Skip to main content

Try to do the right thing ...

Beberapa hari yll I invited him to visit my new home. Maka kami janjian, minggu pagi itu kami ke Cimanggis, tempat rumahku. Setelah itu kami makan bareng di Taman Anggrek, dan disitulah perasaanku mulai kacau balau gak karuan. Waktu secara gak sengaja aku ngelihat foto dia dan ceweknya di dompetnya, perasaanku campur aduk gak karuan. Jealous, sakit, dan rasa berasalah campur jadi satu. Kalau gak berada di tengah-tengah mall, rasanya aku bisa gubrakk pingsan saat itu juga. Air mata rasanya udah ada di pelupuk, kacau balau, benar-benar kacau balau. Pulang dari Taman Anggrek aku langsung janjian ama temen2 SMA ku, sementara dia langsung pulang ke rumah. Bisa ditebak reaksi teman-temanku, mereka ngomelin aku habis-habisan karena jalan sama cowok orang. Iya, aku emang salah. Bagaimanapun usaha yang aku lakukan untuk menganggap dia hanya seperti sahabat2cowok ku yang lain, ternyata gak bisa.

Perasaanku yang sudah aku coba pupus sejak 1 tahun yang lalu ternyata masih bermain. Aku masih enjoy bersamanya, dan aku nggak bisa menganggap dia hanya teman ... Susah rasanya ... Sementara menurut aku, dia masih mau bersama ku, karena niat baiknya untuk menganggap ku sebagai seorang sahabat, atau juga rasa bersalahnya sama aku karena kejadian setahun yang lalu. Sementara aku membayangkan ceweknya juga, dan merasa sangat bersalah terhadap dia. Malamnya, sahabatku bilang "Terserah kamu sekarang, kamu mau nerusin hidup yang seperti ini, atau memulai sesuatu yang baru ..." Malam itu aku ngerasa bener2 nggak berdaya ...

Akhirnya terbuka jelas bagiku. Ada hal2 yang sangat prinsip bagiku, di antaranya adalah gak akan mengganggu relationship orang lain. Aku gak mau jadi duri dalam hubungan orang lain ... Dan inilah saatnya buatku untuk berpegang pada hal yang selama ini aku yakini benar.

Kemarin sore kami bertemu lagi, gak sengaja, waktu ia lewat di depan kostku. Dan akhirnya aku beranikan diri untuk mengatakan apa yang seharusnya aku lakukan ... "Kita gak usah ketemuan lagi". Duh susahnya ngomong itu.

So it's the end.

Popular posts from this blog

Thanksgiving 2020

What a crazy ride we have been riding in 2020. The COVID-19 pandemic has pretty much put our life on hold, if not going on a slower pace. I feel that we are running a marathon, and it's not over yet. The emotional toll that we have been experiencing since March is real. Everything that we used to take for granted, like meeting up with friends, birthday parties, kids activities, traveling, the convenience of doing grocery shopping anytime we want, a lot of them have been taken away from us, from my family. No more parties, no more lunch or dinner with friends, no more invitation for birthday parties, no more traveling. Perhaps my life had become too easy before the pandemic. We had to switch Nathaniel from a brick and mortar school to a cyber school. I tried to plan my grocery trips ahead of time to avoid crowds. We had to wear masks everywhere. But at least we are healthy. At least I am facing this together with my husband and kids as a family. At least I am at home that is fu...

What would they decide ?

When I was a little girl, I heard a lot of stories about far-away lands from my mother. She told me stories that she got from my father's letters when he was away. Our family was apart for four years. My father went to school to Montpelier, France while my Mom raised my brother and me in Yogyakarta. Every other year Dad visited us, brought a lot of books and pictures home. Pictures of Versailles, Lourdes, Marseilles, Spain, and a lot more. He told us many stories, brought me from our little home to those countries, although only in imagination. Since that day, I convinced myself that someday, when I grow up, I will see those places with my own eyes :) About twenty some years later, my turn came. I stand here, a few thousand miles away from home. About once a week I call home, talked to my parents about this place. About the harsh winter in Pittsburgh, about my new town near Philadelphia, about my new job. I might not be here if my father never brought me those pictures, told me st...

Turned out alright

Last week everything turned out alright :) Jumat siang, dengan restu teman2 kantor :p gw cabut dari kantor, walaupun area leader gw ngajakin meeting buat next recipe, tapi dia bilang "Go ahead and don't worry about the meeting, you better get your license today :p" . Jam 12.30an, gw dijemput sama orang dari driving school, dan ngebutlah kita ke DMV Norristown ngejar ujian jam 2 siang. Gw deg2an banget, apalagi karena udah gagal 1x. Kalau gw fail lagi, means that I screw everything up. Karena in the next four weeks para tebengan bakalan cabut ke site di Oregon (gak mungkin kan gw jalan 2 mile ke kantor), kontrak apartment gw habis akhir September dan gw harus cari apartment baru, dan ada chance gw bakalan dikirim ke Oregon juga (walaupun bukan shift pertama). Tapi above it all, hidup tergantung sama orang lain itu sucks. Gw gak bisa bebas ke mana-mana, gak bisa cari kegiatan dan temen2 sendiri (temennya ya cuman temen dari temen gw), gak ada social life sama sekali. Nyampe...