Judul Asli & Terjemahan : Christ The Lord: Out of Egypt / Kristus Tuhan : Meninggalkan Mesir
Pengarang : Anne Rice
Penerbit : Gramedia, 2006
Tebal : 387 halaman
Gw secara tidak sengaja memilih buku ini menjadi bacaan gw selama liburan di rumah. Buku ini pertama kali disodorkan oleh bokap gw, yang memang demen membaca – termasuk membaca buku-buku bacaan rohani. Reaksi pertama gw: males. Gw sedang tidak tertarik membaca bacaan rohani (baca: berat). Akhirnya buku ini gw baca juga waktu mulai kehabisan bacaan dan bosan makan tidur di rumah :p. Tidak seperti prasangka gw semula, buku ini sangat menghibur, jauh dari kesan berat dan menggurui.
Konon menurut Kitab Suci, kelahiran Yesus telah diramalkan oleh para nabi melalui kisah-kisah Perjanjian Lama. Nabi Yesaya dalam kitabnya berkata: “Seorang anak telah lahir untuk kita. Lambang pemerintahan ada di bahunya. Dan namanya disebutkan orang: Penasehat Ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang kekal, raja damai.” Kelahiran Yesus di Bethlehem adalah penggenapan terhadap kisah-kisah tersebut. Pada malam kelahirannya, para malaikat memenuhi langit, para gembala datang menyembahnya, dan ahli-ahli bintang dari timur mengikuti bintang yang bersinar terang untuk menemukan sang raja. Herodes, raja yang berkuasa di Israel pada saat itu, mendengar kisah lahirnya sang raja baru dan menganggapnya sebagai ancaman atas kekuasaannya. Maka ia memerintahkan pembunuhan semua anak laki-laki yang berumur di bawah 2 tahun. Bayi Yesus selamat dari pembantaian ini karena ayah ibunya – Yusuf dan Maria berhasil lari ke Mesir.
Cuplikan kisah dari Perjanjian Baru tersebut pasti tidak asing untuk pemeluk agama Kristen. Akan tetapi, karena Kitab Suci bukanlah buku sejarah yang menceritakan secara detil setiap peristiwa, sia-sia jika kita berharap menemukan detil kisah tersebut dalam Kitab Suci. Kisah-kisah yang tidak pernah ditulis dalam Kitab Suci itulah yang menginsiprasi Anne Rice. Ia secara menarik menulis imajinasinya tentang tahun-tahun kehidupan kanak-kanak Yesus di Mesir dan kepulangannya ke Israel.
Alkisah keluarga besar Yusuf hidup sebagai tukang kayu di Alexandria. Walaupun mereka hidup sebagai orang asing di kota itu, mereka hidup relatif makmur dan berhasil.. Kehidupan berjalan dengan tenang sampai pada suatu hari Yesus secara tidak sengaja “membunuh” seorang anak yang selalu mengganggunya, kemudian menghidupkannya lagi. Bisik-bisik dan cemooh berubah menjadi tantangan terang-terangan sehingga akhirnya Yusuf memutuskan untuk meninggalkan Mesir dan kembali ke Israel, ke sebuah desa bernama Nazareth.
Cerita pembuka tersebut menjadi awal kisah pencarian diri Yesus kecil. Yesus kecil kebingungan dengan kekuatannya yang bisa mengubah burung mainan dari tanah liat menjadi burung yang hidup, kekuatan doanya yang bisa menghentikan hujan dan mendatangkan salju, bahkan ketakutannya ketika secara tak sengaja ia “membunuh” teman sepermainannya. Ketidak terus terangan Maria dan Yusuf tentang cerita kelahiran Yesus menambah kebingungan Yesus kecil. Keinginan tahuan seorang anak kecil membuatnya berusaha mengetahui siapa dirinya dengan bertanya ke sana sini, kepada Alfeus pamannya, Yakobus, bahkan kepada beberapa pemuka agama Yahudi yang ditemuinya di Bait Allah. Dari mereka Yesus mendapatkan potongan-potongan cerita yang tak lengkap tentang kelahirannya yang sudah diramalkan sebelumnya, tentang pertunangan ibunya dengan Yusuf, tentang kelahirannya di kandang hewan, dan tentang pembantaian yang dilakukan oleh Herodes. Kebingungan-kebingungan tersebut bahkan berkembang menjadi ketakutan yang teramat dalam, karena Yesus merasa bersalah atas terbunuhnya ribuan anak laki-laki dikarenakan Herodes mencari dirinya. Baru setelah
Maria memutuskan untuk memberitahu putranya tentang siapa dia sesungguhnya, potongan-potongan cerita tersebut akhirnya menjadi lengkap.
Rice banyak bercerita melalui interaksi Yesus dengan keluarga terdekatnya: Maria – Ibu yang sangat dicintainya, Yusuf – suami Maria, paman-paman dan bibi-bibi Yesus. Di samping tokoh-tokoh Kitab Suci, terdapat pula beberapa tokoh yang tidak pernah ada dalam “versi” Kitab Suci, seperti Yakobus (kakak tiri Yesus) dan Salome kecil (sepupu perempuan Yesus). Tokoh-tokoh tersebut bisa jadi merupakan karakter rekaan ciptaan sang pengarang, atau berasal dari injil-injil apokrip (kitab-kitab yang menceritakan tentang kehidupan Yesus, tapi tidak diakui resmi oleh institusi gereja).
Bagi pembaca yang familiar dengan kisah kehidupan Yesus, gaya bertutur Rice membantu imajinasi tentang karakter-karakter tiap tokoh. Maria digambarkan sebagai wanita yang polos, yang sepenuhnya berserah pada kehendak Tuhan, walaupun ita tak luput dari keragu-raguan. Maria digambarkan sebagai wanita yang kuat untuk Yesus, tapi sekaligus rapuh dan taat kepada adat, keluarga, dan masyarakat. Yusuf, yang oleh Gereja Katolik selalu digambarkan sebagai ayah yang baik dan melindungi Yesus, digambarkan sebagai pria taat Tuhan yang tidak banyak bicara, dan lebih memilih untuk menyimpan kebingungannya dengan diam dari pada berkata-kata seolah-olah ia tahu segalanya.
Mengapa Rice menulis ini? Semata-mata sebagai sarana untuk mengekspresikan kreativitas kah? Catatan penulis yang diletakkan pada akhir buku ini menjadi catatan pelengkap yang menarik, lengkap dengan riwayat singkat sang pengarang yang lahir dan tumbuh di lingkungan Katolik – Irlandia di Amerika yang kaku, bertahun-tahun meninggalkan gereja, menikah dengan seorang ateis yang ia gambarkan sebagai orang paling bernurani yang pernah ia kenal. Ia ingin mengetahui mengapa banyak orang baik memilih untuk tidak terikat dengan institusi keagamaan tertentu. Pada akhirnya memang Rice memutuskan kembali kepada “lingkungan lama”-nya, gereja katolik. Tapi saya memiliki pendapat personal bahwa ini bukan buku “kesaksian iman”, atau buku yang mencoba menarik pembaca ke institusi agama tertentu – dalam hal ini gereja katolik atau kristianitas. Buku ini lebih merupakan hasil refleksi pribadi Anne Rice, yang ia temukan melalui studi literatur, membaca, dan menulis. Sama seperti sebagian pribadi berefleksi melalui bentuk-bentuk yang berbeda seperti musik, lukisan, ilmu pengetahuan, doa, atau pun bentuk-bentuk yang lain.
Dan akhirnya, seperti Rice menemukan “legenda pribadi’ – nya melalui tulisan-tulisannya, buku ini seperti mengajak kita menemukan hal yang sama dalam keseharian kita, dengan cara kita sendiri.
Pengarang : Anne Rice
Penerbit : Gramedia, 2006
Tebal : 387 halaman
Gw secara tidak sengaja memilih buku ini menjadi bacaan gw selama liburan di rumah. Buku ini pertama kali disodorkan oleh bokap gw, yang memang demen membaca – termasuk membaca buku-buku bacaan rohani. Reaksi pertama gw: males. Gw sedang tidak tertarik membaca bacaan rohani (baca: berat). Akhirnya buku ini gw baca juga waktu mulai kehabisan bacaan dan bosan makan tidur di rumah :p. Tidak seperti prasangka gw semula, buku ini sangat menghibur, jauh dari kesan berat dan menggurui.
Konon menurut Kitab Suci, kelahiran Yesus telah diramalkan oleh para nabi melalui kisah-kisah Perjanjian Lama. Nabi Yesaya dalam kitabnya berkata: “Seorang anak telah lahir untuk kita. Lambang pemerintahan ada di bahunya. Dan namanya disebutkan orang: Penasehat Ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang kekal, raja damai.” Kelahiran Yesus di Bethlehem adalah penggenapan terhadap kisah-kisah tersebut. Pada malam kelahirannya, para malaikat memenuhi langit, para gembala datang menyembahnya, dan ahli-ahli bintang dari timur mengikuti bintang yang bersinar terang untuk menemukan sang raja. Herodes, raja yang berkuasa di Israel pada saat itu, mendengar kisah lahirnya sang raja baru dan menganggapnya sebagai ancaman atas kekuasaannya. Maka ia memerintahkan pembunuhan semua anak laki-laki yang berumur di bawah 2 tahun. Bayi Yesus selamat dari pembantaian ini karena ayah ibunya – Yusuf dan Maria berhasil lari ke Mesir.
Cuplikan kisah dari Perjanjian Baru tersebut pasti tidak asing untuk pemeluk agama Kristen. Akan tetapi, karena Kitab Suci bukanlah buku sejarah yang menceritakan secara detil setiap peristiwa, sia-sia jika kita berharap menemukan detil kisah tersebut dalam Kitab Suci. Kisah-kisah yang tidak pernah ditulis dalam Kitab Suci itulah yang menginsiprasi Anne Rice. Ia secara menarik menulis imajinasinya tentang tahun-tahun kehidupan kanak-kanak Yesus di Mesir dan kepulangannya ke Israel.
Alkisah keluarga besar Yusuf hidup sebagai tukang kayu di Alexandria. Walaupun mereka hidup sebagai orang asing di kota itu, mereka hidup relatif makmur dan berhasil.. Kehidupan berjalan dengan tenang sampai pada suatu hari Yesus secara tidak sengaja “membunuh” seorang anak yang selalu mengganggunya, kemudian menghidupkannya lagi. Bisik-bisik dan cemooh berubah menjadi tantangan terang-terangan sehingga akhirnya Yusuf memutuskan untuk meninggalkan Mesir dan kembali ke Israel, ke sebuah desa bernama Nazareth.
Cerita pembuka tersebut menjadi awal kisah pencarian diri Yesus kecil. Yesus kecil kebingungan dengan kekuatannya yang bisa mengubah burung mainan dari tanah liat menjadi burung yang hidup, kekuatan doanya yang bisa menghentikan hujan dan mendatangkan salju, bahkan ketakutannya ketika secara tak sengaja ia “membunuh” teman sepermainannya. Ketidak terus terangan Maria dan Yusuf tentang cerita kelahiran Yesus menambah kebingungan Yesus kecil. Keinginan tahuan seorang anak kecil membuatnya berusaha mengetahui siapa dirinya dengan bertanya ke sana sini, kepada Alfeus pamannya, Yakobus, bahkan kepada beberapa pemuka agama Yahudi yang ditemuinya di Bait Allah. Dari mereka Yesus mendapatkan potongan-potongan cerita yang tak lengkap tentang kelahirannya yang sudah diramalkan sebelumnya, tentang pertunangan ibunya dengan Yusuf, tentang kelahirannya di kandang hewan, dan tentang pembantaian yang dilakukan oleh Herodes. Kebingungan-kebingungan tersebut bahkan berkembang menjadi ketakutan yang teramat dalam, karena Yesus merasa bersalah atas terbunuhnya ribuan anak laki-laki dikarenakan Herodes mencari dirinya. Baru setelah
Maria memutuskan untuk memberitahu putranya tentang siapa dia sesungguhnya, potongan-potongan cerita tersebut akhirnya menjadi lengkap.
Rice banyak bercerita melalui interaksi Yesus dengan keluarga terdekatnya: Maria – Ibu yang sangat dicintainya, Yusuf – suami Maria, paman-paman dan bibi-bibi Yesus. Di samping tokoh-tokoh Kitab Suci, terdapat pula beberapa tokoh yang tidak pernah ada dalam “versi” Kitab Suci, seperti Yakobus (kakak tiri Yesus) dan Salome kecil (sepupu perempuan Yesus). Tokoh-tokoh tersebut bisa jadi merupakan karakter rekaan ciptaan sang pengarang, atau berasal dari injil-injil apokrip (kitab-kitab yang menceritakan tentang kehidupan Yesus, tapi tidak diakui resmi oleh institusi gereja).
Bagi pembaca yang familiar dengan kisah kehidupan Yesus, gaya bertutur Rice membantu imajinasi tentang karakter-karakter tiap tokoh. Maria digambarkan sebagai wanita yang polos, yang sepenuhnya berserah pada kehendak Tuhan, walaupun ita tak luput dari keragu-raguan. Maria digambarkan sebagai wanita yang kuat untuk Yesus, tapi sekaligus rapuh dan taat kepada adat, keluarga, dan masyarakat. Yusuf, yang oleh Gereja Katolik selalu digambarkan sebagai ayah yang baik dan melindungi Yesus, digambarkan sebagai pria taat Tuhan yang tidak banyak bicara, dan lebih memilih untuk menyimpan kebingungannya dengan diam dari pada berkata-kata seolah-olah ia tahu segalanya.
Mengapa Rice menulis ini? Semata-mata sebagai sarana untuk mengekspresikan kreativitas kah? Catatan penulis yang diletakkan pada akhir buku ini menjadi catatan pelengkap yang menarik, lengkap dengan riwayat singkat sang pengarang yang lahir dan tumbuh di lingkungan Katolik – Irlandia di Amerika yang kaku, bertahun-tahun meninggalkan gereja, menikah dengan seorang ateis yang ia gambarkan sebagai orang paling bernurani yang pernah ia kenal. Ia ingin mengetahui mengapa banyak orang baik memilih untuk tidak terikat dengan institusi keagamaan tertentu. Pada akhirnya memang Rice memutuskan kembali kepada “lingkungan lama”-nya, gereja katolik. Tapi saya memiliki pendapat personal bahwa ini bukan buku “kesaksian iman”, atau buku yang mencoba menarik pembaca ke institusi agama tertentu – dalam hal ini gereja katolik atau kristianitas. Buku ini lebih merupakan hasil refleksi pribadi Anne Rice, yang ia temukan melalui studi literatur, membaca, dan menulis. Sama seperti sebagian pribadi berefleksi melalui bentuk-bentuk yang berbeda seperti musik, lukisan, ilmu pengetahuan, doa, atau pun bentuk-bentuk yang lain.
Dan akhirnya, seperti Rice menemukan “legenda pribadi’ – nya melalui tulisan-tulisannya, buku ini seperti mengajak kita menemukan hal yang sama dalam keseharian kita, dengan cara kita sendiri.
Comments
tapi review kamu bikin saya jadi penasaran pengen baca... thanks ya.
tks