Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2005

Gambaran itu jadi kabur

Beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah tante saya. Ia punya anak laki-laki yang belum genap satu tahun umurnya. Namanya Karl, seorang anak laki-laki yang lucu – putih, bermata sipit, tapi berambut keriting – perpaduan yang manis hasil peranakan Cina – Jawa, tidak seperti saya yang berat sebelah ;) Om Robert, suami Bu Tari – saya biasa memanggil tante saya dengan panggilan Bu – iseng mencandai saya. “Nggak segera pengen bikin mainan kayak gini Mit :) ?”. Saya cuma bisa nyengir kuda. Alih-alih ingin menggendong bayi seperti banyak teman sebaya, keinginan yang dulu pernah ada kok seolah menghilang ya. Dulu saya selalu membayangkan, saya akan berdiri dengan menggendong seorang anak perempuan kecil, bermata belok (seperti mata saya ;), pipi berwarna merah jambu yang tembem dan sehat, berambut pendek ikal, dengan kulit yang lumayan putih, hehehe. Di samping saya berdiri suami saya (wajahnya sih beberapa kali berubah-ubah, tergantung gambaran saat itu, yang menurut saya bakal jadi ...
Hmmm, gara-gara blogwalking ngisi waktu, jadi kangen sama seseorang. Seorang pria cerdas pelahap buku, penyuka puisi dan lagu lama. Unfortunately we are now as closed as a fingertip, as far as two strangers. - Hi there, apa kabar? -

Tes psikiatri

Beberapa hari yang lalu saya membaca pengumuman bahwa saya lolos test psikiatri. Kejadiannya berawal dari beberapa bulan yang lalu, setelah berhasil melewati seleksi awal penerimaan calon pegawai di salah satu institusi pemerintah, saya dipanggil untuk mengikuti test psikiatri. Waduh, ini pengalaman pertama saya ikut test psikiatri. Kayak apa sih test-nya? Selama ini test psikologi yang saya kenal adalah psikotest standard yang biasa diselenggarakan kalau kita melamar pekerjaan. Hiks, ,saya benci psikotest! Apalagi kalau sudah disuruh mengerjakan soal-soal dengan gambar kubus-kubus yang dibolak-balik. Mendingan saya disuruh ngitung soal-soal matematika sebanyak-banyak gambreng! Nah, ternyata test psikiatri jauh berbeda. Buat saya yang males mikir lama-lama, cenderung ngasal dan cuek (kata seorang sahabat, saya jago nembak soal-soal yang jawabannya saya nggak tahu - itu lho, rumus menghitung kancing, hahaha) test psikiatri jauh lebih menyenangkan. Tidak ada kubus-kubus imajiner, tidak a...

Foto pre-wedding

“Eh, si Mite udah pulang kondangan. Gimana kondangannya ?” “Hiks, tadi aku nyampe sana makanannya udah hampir habis. Jadi cuma makan dikit.” “Liat dong souvenirnya …” “Tuh di meja …” “Huahahaha … “ “Lho ?? Kok ketawa ?” “Abis, souvenirnya kalender poto-poto pre-wedding. Temenmu tega deh Mit, kamu disuruh liat tampangnya dia tiap hari selama setaun penuh … “ “Hahaha … bener juga ya, aku harus ngeliat tampang si Mamat setaun penuh. Mungkin dulu dia bercita-cita jadi model, lalu gak kesampaian. Jadi sekarang dia memaksa teman-temannya untuk setaun penuh memajang potonya dia … “ “Sekarang lagi nge-trend ya poto-poto pre-wedding. Dari undangan sampai souvenir, semuanya dihiasin poto pre-wedding” “Ho oh, mending kalo jauhjenik kayak aku ya Mit, lha kalo enggak :p ?” “Hahaha … dasar narcist. Tapi kalo aku married nanti, aku emoh ah majang poto pre-wedding di undangan. Undangan kan pasti dibuang kalo dah gak kepake. Jadi poto kita bakal dibuang-buang sama orang. Kok aku gak tega ya liat potoku...

Bangun

Sambil menyantap sate ayam di Blok S malam itu, saya dan Setio – sahabat saya, berbincang ngalor ngidul tentang business trip – nya seminggu yang lalu ke Manila *thanks buat kaos HRC nya ya :) … * Kami sudah bersahabat sejak awal masa kuliah dulu, tahun 1996 … sudah lama sekali rasanya. Sekarang dia bekerja di salah satu perusahaan asuransi asing sebagai business analyst, dan dia baru saja mendapat tawaran di perusahaan lain. Obrolan itu membuat saya ingat jatuh bangunnya kami berdua ketika mencari pekerjaan selepas masa kuliah. Dulu sekali, waktu baru saja lulus, kami dan beberapa sahabat yang lain mendapat kesempatan untuk interview di sebuah perusahaan asing untuk ditempatkan di Paris dan Beijing. Dari sekian banyak kandidat, akhirnya semua lolos, kecuali kami berdua. Tentu saja kami sangat terpukul, sampai-sampai menyempatkan diri bertandang ke sebuah kapel kecil di RS Boromeus untuk berdoa, mungkin lebih tepatnya untuk protes ke Tuhan, padahal Setio bukan penganut Katolik. Waktu i...

Dan saya akan tetap bergulat dengan Tuhan ...

Posting ini terinspirasi dari beberapa blog yang saya kunjungi belakangan... Kemarin iseng-iseng saya berkunjung dari blog satu ke blog lain, mengikuti link-link yang ada di blog-blog itu. Sampai mata saya tertuju ke sini . Baru kali itu saya masuk ke blog tersebut, tapi postingnya langsung 'kena'. Mengapa saya selama ini memandang hidup saya dari satu sisi saja? Seperti mata uang yang punya dua sisi, demikian pula hidup saya. Ada sisi keberhasilan, suka cita, dan kebahagiaan. Di sisi yang lain ada kegagalan dan airmata. Tapi sifat saya yang keras kepala dan tidak pernah puas membuat saya selalu berat sebelah. Mata uang itu tak lagi imbang, keberhasilan dan kebahagiaan yang saya dapatkan tak akan pernah membuat saya puas. Contoh simpel dan sepele adalah scholarship yang saya dapatkan baru-baru ini. Bertahun-tahun saya mencoba mencari beasiswa (saya ingat, beasiswa pertama yang saya coba apply adalah AUSAID thn 2000, waktu saya baru saja lulus), dan tidak ada yang sukses. Sampai...

Di rumah

Aduh ngantuknya, berulang kali saya menguap siang ini, gara2 kereta Taksaka yang terlambat empat jam dari seharusnya *selalu aja cari kambing hitam :D*, sehingga saya baru masuk ke Jakarta tepat pukul delapan pagi. Cepat-cepat cari taksi, pulang ke kost, mandi, dan langsung berangkat ke kantor. Long weekend ini saya habiskan di Jogja. Pulang ke rumah, bertemu papa - mama - emak - adik. Penyakit lama saya kambuh begitu sampai rumah. Malas ke mana-mana. Lebih enak menghabiskan waktu tidur-tiduran di rumah, hahaha ... males sekali. Saya cukup puas dengan membaca dan menikmati gambar-gambar indah dari setumpuk majalah National Geographic koleksi Papa, sambil bolak-balik ke ruang makan mengambil tempe goreng di lemari. Tidak ada main ke mall, tidak ada ngopi ke Starbuck, yang ada hanya bersantai di rumah. Ngobrol hal-hal yang gak penting dengan keluarga. Menikmati foto-foto lama, saling mencela tentang masa kecil dengan sepupu-sepupu. Bertandang ke om dan tante, ngobrol lagi di sana. Itu ya...