Skip to main content

Drinking habit ... messy or acceptable ?



Temans, ada yang mengganggu pikiran saya sejak tadi malam. Mungkin bercerita di sini akan sedikit meringankan ...

Pindah dari Jakarta ke Pittsburgh, salah satu perbedaan budaya yang saya temukan adalah drinking habit. Sebelum bercerita lebih lanjut, mungkin saya harus sedikit menjelaskan apa yang biasa bagi saya waktu di Indonesia.

Di tengah keluarga yang agak super kolot, saya tumbuh sebagai remaja saya bersih dari minuman keras, rokok, dan obat-obatan. Pengalaman saya hanyalah ingatan sepotong-sepotong tentang teman SMA saya yang duduk dengan mata merah di ruang ekstrakurikuler, dan saya tahu dia baru saja minum minuman keras. Atau sekali dua kali om-om saya membeli bir ketika ada acara keluarga besar. Itupun saya tidak pernah sekalipun mencobanya. Mama saya galak.

Baru setelah bekerja, saya mulai mencicipi alkohol. Diawali dengan sekali dua kali ditraktir teman, lalu ditambah dengan kebiasaan kumpul2 bersama adik dan sepupu2 saya di Matraman. Kadang-kadang, kalau lagi pusing, saya bilang ke adik saya, saya mau ke Matraman ya, kita minum-minum yuk. Tapi itu cuma celetukan iseng yang meaningless. Memang, saya selalu nimbrung kalau adik dan sepupu2 saya minum. Tapi itu tidak membuat saya menjadi a big fan of alcohol. Kalaupun minum, saya hanya minum di rumah sepupu saya, bukan di nightclub atau tempat publik lainnya.

Lalu Desember yang lalu saya pindah ke Pittsburgh. Malam tahun baru saya habiskan dengan clubbing di night club. Minggu berikutnya, saya clubbing lagi. Well, OK lah, anggap saja adaptasi, saya harus lihat sana sini. But I never really enjoy clubbing. Kalaupun saya pergi clubbing, itu sebatas untuk ketemu orang saja ...

Dan tadi malam ada kejadian yang membuat saya sangat sedih ... Karena tadi malam adalah special occasion, ulang tahun seorang teman, pergilah saya dan teman-teman clubbing. Seorang sahabat baik pick me up. He drinks socially, but he knows the limit. Well, that is good enough.

Mmm, teman baik saya ini bisa dikategorikan gampang memikat hati banyak orang. A real gentleman, caring, cute. Since the first time, I was impressed of him. Tapi tadi malam, he almost drove me crazy. Pertama, he exceeded the limit. Kedua, dia nyetir (he drove me home). Ketiga, he became a very different person when he drunk. Well, everybody does. Dan walaupun dia cuma sebatas jadi cerewet, bawel, dan reseh, still, I never expect to see him like that. It really broke my heart.

Tadi malam, dia berubah dari cowok sopan yang gentle menjadi cowok super bawel dengan kata2 yang penuh dengan awalan 'f', teriak-teriak sepanjang jalan, asking hugs from everyone (untung nggak asking kiss from me, hehehe), pokoknya, reseh, cerewet, dan annoying. That was my first time (hopefully the last time) I see him that way. Mungkin saya cuma shock, karena beberapa sahabat dekatnya meyakinkan saya bahwa dia cuma sebatas ngaco di omongan, tapi masih ok dan bisa nyetir dengan aman (fiuhhh, he drove home safely). But still, kelakuan dia tadi malam masih shocking bagi saya.

What if he suddenly lose control while driving? Gimana kalau dia digebukin orang gara-gara teriak-teriak tidak karuan?

Begonya lagi, saya tidak bisa nyetir mobil. (Well, saya pernah belajar, beberapa tahun yll.) So, I can not drove him home. Dan karena dia sendirian, jadilah saya menemani dia menyetir dari nightclub sampai tempat makan (iya, subuh2, kita cari makan dulu). I insisted him to go only on 50 km/hours, he made it, but still, hhhhh. Gw geregetan. Hhh, moral of the story, harus belajar nyetir nih.

Dan itu sangat mengganggu pikiran saya seharian ini. All I know is, the alcohol just make him looks stupid, idiot. But, what can I do for him? Menasehati dia? I am nobody. Tadi pagi, beberapa kali saya minta dia berjanji bahwa ini terakhir kali saya melihat dia seperti itu. Tapi, apa omongan saya betul-betul didengar olehnya?

Hey, kamu. Saya sayang kamu, kamu harus dengar itu. Saya tidak ingin melihat kamu messed up seperti tadi malam lagi :( You broke my heart ...

Comments

Anonymous said…
Gue sekarang udah ga pernah minum lagi, walaupun dulu pernah, simply krn itu bertentangan dgn kepercayaan gue. Tapi gue bisa menerima kalo ada orang lain minum.

Walaupun gitu, gue tetep susah nerima kondisi mabuk. Menurut gue sih, semua orang harus tau batasnya masing2. Tapi it's easier said than done. Kadang dalam situasi tertentu, dalam kondisi emosi tertentu, orang bisa 'lepas kendali'. Rocker juga manusia kan.. hehehe..

Intinya sih gue setuju sama Mita. Bahwa liat orang mabok, apalagi temen yg kita sayang dan biasanya baik banget, itu bikin ilfil berat!
Anonymous said…
aduuh... this writing makes me want to drink.. :p maybe then someone will say.. "aku sayank kamu" beibeh..
hue hue hue.. so lucky. :p
tenang.. he wasn't "That" drunk.
otherwise, I would already took him home. He was half-half. *nyetirnya masih lurus*.
I believe I knew him well enough to say it's safe for him to drive that night.

on the contrary, we all have the "inner self" that needs to be unleashed at times.. and last night at the club, he released what needs to be released.. so that's all good to me. :)

ps: he was only talking much.. if I was drunk, I started grabbing people to start a fight. I guess you know which one is better. :)
Mita said…
yanti : hihihi, bener mbak, rocker juga manusia. jadi kangen ma lagu itu euy, hahaha.

piyoimut : huehuehue, elu ada2 aja yaa. anyway, yep, you said so that night. thanks :), it made me feel better.
varenti said…
Just wanna say... aku sudah jarang minum lagi lho.... tapi adikmu masih minum :)
Sometimes drinking is the way to forget that we live in complicated world

Popular posts from this blog

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

Turned out alright

Last week everything turned out alright :) Jumat siang, dengan restu teman2 kantor :p gw cabut dari kantor, walaupun area leader gw ngajakin meeting buat next recipe, tapi dia bilang "Go ahead and don't worry about the meeting, you better get your license today :p" . Jam 12.30an, gw dijemput sama orang dari driving school, dan ngebutlah kita ke DMV Norristown ngejar ujian jam 2 siang. Gw deg2an banget, apalagi karena udah gagal 1x. Kalau gw fail lagi, means that I screw everything up. Karena in the next four weeks para tebengan bakalan cabut ke site di Oregon (gak mungkin kan gw jalan 2 mile ke kantor), kontrak apartment gw habis akhir September dan gw harus cari apartment baru, dan ada chance gw bakalan dikirim ke Oregon juga (walaupun bukan shift pertama). Tapi above it all, hidup tergantung sama orang lain itu sucks. Gw gak bisa bebas ke mana-mana, gak bisa cari kegiatan dan temen2 sendiri (temennya ya cuman temen dari temen gw), gak ada social life sama sekali. Nyampe...