Skip to main content

Thanks semuanya ...

Temans, saya lega. Beberapa bulan belakangan kepala saya pening. Bertambah pening beberapa hari yang lalu. Well, masalahnya ada di saya, bukan di orang lain. Saya nggak komunikatif terhadap orang lain. Seorang teman pernah mengingatkan saya beberapa tahun yang lalu. Thank you :)

Tapi saya tak bisa segera mengubah kebiasaan itu. Saya cenderung menjauhi masalah, tidak pernah langsung menghadapinya. Selama ini hal itu cenderung tidak berpengaruh besar karena saya bergaul dalam lingkungan yang 'cair' bukan closed community yang setiap kali ketemu dan hang out bareng. So saya dengan enak bisa menghindar dari orang tertentu kalau saya bermasalah dengannya. Akhirnya biasanya masalah selesai sejalan dengan waktu, bukan dengan usaha dan keterbukaan.

Tapi tidak sekarang. Saya ada dalam sebuah closed community. Akrab, selalu hang out bareng, akibatnya saya pening ketika saya tidak bisa menghindar dari masalah. Saya tidak punya tempat untuk melarikan diri.

Hari ini saya senang sekali. Dalam 2 hari, masalah2 yang membuat saya pening berhasil teratasi dengan baik. Awalnya saya tidak berani menghadapi masalah-masalah itu. Bahkan saya sempat berpikir, let me be alone, I don't need anybody, I don't care about anyone else and I don't care about what people think of me. Saya menyalahkan orang lain. Saya mengharapkan orang lain mengerti saya, dan saya tidak berusaha membuat orang lain mengerti. Saya hanya diam dan marah sana sini tidak karuan.

Hmmm, 2 hari ini saya belajar. Tidak mudah untuk memulai pembicaraan. Tidak mudah memilih kata-kata yang enak di semua orang. Saya nyaris menyerah. Tapi ternyata banyak yang membantu saya. Semua berakhir dengan baik. Buat kamu, kamu, kamu, dan kamu, I love you guys :)

Terima kasih untuk memaksa saya belajar. I hope I can be a better person :)

Comments

Anonymous said…
I'm sure you will, Mit. I will pray for you.

Popular posts from this blog

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

Turned out alright

Last week everything turned out alright :) Jumat siang, dengan restu teman2 kantor :p gw cabut dari kantor, walaupun area leader gw ngajakin meeting buat next recipe, tapi dia bilang "Go ahead and don't worry about the meeting, you better get your license today :p" . Jam 12.30an, gw dijemput sama orang dari driving school, dan ngebutlah kita ke DMV Norristown ngejar ujian jam 2 siang. Gw deg2an banget, apalagi karena udah gagal 1x. Kalau gw fail lagi, means that I screw everything up. Karena in the next four weeks para tebengan bakalan cabut ke site di Oregon (gak mungkin kan gw jalan 2 mile ke kantor), kontrak apartment gw habis akhir September dan gw harus cari apartment baru, dan ada chance gw bakalan dikirim ke Oregon juga (walaupun bukan shift pertama). Tapi above it all, hidup tergantung sama orang lain itu sucks. Gw gak bisa bebas ke mana-mana, gak bisa cari kegiatan dan temen2 sendiri (temennya ya cuman temen dari temen gw), gak ada social life sama sekali. Nyampe...