Skip to main content

Pindahan

Gw pindah apartment, dari kawasan Squirrell Hill yang tenang-cozy ke Centre Ave yang relatif lebih hiruk pikuk and not so cozy, tapi gw nggak perlu jalan 4 sampai 5 blok untuk ke halte bus.



Apartment gw yang baru lebih layak disebut sebagai "kamar kost", but in general cukup nyaman buat gw. Sebuah kamar berukuran 3.5m x 3.5m plus kamar mandi dalam. Tidak ada dapur terpisah, tapi sebagai gantinya ada microwave, tempat cuci piring, dan meja kecil yang (moga2) cukup untuk meletakkan kompor listrik kecil :D Nggak jauh beda lah dari kost lama gw di Setiabudi, hehehe. Nggak ada AC kayak di apartment lama, jadi sekarang gw harus puas dengan kipas angin yang berputar-putar di langit-langit kamar gw. Nggak ada internet dan tv cable lagi, gw harus puas dengan wireless gratisan dari apartment dan tv local.

Itung2 ngebiasain diri hidup sederhana (karena terpaksa) dan mengeluarkan kreativitas2 gw seperti - gimana caranya gw bisa konek internet dengan wireless gratisan yang on and off itu? Ternyata solusinya adalah duduk sedekat mungkin dengan pintu masuk, which means gw harus duduk di depan pintu kamar mandi buat sekedar chating :p. Atau, gimana caranya biar kamar nggak panas2 banget? Oh, ternyata dengan menghidupkan kipas angin di kamar, membuka jendela lebar-lebar, dan nyalain exhaust fan di kamar mandi, dan membuka pintu kamar mandi. Hihihi ...

Duh, sorry, gw nggak ada ide nulis lagi. It's damn hot here in Pittsburgh :(

Comments

ono said…
hai mita, ternyata kreatif juga ya dirimu dng kondisi yg serba minimalis and ke-fefet. hehehe...

Keseret om google krn Enjoy Living Jakarta - mu, ma'af nye-spam disini.
Anonymous said…
lha... sikon "terpaksa" begini ini khan malah jadi kesempatan buat praktek langsung Prinsip dan Dasar-nya Ignatius, Mit.. :D
Unknown said…
eehh ada si KodoK! :p
kasian dia kepanasan...

*loh kok bukan kasian ma Mit-mot? :p
Anonymous said…
berakit-rakit ke hulu berenang-renang ???

Popular posts from this blog

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

Turned out alright

Last week everything turned out alright :) Jumat siang, dengan restu teman2 kantor :p gw cabut dari kantor, walaupun area leader gw ngajakin meeting buat next recipe, tapi dia bilang "Go ahead and don't worry about the meeting, you better get your license today :p" . Jam 12.30an, gw dijemput sama orang dari driving school, dan ngebutlah kita ke DMV Norristown ngejar ujian jam 2 siang. Gw deg2an banget, apalagi karena udah gagal 1x. Kalau gw fail lagi, means that I screw everything up. Karena in the next four weeks para tebengan bakalan cabut ke site di Oregon (gak mungkin kan gw jalan 2 mile ke kantor), kontrak apartment gw habis akhir September dan gw harus cari apartment baru, dan ada chance gw bakalan dikirim ke Oregon juga (walaupun bukan shift pertama). Tapi above it all, hidup tergantung sama orang lain itu sucks. Gw gak bisa bebas ke mana-mana, gak bisa cari kegiatan dan temen2 sendiri (temennya ya cuman temen dari temen gw), gak ada social life sama sekali. Nyampe...