Skip to main content

Summer tlah tiba!

Waktu tinggal di Jakarta, rasanya tidak ada yang spesial dengan matahari yang bersinar cerah, toh hampir tiap hari selalu kayak gitu. Sinar matahari baru terasa berharga setelah saya pindah ke Pittsburgh yang musim dinginnya kadang2 terlalu j*hanam ini :p, hihihi (maaf ya Tuhan, bukan nyumpahin kok, cuma ekspresif saja :p). Masak April masih bersalju, dih, yang bener aja, hehehe.

Tapi akhirnya, sunshine telah datang di Pittsburgh. Selamat datang summer! Weekend kemarin benar2 weekend yang sangat-sangat cerah. Dua hari berturut2 Pittsburgh dihiasi langit yang biru (yang mungkin cuma 5 hari dalam setahun), udara yang hangat, dan bunga-bunga tulip yang mulai bermekaran.

Horeee !!! Tentu saja semua bersukaria. Jumat kemarin masih dingin buat ukuran saya. Tapi saking senangnya, bule-bule itu langsung heboh mengganti pakaian musim dinginnya dengan celana pendek, kaus buntung, dan sandal jepit. Hari Sabtu, dengan semangat 45 saya bangun pagi, dan langsung keluar rumah karena udara cerah. Hmmm ... sayangnya Sabtu itu seharian saya habiskan di coffee shop, demi mengerjakan take home test itu. Well, at least saya senang, bisa melihat Oakland penuh dengan orang2 yang lalu lalang. Jam setengah enam sore saya masih di Carribou, coffee shop tempat saya ngendon seharian. Seorang teman menelpon, "Mit, mau ikut hang out ke Southside?", tanpa ba bi bu, buku langsung saya tutup :P! Hihihi. Untunglah Sabtu itu diakhiri dengan sepenggal sore yang menyenangkan di sebuah resto di Southside, ketika kami berkumpul2 di sebuah beranda terbuka, makan pasta yang tidak mengenyangkan itu, dan menikmati orang2 yang lalu lalang, menikmati hari pertama cuaca cerah di Pittsburgh.

Hari Minggu. Hmm, harusnya sih saya menyempatkan untuk membuat paper. Tapi TIDAK, kata saya, hehehe. Cuaca di luar sangat cerah, terlalu indah untuk belajar :p. Sebentar kemudian teman saya mampir. Tapi, lho, lho lho. Kok dia mulai memapankan diri di depan TV. Cuaca hari ini terlalu bagus untuk tinggal di rumah, kata saya. Ayolah kita jalan, daripada di rumah. Lihat, apa kamu tega, aku sudah mencuci dan mengeluarkan sandal jepit yang cuti selama winter kemaren. Ya deh ya deh, akhirnya menyerah juga dia. Mau ke mana?

Hmmm, kita ke Oakland saja, pasti ramai di sana. OK, kata saya. Kita duduk2 di seputaran Hillman library saja. Dan teman saya langsung setuju. Banyak cewek cakep pake bikini, katanya *dasar :p*. Dan betul, untuk mencari parkir pun susahnya setengah mati. Tujuan kami adalah teras di depan William Pitt Union. Sok-sok-an dan gaya mau kerja, kami mengusung laptop, kayak bisa aja belajar dan bekerja :p. Nah, bener juga kan, laptop akhirnya dianggurin. Kami sibuk ngobrol sana-sini, menikmati cuaca dan suasana yang "kampus" sekali. Setelah agak bosan dan sadar betapa tidak cool nya menenteng laptop di tengah hari yang cerah, akhirnya saya memutuskan untuk full bersenang2 saja menikmati hari yang cerah itu. Berputar2 dari Cathedral of Learning ke University Park di depan Hillman, mengomentari orang2 yang lalu lalang, bule2 yang berjemur supaya kulitnya tanned, bule yang takut item dan duduk2 di bawah bayang2 gedung, dan orang-orang Asia yang bergerombol di tempat teduh (seperti kami contohnya :p).

Semua orang seolah berpesta menikmati matahari. Mulai yang duduk2 di rerumputan bersama teman2 atau pacarnya, ada yang main fresbee, ada juga yang keukeuh membawa segepok buku dan komat-kamit menghapal sembari menikmati matahari (maklum, final week). Pakaiannya pun beragam, mulai yang masih lengkap seperti kami2 orang Asia ini, sampai yang sudah pakai kostum pantai, hehehe. Semuanya berpesta di tengah kota, di hamparan rumput hijau, di taman yang menjadi oase-nya Oakland. Semuanya lucu, seru, dan menyenangkan. Inilah pesta di awal musim panas, the appreciation for the sunshine :)

Comments

Popular posts from this blog

Thanksgiving 2020

What a crazy ride we have been riding in 2020. The COVID-19 pandemic has pretty much put our life on hold, if not going on a slower pace. I feel that we are running a marathon, and it's not over yet. The emotional toll that we have been experiencing since March is real. Everything that we used to take for granted, like meeting up with friends, birthday parties, kids activities, traveling, the convenience of doing grocery shopping anytime we want, a lot of them have been taken away from us, from my family. No more parties, no more lunch or dinner with friends, no more invitation for birthday parties, no more traveling. Perhaps my life had become too easy before the pandemic. We had to switch Nathaniel from a brick and mortar school to a cyber school. I tried to plan my grocery trips ahead of time to avoid crowds. We had to wear masks everywhere. But at least we are healthy. At least I am facing this together with my husband and kids as a family. At least I am at home that is fu...

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

What would they decide ?

When I was a little girl, I heard a lot of stories about far-away lands from my mother. She told me stories that she got from my father's letters when he was away. Our family was apart for four years. My father went to school to Montpelier, France while my Mom raised my brother and me in Yogyakarta. Every other year Dad visited us, brought a lot of books and pictures home. Pictures of Versailles, Lourdes, Marseilles, Spain, and a lot more. He told us many stories, brought me from our little home to those countries, although only in imagination. Since that day, I convinced myself that someday, when I grow up, I will see those places with my own eyes :) About twenty some years later, my turn came. I stand here, a few thousand miles away from home. About once a week I call home, talked to my parents about this place. About the harsh winter in Pittsburgh, about my new town near Philadelphia, about my new job. I might not be here if my father never brought me those pictures, told me st...