Skip to main content

Cerita dari mama

Picture taken from gudeg.net

Dear Mita,
Gempa bumi beberapa hari yang lalu bikin ciut nyali warga Yogya. Bayangkan, bumi berguncang-guncang selama kira-kira 1 menit. Aku bersama-sama Bu Nanik, Bu Lastri, Bu Heni, dan Intan baru habis dandan untuk nikahannya Ilud. Baru saja pake konde. Lha kok grag grug grag grug. Bu Lastri teriak-teriak manggil Tuhan Yesus :D, Bu Heni lari cincing.

Aku langsung sms kamu. Tuhan melindungi kita. Pemberkatan nikahnya Ilud akhirnya di pelataran rumah saja. Kasihan banget Ilud dan Yoyok, tapi gimana lagi, gereja Kalasan agak miring karena gempa. Pengantin yang cantik nyaris gak tersenyum.

Selesai misa aku dan Om Didik ambil sate, tiba-tiba banyak orang lari-lari naik truk, naik motor, lampu hidup, smua dari barat lari ke timur dan ke utara. Lha ada apa ? "Air, air, sudah sampai IAIN". Hah, tsunami? Masak? Kan Jogja 113 m di atas permukaan air laut? Semua orang lari ke arah Cangkringan, padahal kan itu daerah 'Awas Merapi'. Emak dan Tante Tin (nenek dan Tanteku yang abis sakit) ikutan keluar dengan orang-orang. Untungnya ada Agung (pacar sepupuku), akhirnya Emak didorong masuk mobil, entah dibawa ke mana sama Agung, yang penting ke utara. Lalu ada pengumuman kalau tsunami hanya issue, wah leganya ...

Siangnya kok Mbah Har belum datang. Malamnya sudah tak gendoli, "Pak mboten kondur mawon, sare mriki." Tapi gak mau, disuruh dhahar (makan) juga gak mau. Malah bilang begini "Aku wis kesel, wis 81 th, arep nyusul ibumu wae". "We, ampun ngendiko ngaten. Putune ajeng sami rabi nggih ditunggoni no Pak". Beliau cuma tersenyum. Itu canda mama terakhir dengan beliau. Menyesal sih gak tak paksa menginap. Mungkin itu permintaan beliau yang dikabulkan Tuhan. Papa dengar dari radio Sonora kalau Mbah Har jadi korban, maka kami langsung ke rumah sakit. Agung dan Wawan mencari beliau di antara orang-orang yang luka dan meninggal, tapi nggak ketemu, ternyata sudah dibawa pulang. Semua shock. Beliau dimakamkan hari berikutnya. Di Mojosari,tetangga-tetangga Mbah Har banyak yang meninggal, 23 orang.

Bener-bener serem. Kemaren aku dan Papa nengok rumah teknisi di BAntul, nyaris 100% rata dengan tanah. Ribuan orang kelaparan. Posko banyak, tapi saking banyaknya korban, bantuan yang datang kayak "nguyahi segoro". Aku sampai semalam gak bisa tidur. Benar-benar Tuhan menyelamatkan keluarga kita, puji Tuhan kita masih selamat.


-- terjemahan ;) -

"lari cincing" = "lari dengan kain sarung digulung ke atas"

"Pak mboten kondur mawon, sare mriki." = "Pak, tidak usah pulang, menginap di sini saja."

"Aku wis kesel, wis 81 th, arep nyusul ibumu wae". = "Aku sudah capek, sudah 81 th, mau menyusul ibumu saja."

"We, ampun ngendiko ngaten. Putune ajeng sami rabi nggih ditunggoni no Pak" = "Wah, jangan bilang begitu. Bapak harus menunggu cucu-cucu yang mau menikah".

"nguyahi segoro" = "membuang garam di laut"

--------------
notes : sudah cukuplah musibah, memang semua ada hikmahnya, memang kita semua perlu menjadi a better person. tapi, plis deh, gak usah berlomba-lomba meramalkan bencana-bencana yang akan datang, dan menghubungkannya dengan tanggal-tanggal atau peristiwa keagamaan tertentu. It doesn't make any better.Damn, I am really sick of it!!!
---------------

Comments

Lisa Dianty said…
Mita...aku ikut berduka cita atas meninggalnya Mbahmu..
Semoga Tuhan memberikan tempat yang paling indah di sisi-Nya. Amin.
Tabah ya...
caranita said…
Cerita sedihmu, Jeng Mita, adalah cerita sedih kita semua. Tapi ya.. saya setuju nih ada pihak2 yang mengambil keuntungan dari bencana ini! *sebel*
Anonymous said…
Hai mita, aku turut berduka atas meninggalnya mbah har kamu.
May God take care of him.

Gempa dan lain2 adalah bagian dr kehidupan juga...keep your heart open and dont forget to thankful..
GBU

From Jkt with love
niken
anastasianani said…
aku ikut sedih ya, banyak sekali kisah2 sedih di balik bencana2 ini, mungkin ada satu rencana disitu..

Popular posts from this blog

Thanksgiving 2020

What a crazy ride we have been riding in 2020. The COVID-19 pandemic has pretty much put our life on hold, if not going on a slower pace. I feel that we are running a marathon, and it's not over yet. The emotional toll that we have been experiencing since March is real. Everything that we used to take for granted, like meeting up with friends, birthday parties, kids activities, traveling, the convenience of doing grocery shopping anytime we want, a lot of them have been taken away from us, from my family. No more parties, no more lunch or dinner with friends, no more invitation for birthday parties, no more traveling. Perhaps my life had become too easy before the pandemic. We had to switch Nathaniel from a brick and mortar school to a cyber school. I tried to plan my grocery trips ahead of time to avoid crowds. We had to wear masks everywhere. But at least we are healthy. At least I am facing this together with my husband and kids as a family. At least I am at home that is fu...

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

What would they decide ?

When I was a little girl, I heard a lot of stories about far-away lands from my mother. She told me stories that she got from my father's letters when he was away. Our family was apart for four years. My father went to school to Montpelier, France while my Mom raised my brother and me in Yogyakarta. Every other year Dad visited us, brought a lot of books and pictures home. Pictures of Versailles, Lourdes, Marseilles, Spain, and a lot more. He told us many stories, brought me from our little home to those countries, although only in imagination. Since that day, I convinced myself that someday, when I grow up, I will see those places with my own eyes :) About twenty some years later, my turn came. I stand here, a few thousand miles away from home. About once a week I call home, talked to my parents about this place. About the harsh winter in Pittsburgh, about my new town near Philadelphia, about my new job. I might not be here if my father never brought me those pictures, told me st...