Skip to main content

A little thought about career service

*Dodol, dah dateng pagi2, belum jadi meeting. Daripada nganggur mending ngeblog dulu, hehehe*

Enaknya sekolah di negeri orang (baca: di US), dibandingin di negeri sendiri (baca: universitas negeri), adalah resources yang melimpah. Koneksi internet? Cepet banget, malah bisa buat download film juga, hehehe. Perpustakaan? Nyaman dan menyenangkan buat belajar. Buku, gampang dicari ... Bener2 abundant resources yang (kalau digunakan dengan benar) sangat mendukung proses belajar. No wonder lah, ini negara kaya yang punya duit untuk bikin infrastruktur yang bagus. Sementara di negara kita, berapa persen sih anggaran pendidikan di APBN? Gak usah lah jauh-jauh ngomongin APBN buat pendidikan, bayar utang aja kita masih terseok-seok. Tapi apakah kita kalah dari mereka cuma karena kita nggak punya duit? Well, I don't think so. Banyak hal yang bisa disediakan tanpa dana yang melimpah.

Sejak sekitar sebulan yang lalu saya mulai sibuk job hunting lagi, kali ini buat summer internship. Panggilan interview mulai muncul. Well, deg-degan juga, setelah sekian lama nggak pernah job hunting, ini bakal jadi interview pertama saya di negeri orang. Beberapa hari menjelang hari H, bapak ini nanya, "Dah siap2 belum Mit buat interview?". Saya lumayan bingung menjawabnya. Dalam hati saya bilang, "Emang kayak apa ya nyiapin interview itu?". Selama ini sih kalau mau interview saya cuma berusaha rileks, supaya jadi diri sendiri dan nggak nge-blank waktu interview. But have a structured preparation for an interview never crossed my mind. *Emang mungkin gw super dodol* Mulai dah saya kebingungan cari informasi sana-sini tentang nyiapin interview, lihat-lihat web site nya career service universitas yang gak pernah menarik perhatian saya sebelumnya, pokoknya, kalo kata orang Jawa grobyagan .

Thanks God, sekitar 3 hari menjelang hari H saya ngobrol dengan seorang teman dari CMU, dan dia ngasih semua contekannya. Mulai dari recommended book tentang job hunting (wlpun gak sempat cari juga :D), daftar pertanyaan yang sering ditanyakan, sampai bagaimana caranya menjawab pertanyaan dalam interview secara terstruktur dengan skema tertentu (STAR schema - situation, task, action, result). Saya bengong lagi, ternyata banyak ya yang harus disiapkan.

Hari berikutnya saya mampir ke Career Center, rencananya sih mau konsultasi, apa aja yang harus disiapkan untuk interview. Ngobrol sana sini, ternyata mereka punya banyak konselor, yang bisa menyiapkan mock interview untuk mahasiswa. Sayangnya, untuk mendapatkan mock interview, mahasiswa harus bikin janji 1 minggu sebelumnya. Well, sementar interview saya tinggal 2 hari lagi :( Singkat cerita, akhirnya saya bikin janji juga buat mock interview, walaupun gak akan bisa dipake buat persiapan interview pertama say. Akhirnya, instead of mock interview, hari itu saya ngobrol2 dengan konselornya tentang resume saya. Dia mereview resume saya (format dan content) dan memberi saran perbaikan. * Omong2, baru di US lho saya tahu format standard resume. Kayaknya di Indonesia nggak ada ya, hal2 yang gak penting kayak sekolah SD nya di mana juga ditulis, hihihihi. *

Pengalaman mock interview (yang akhirnya saya ambil beberapa hari yll) pun nggak kalah menyenangkan. Mulai dari setting yang benar2 mirip dengan real interview, proses yang direkam pake video (ternyata liat diri sendiri di video itu bener2 jijay bajay :p), dan evaluasi yang saya dapatkan dari mock interview itu. Singkat cerita, saya puas banget dengan pelayanan dari Career Center. Hal-hal kayak gini nih yang saya tidak dapatkan waktu kuliah di Bandung dulu, nggak tau deh sekarang ada apa nggak. Setau saya mah, dulu CDC (Career Development Center) cuma tempat buat liat lowongan dan ngedrop CV. Tapi gak ada value added support kayak konseling. I wish I had that before ...

Nah, back to pertanyaan saya di posting - Apakah kita kalah cuma karena kita gak punya duit buat membangun fasilitas serba mahal? Kalau lihat dari pengalaman saya tadi, rasanya melengkapi CDC dengan conseling service bukan sesuatu yang mahal. Seandainya universitas2 di negeri kita bisa memberikan service yang kayak gitu, alangkah besar manfaatnya. Nggak cuma buat mahasiswa pencari kerja, tapi juga buat employer yang mencari karyawan baru.

Mungkin gak ya menularkan gagasan ini? Karena saya bukan dosen, yang saya bisa lakukan ya nulis di blog ini, hehehe. Moga2, ada seseorang yang punya lingkaran pengaruh gede di Indo yang baca blog ini (hihihi, kengangguran banget kali ya kalo ada orang penting baca blog saya ini :p), dan menularkan ide ini. Well, let's do anything for the better Indonesia :)

Comments

Anonymous said…
well Mit, baru aja kemarin temen gua dapet software yg isinya bagaimana membuat CV, resume, cover letter, dll. Kami ketawa-ketawa... karena ingat ada beberapa orang punya CV canggih dan menonjolkan kelebihan dirinya, padahal sih biasa-biasa aja. Well...padahal sebetulnya format-format macam itulah yg diperlukan :) -dew-
Anonymous said…
kalo format kaya gitu banyak deh, di toko buku pernah liat...soalnya dulu bikin cv ya njiplak2 dari gituan, terutama yg bhs inggris, malahan di template ms.word juga ada, tapi kalo konseling....nah ini rasanya sampe skr belum ada. Mau buka konseling?! :D
Anonymous said…
jangankan soal bimbingan karir, soal yang lebih mendasar spt komitmen, prioritas, dan konsistensi untuk memajukan sektor pendidikan aja masih jauh dari yg diharapkan.. ndak usahlah jauh2 dibandingkan dengan USA.. dgn negara2 tetangga Asia semacam Malaysia atau India saja terasa jauhhh bedanya.. wis.. cepetan kelar studynya.. sapa tahu you punya peluang jadi mendikbud kalau ntar pulang.. :)

Popular posts from this blog

Thanksgiving 2020

What a crazy ride we have been riding in 2020. The COVID-19 pandemic has pretty much put our life on hold, if not going on a slower pace. I feel that we are running a marathon, and it's not over yet. The emotional toll that we have been experiencing since March is real. Everything that we used to take for granted, like meeting up with friends, birthday parties, kids activities, traveling, the convenience of doing grocery shopping anytime we want, a lot of them have been taken away from us, from my family. No more parties, no more lunch or dinner with friends, no more invitation for birthday parties, no more traveling. Perhaps my life had become too easy before the pandemic. We had to switch Nathaniel from a brick and mortar school to a cyber school. I tried to plan my grocery trips ahead of time to avoid crowds. We had to wear masks everywhere. But at least we are healthy. At least I am facing this together with my husband and kids as a family. At least I am at home that is fu...

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

What would they decide ?

When I was a little girl, I heard a lot of stories about far-away lands from my mother. She told me stories that she got from my father's letters when he was away. Our family was apart for four years. My father went to school to Montpelier, France while my Mom raised my brother and me in Yogyakarta. Every other year Dad visited us, brought a lot of books and pictures home. Pictures of Versailles, Lourdes, Marseilles, Spain, and a lot more. He told us many stories, brought me from our little home to those countries, although only in imagination. Since that day, I convinced myself that someday, when I grow up, I will see those places with my own eyes :) About twenty some years later, my turn came. I stand here, a few thousand miles away from home. About once a week I call home, talked to my parents about this place. About the harsh winter in Pittsburgh, about my new town near Philadelphia, about my new job. I might not be here if my father never brought me those pictures, told me st...