Skip to main content

My First Snorkling!

Pengalaman paling berkesan dari liburan ke Bali weekend kemarin adalah snorkling. Dari dulu salah satu impianku adalah bisa menikmati pemandangan dunia bawah laut. Diving adalah impian yang belum kesampaian sampai sekarang karena mahal, hiks. Karena itu snorkling adalah alternatif yang lebih murah. Akhirnya kesempatan itu datang juga waktu aku dan teman-temanku (kami pergi cewek2 berempat) masuk ke Matahari di Kuta Square. Di situ ada sebuah counter yang menawarkan one day trip ke Nusa Penida, dengan package termasuk snorkling sepuasnya! Terprovokasi dengan indahnya video yang diputar oleh Quick Silver, tanpa pikir panjang aku langsung mendaftarkan diri.

Minggu, 8 Mei 2005. Hari keempat liburanku di Bali. Ketiga temanku tidak ada yang berminat untuk snorkling, so I was alone, tapi gak papa! Hari ini benar-benar spesial buat diriku sendiri! Aku bisa menikmati perjalanan yang aku sukai, mencoba hal baru yang belum pernah aku lakukan. Jam 8 pagi aku sudah dijemput untuk pergi ke meeting point di daerah Tanjung Benoa. Menurut Beli Ketut yang jadi sopirku, daerah itu memang banyak fasilitas water sport. Sampai di sana, daftar, liat-liat sekeliling bentar, lalu cek in ke kapal. Damned, my camera didn't work :(, tapi sudahlah, toh aku gak terlalu suka foto2. O o, ternyata aku jadi turis kesasar, dari 100 orang lebih, cuma ada 5 gelintir manusia Indonesia, sisanya turis Korea, Jepang, dan beberapa bule. Hahaha ...

Perjalanan dari Tanjung Benoa ke Nusa Penida memakan waktu sekitar 50 menit. Garing dengan suasana di dalam kabin - I was trapped in a group of Korean family - aku memutuskan untuk keluar ke buritan kapal. Ternyata angin dan ombaknya lumayan menggoncang-goncang. Langsung pucat pasi deh aku ... hehehe. Di situ aku ngobrol sama Bapak-bapak, entah namanya Wayan atau siapa, lupa :p ... dia ngajakin aku ngobroool terus biar gak mabuk laut. Tapi tetep aja aku mabok dengan sukses ... hehehe. Mau balik ke kabin lagi udah gak kuat, sementara goncangan di buritan dasyat euy ... Habis deh jatah sarapan yang aku dapat di kapal pagi itu ... hiks hiks hiks.

Setelah berjuang mengatasi mabok, kami sampai di Nusa Penida. Selain Nusa Penida, ada dua pulau kecil lain di dekatnya, salah satu bernama Nusa Ceningan, dan yang lain Nusa Lembongan. Konon Nusa Lembongan merupakan spot yang bagus buat surfing. Pulau sudah kelihatan, awak kapal melemparkan beberapa potong roti ke laut, sontak beberapa ekor ikan berlompatan memperebutkan roti-roti itu. Wow, it's my first time experience. Aku pikir itu lumba-lumba, tapi katanya ikan-ikan itu bernama Jack Fish. Lucuuuu ....

Kami tidak merapat di darat, melainkan merapat di dermaga terapung sekitar 200 meter dari pantai. Di sekitar dermaga tersebut ada pembatas, sehingga kami bisa snorkling (dan diving kalau mau) dengan aman. Ombak cukup tenang. Air laut di situ masih sangat bersih, biru hijau tanpa polusi. Aku dikenalkan dengan seorang diving instructor yang akan membantu aku untuk snorkling. Tanpa ba bi bu, aku langsung aja mulai belajar snorkling. Sebenarnya sangat mudah, terutama untuk orang yang dasarnya hobi renang seperti aku. Aku cuma perlu membiasakan diri pake kacamata khusus dan pakai alat pernafasan. Selanjutnya, tinggal nyeblung ke air! Mantab!!!

Ada satu ikan mendekati aku, warnanya kuning, kecil. Ada satu lagi, seperti salah satu tokoh di Finding Nemo yang siripnya luka kena pancing, siapa namanya? Lalu di sana ada satu lagi ikan ... Hei, lihat, ada segerombolan ikan kecil-kecil berwarna biru berparade! Wow, it's my first experience. Berenang di antara ikan-ikan, seolah-olah menjadi bagian dari mereka. Instrukturku memberikan kepadaku botol aqua berisi makanan ikan. Jadi aku berenang sambil memberi makan ikan-ikan itu. Mereka berlari mengikutiku ... berebutan mendapatkan makanan!! Kadang-kadang menabrak aku. Aku ketawa-tawa kesenangan. Sungguh damai di bawah laut. "Kenapa koralnya tidak terlalu bagus? ", protesku kepada instrukturku yang sebelumnya mengatakan daerah ini memiliki pemandangan bawah laut terindah di Bali. Menurut dia, karena keberadaan dermaga terapung itu, sebagian terumbu karang tidak mendapatkan cahaya, sehingga tidak tumbuh dengan bagus. "Coba mbak berenang ke arah sana, agak jauh", katanya sambil menunjukkan arah ke aku, "di sana lebih bagus mbak ..." Aku langsung berenang ke sana. Ya, terumbunya masih lumayan, tidak seperti yang di Nemo, tapi lumayan lah ...

Setelah cukup capek, aku naik untuk makan siang, lalu habis itu nyemplung lagi!! Keindahan bawah laut itu jadi bikin aku penasaran dengan diving, dan tempat-tempat seperti Bunaken ... hmmm, kayak apa ya? Will someday my wish come true? Someday, I'll be back. Aku gak kapok dengan mabok laut. And when I am back, I will dive, yes, I will dive!

Comments

Anonymous said…
harganya berapa?

dolfi84@hotmail.com

Popular posts from this blog

Thanksgiving 2020

What a crazy ride we have been riding in 2020. The COVID-19 pandemic has pretty much put our life on hold, if not going on a slower pace. I feel that we are running a marathon, and it's not over yet. The emotional toll that we have been experiencing since March is real. Everything that we used to take for granted, like meeting up with friends, birthday parties, kids activities, traveling, the convenience of doing grocery shopping anytime we want, a lot of them have been taken away from us, from my family. No more parties, no more lunch or dinner with friends, no more invitation for birthday parties, no more traveling. Perhaps my life had become too easy before the pandemic. We had to switch Nathaniel from a brick and mortar school to a cyber school. I tried to plan my grocery trips ahead of time to avoid crowds. We had to wear masks everywhere. But at least we are healthy. At least I am facing this together with my husband and kids as a family. At least I am at home that is fu...

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

What would they decide ?

When I was a little girl, I heard a lot of stories about far-away lands from my mother. She told me stories that she got from my father's letters when he was away. Our family was apart for four years. My father went to school to Montpelier, France while my Mom raised my brother and me in Yogyakarta. Every other year Dad visited us, brought a lot of books and pictures home. Pictures of Versailles, Lourdes, Marseilles, Spain, and a lot more. He told us many stories, brought me from our little home to those countries, although only in imagination. Since that day, I convinced myself that someday, when I grow up, I will see those places with my own eyes :) About twenty some years later, my turn came. I stand here, a few thousand miles away from home. About once a week I call home, talked to my parents about this place. About the harsh winter in Pittsburgh, about my new town near Philadelphia, about my new job. I might not be here if my father never brought me those pictures, told me st...