernah pergi ke sebuah conference, dan ketika ia pergi ke toilet, co-workernya bertanya apakah dia butuh bantuan. She said no, tapi co-worker itu bertanya lagi dan bertanya lagi sampai 4x. Akhirnya, karena merasa bahwa kalau dia jawab no lagi si co-worker itu akan merasa menjadi bad person, akhirnya Lucy mengarang-ngarang alasan dia butuh dibantu untuk melakukan sesuatu, hehehe. Lalu si co-worker itu bertanya, "Well, what will you do if there's nobody to help you ?" Lucy can only smile about that, hahaha.

Hmm, benernya banyak hal menarik yang masih bisa dieksplore dan diceritakan. Tapi next time lah ya, I want to go to the gym :)

Comments

Anonymous said…
hahaha, i just knew that u own a blog!!!

ray
Ocha said…
Hai... salam kenal aja yah... bagus cerita postingannya loh, Ocha
mama ayu said…
mbak asih,salam kenal yahh..
punya buku2 yg bagus ttg anak DS gak? klu ada, mau donk dishare..
klu lulus nanti (Amienn), bidang kerjanya dimana sih?sori bolot coz bidang ilmunya jarang ada di Ind..
thanks yah..

Popular posts from this blog

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

Turned out alright

Last week everything turned out alright :) Jumat siang, dengan restu teman2 kantor :p gw cabut dari kantor, walaupun area leader gw ngajakin meeting buat next recipe, tapi dia bilang "Go ahead and don't worry about the meeting, you better get your license today :p" . Jam 12.30an, gw dijemput sama orang dari driving school, dan ngebutlah kita ke DMV Norristown ngejar ujian jam 2 siang. Gw deg2an banget, apalagi karena udah gagal 1x. Kalau gw fail lagi, means that I screw everything up. Karena in the next four weeks para tebengan bakalan cabut ke site di Oregon (gak mungkin kan gw jalan 2 mile ke kantor), kontrak apartment gw habis akhir September dan gw harus cari apartment baru, dan ada chance gw bakalan dikirim ke Oregon juga (walaupun bukan shift pertama). Tapi above it all, hidup tergantung sama orang lain itu sucks. Gw gak bisa bebas ke mana-mana, gak bisa cari kegiatan dan temen2 sendiri (temennya ya cuman temen dari temen gw), gak ada social life sama sekali. Nyampe...