Skip to main content

Dunia yang lain

Saya terlempar ke dunia yang lain, masih saja saya merasa begitu.

Saya terlempar ke tempat berhawa dingin, dengan butir-butir salju yang jatuh di atas overcoat hitam yang saya pakai. Betapa berbedanya dengan matahari tropis yang selalu membuat saya berkeringat, membasahi t-shirt yang sehari-hari saya pakai di Jakarta.

Cepat-cepat saya bergegas melangkah. Langkah saya pendek-pendek, berbeda dengan kebanyakan orang yang saya jumpai di sini. Langkah mereka panjang dan cepat. Mau tak mau saya harus mempercepat langkah saya, alasannya sepele, dingin :)

Saya juga berada di lingkaran teman-teman baru, kebiasaan hang out baru. Kalau dulu kopi, film, dan buku menjadi favorit saya; sekarang mereka mengajak saya hang-out, ke lounge, minum satu dua teguk untuk menghangatkan badan, sembari mengobrolkan rencana main ski, atau mengobrolkan american football yang masih juga tak saya pahami.

Saya mencoba beradaptasi. Mencoba menonton american football di TV(kemarin Steeler main, kehidupan terhenti sejenak di Pittsburgh). Tapi karena nontonnya sambil browsing dan memasak, akhirnya semua kacau :p Gamenya saya gak ngerti, browsingnya gak nemu-nemu, dan rendang saya nyaris gosong, hahaha.

Mencoba mengenal lebih baik. Kadang-kadang saya sok akrab mengajak teman sekelas mengobrol, tapi di waktu yang lain saya masih juga belum percaya diri dengan bahasa inggris saya yang serampangan ini :) Mengenal lebih banyak suku dan bangsa di dunia ini. Ada teman dari Kuwait (baru tau saya kalau perempuan Kuwait itu maju2), ada profesor dengan nama khas Eropa Timur, ada teman-teman baru dari Taiwan, Cina, dan Korea. Beragammm, sungguh beragam.

Dan kemarin, saya menemukan sebuah kapel kecil yang mengingatkan saya pada kapel GEMA. Kapel kecil di University of Dusquene (bener gak ya nulisnya), dengan koor yang syahdu seperti koor para frater di GEMA, ada juga piano, biola, dan klarinet. Kapel kecil yang membawa saya kembali kepada kesadaran saya. Tuhan, sungguh saya tak percaya ini semua.

Saya akan baik-baik saja. Kerja keras, itu pasti, tapi saya akan baik-baik saja.

Comments

Popular posts from this blog

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

Turned out alright

Last week everything turned out alright :) Jumat siang, dengan restu teman2 kantor :p gw cabut dari kantor, walaupun area leader gw ngajakin meeting buat next recipe, tapi dia bilang "Go ahead and don't worry about the meeting, you better get your license today :p" . Jam 12.30an, gw dijemput sama orang dari driving school, dan ngebutlah kita ke DMV Norristown ngejar ujian jam 2 siang. Gw deg2an banget, apalagi karena udah gagal 1x. Kalau gw fail lagi, means that I screw everything up. Karena in the next four weeks para tebengan bakalan cabut ke site di Oregon (gak mungkin kan gw jalan 2 mile ke kantor), kontrak apartment gw habis akhir September dan gw harus cari apartment baru, dan ada chance gw bakalan dikirim ke Oregon juga (walaupun bukan shift pertama). Tapi above it all, hidup tergantung sama orang lain itu sucks. Gw gak bisa bebas ke mana-mana, gak bisa cari kegiatan dan temen2 sendiri (temennya ya cuman temen dari temen gw), gak ada social life sama sekali. Nyampe...