Skip to main content

Let's share our dream!

Meneruskan estafet dari Ulus saya mau menceritakan mimpi2 saya - yang belum kesampaian - di sini :)

Saya ingin ke Lourdes. Walaupun saya bukan orang yang religious, saya penasaran dengan tempat yang menjadi magnet bagi umat katolik itu. Waktu kecil, saya mendapat kartu pos dari papa yang sedang tugas belajar di Prancis. Salah satu gambar di kartu pos itu adalah tubuh Bernadette, yang sampai sekarang terbaring di peti kaca dengan damai, tidak membusuk. Saya ingin menyaksikannya langsung, bukan dengar dari cerita orang lain :)

Salah satu impian kecil saya adalah rumah kecil yang nyaman. Si mungil ini adalah hasil kerja keras saya, yang belum sempat saya nikmati :( dan sekarang dikontrak oleh orang lain. Well, karena keterbatasan dana, tentu saja tidak persis seperti idaman saya. Tapi, kalau suatu saat nanti saya punya cukup uang dan ingin menempati rumah itu, salah satu yang pengen saya lakukan ialah menata dapurnya, dengan kitchen set yang praktis, tapi menarik. Keinginan ini makin bertambah ketika saya pindah ke pittsburgh dan tinggal di apartment dengan dapur yang cukup lengkap. Kesan pertama, menyenangkan. Tapi waktu saya berkunjung ke apartment teman2 saya, wow, dapur2 yang mereka miliki, benar2 dapur impian.

Saya pernah bercerita tentang lemari buku besar berwarna biru muda, yang ada di ruang kerja orang tua saya di rumah Jogja. Suatu saat nanti, saya akan memiliki lemari yang mirip. Menyenangkan, melihat buku-buku kesayangan saya ada di dalamnya. Siapa saja boleh pinjam, asal dikembalikan :)
Omong2 soal buku, sesudah saya mendapat gaji pertama, saya sudah membeli buku pertama saya di Pittsburgh "The Pligrim, by Paulo Coelho" - mumpung di US banyak2 buku bagus :)

Impian saya yang lain adalah 2 anak kecil yang lucu sebagai buah hati saya. Sang kakak adalah anak lelaki dengan tampang cerdas dan bandel. Adiknya adalah anak perempuan yang manis, dengan mata belok dan rambut ikal :) - mungkin ini obsesi pribadi, karena lahir sebagai anak sulung, hahaha. Dalam bayangan saya, saya sedang menggendong anak perempuan itu, sementara kakaknya sedang memegang bola. Dan suami tercinta *ya iyalah :D* ada di samping saya :p Well, yang ini kayaknya berat deh, harus nemu yang mau jadi bapaknya anak2, hahaha.

Last but not least mmmm, saya bermimpi untuk berkumpul lagi dengan keluarga yang saya cintai :) Either di Jogja, Jakarta, Pittsburgh, atau jalan2 bareng ke manaaa gitu.

Anyway, seharusnya saya banyak bersyukur, sebagian impian masa kecil saya sudah terwujud :) Well, Dia Yang Di Atas selalu memanjakan saya. Nah, sekarang, siapa mau membagi mimpi2nya? Oke, saya akan memforward tulisan ini ke Deweu, Setio, Kiky, DewiNug, dan Joek, hopefully mereka juga mau membagi mimpi mereka, dan meneruskannya ke orang lain :)

Comments

andersonite said…
Mimpiku adalah menjadi bapaknya anak2nya Mita yang lucu2 itu. Huehehe. Boleh nggak?

Popular posts from this blog

Thanksgiving 2020

What a crazy ride we have been riding in 2020. The COVID-19 pandemic has pretty much put our life on hold, if not going on a slower pace. I feel that we are running a marathon, and it's not over yet. The emotional toll that we have been experiencing since March is real. Everything that we used to take for granted, like meeting up with friends, birthday parties, kids activities, traveling, the convenience of doing grocery shopping anytime we want, a lot of them have been taken away from us, from my family. No more parties, no more lunch or dinner with friends, no more invitation for birthday parties, no more traveling. Perhaps my life had become too easy before the pandemic. We had to switch Nathaniel from a brick and mortar school to a cyber school. I tried to plan my grocery trips ahead of time to avoid crowds. We had to wear masks everywhere. But at least we are healthy. At least I am facing this together with my husband and kids as a family. At least I am at home that is fu...

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

What would they decide ?

When I was a little girl, I heard a lot of stories about far-away lands from my mother. She told me stories that she got from my father's letters when he was away. Our family was apart for four years. My father went to school to Montpelier, France while my Mom raised my brother and me in Yogyakarta. Every other year Dad visited us, brought a lot of books and pictures home. Pictures of Versailles, Lourdes, Marseilles, Spain, and a lot more. He told us many stories, brought me from our little home to those countries, although only in imagination. Since that day, I convinced myself that someday, when I grow up, I will see those places with my own eyes :) About twenty some years later, my turn came. I stand here, a few thousand miles away from home. About once a week I call home, talked to my parents about this place. About the harsh winter in Pittsburgh, about my new town near Philadelphia, about my new job. I might not be here if my father never brought me those pictures, told me st...