Skip to main content

Menjadi 27, single and happy :)

Hei, ini posting yang terlambat, harusnya aku bikin posting ini tanggal 12 yang lalu, waktu umurku tepat menjadi 27. Tapi 6 hari masih bisa dimaafkan lah ya ... hahaha ...

6 hari yang lalu, aku tepat 27 tahun. Seperti tahun-tahun yang lalu, aku sendirian merayakannya. Lebih sendirian dari tahun ke 25, dan lebih sendirian lagi dari tahun ke 26. Tapi kenapa aku harus tidak bahagia dan tidak bersyukur?

Memang aku sendirian, tidak ada teman untuk berbagi, bahkan untuk kedua kali nya mendapatkan hadiah yang tidak terlalu menyenangkan di ulang tahun ku yang ke 27 (kalian tentu masih ingat hadiah pertama yang tidak menyenangkan, yaitu di ulang tahunku ke 25 dua tahun lalu :), tapi mengapa aku harus marah dan tidak bersyukur? Aku tidak punya alasan yang cukup untuk marah, dan aku punya segudang alasan lain yang membuat aku tetap harus mengucap syukur ...

Walaupun my little wish for 27th birthday never comes true, tetap aku harus bersyukur. Bagaimana tidak bersyukur kalau aku boleh berlibur ke Bali sesaat menjelang ulang tahunku? Hal itu sungguh memberiku modal energi yang cukup besar untuk kembali menggerakkan roda hidupku, yang sesaat yang lalu rasanya seperti terjebak di lumpur, susah untuk bergerak naik kembali :)

Aku punya adik dan sepupu-sepupu yang selalu mendukung aku, aku punya sahabat-sahabat yang walaupun sedang dimabuk cinta tidak pernah melupakan aku ;), aku punya pekerjaan yang cukup bagus, aku punya papa mama yang sehat, yang selalu melimpahiku dengan perhatian, aku punya rumah yang kubeli dengan hasil keringatku sendiri ... Bagaimana aku tidak mengucap syukur? Walaupun pencapaianku dari umur 26 ke 27 ini tidak terlalu bagus: satu kali jatuh cinta, satu kali ditinggal pergi, plus bonusnya, satu kali ditinggal kawin oleh seorang yang pernah jadi pujaan hati ... hahaha. Tetap aku sangat bersyukur ...

Sabtu malam aku makan-makan bebek panggang bersama adik-adik ... (bebeknya Duck King enak lho ;), dan Minggunya nongkrong di Platinum bersama Setio, Ayu, Agnes, dan Sigit, hmmm, memberi hiburan tersendiri - sayang ada satu teman yang gak datang :( - ah sudahlah, tanpa kamu, toh aku tetap happy malam itu :)

Sekarang, aku kembali dengan kesibukanku. Pekerjaan yang kadang membosankan tapi jadi sumber penghidupan, pulang ke kost yang penuh dengan tawa teman-teman, setumpuk buku yang belum juga sempat selesai kubaca, malam Minggu yang sendirian ... hahaha. Di umur yang tak muda lagi ini, aku kembali menata hidupku. Menata hatiku yang sempat kacau balau, menata harapanku dengan tetap berserah kepada Yang Di Atas, mencoba kembali meraih impianku dalam pekerjaan. Intinya, tak kan kubiarkan diriku terpuruk, biar ditinggal kawin, biar ditolak cowok, biar gagal apply kerja, biar gagal sekolah. Satu hal mungkin gagal, tapi aku akan berusaha mati-matian untuk bangkit lagi. Aku gak akan nangis lagi, aku gak akan sakit hati lagi sama Bapak itu, akan tetap sayang sama orang-orang yang nyakitin aku, aku akan makin sayang sama sahabat-sahabat dan terutama keluargaku, aku tetap open minded, aku akan banyak belajar, aku akan bekerja keras.

Comments

Popular posts from this blog

Thanksgiving 2020

What a crazy ride we have been riding in 2020. The COVID-19 pandemic has pretty much put our life on hold, if not going on a slower pace. I feel that we are running a marathon, and it's not over yet. The emotional toll that we have been experiencing since March is real. Everything that we used to take for granted, like meeting up with friends, birthday parties, kids activities, traveling, the convenience of doing grocery shopping anytime we want, a lot of them have been taken away from us, from my family. No more parties, no more lunch or dinner with friends, no more invitation for birthday parties, no more traveling. Perhaps my life had become too easy before the pandemic. We had to switch Nathaniel from a brick and mortar school to a cyber school. I tried to plan my grocery trips ahead of time to avoid crowds. We had to wear masks everywhere. But at least we are healthy. At least I am facing this together with my husband and kids as a family. At least I am at home that is fu...

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

What would they decide ?

When I was a little girl, I heard a lot of stories about far-away lands from my mother. She told me stories that she got from my father's letters when he was away. Our family was apart for four years. My father went to school to Montpelier, France while my Mom raised my brother and me in Yogyakarta. Every other year Dad visited us, brought a lot of books and pictures home. Pictures of Versailles, Lourdes, Marseilles, Spain, and a lot more. He told us many stories, brought me from our little home to those countries, although only in imagination. Since that day, I convinced myself that someday, when I grow up, I will see those places with my own eyes :) About twenty some years later, my turn came. I stand here, a few thousand miles away from home. About once a week I call home, talked to my parents about this place. About the harsh winter in Pittsburgh, about my new town near Philadelphia, about my new job. I might not be here if my father never brought me those pictures, told me st...