Skip to main content

Dan saya akan tetap bergulat dengan Tuhan ...

Posting ini terinspirasi dari beberapa blog yang saya kunjungi belakangan...

Kemarin iseng-iseng saya berkunjung dari blog satu ke blog lain, mengikuti link-link yang ada di blog-blog itu. Sampai mata saya tertuju ke sini. Baru kali itu saya masuk ke blog tersebut, tapi postingnya langsung 'kena'. Mengapa saya selama ini memandang hidup saya dari satu sisi saja? Seperti mata uang yang punya dua sisi, demikian pula hidup saya. Ada sisi keberhasilan, suka cita, dan kebahagiaan. Di sisi yang lain ada kegagalan dan airmata. Tapi sifat saya yang keras kepala dan tidak pernah puas membuat saya selalu berat sebelah. Mata uang itu tak lagi imbang, keberhasilan dan kebahagiaan yang saya dapatkan tak akan pernah membuat saya puas.

Contoh simpel dan sepele adalah scholarship yang saya dapatkan baru-baru ini. Bertahun-tahun saya mencoba mencari beasiswa (saya ingat, beasiswa pertama yang saya coba apply adalah AUSAID thn 2000, waktu saya baru saja lulus), dan tidak ada yang sukses. Sampai saya sampai pada titik zero expectation. No more trying. Lalu tiba2 saja ada yang menawarkan beasiswa. Maka dapatlah saya beasiswa untuk lanjut S2. Tapi lalu tiba-tiba di tengah rasa bersyukur itu ... eng i eng ... saya flash back ke setahun yll. Ingat sebuah kejadian pahit. Kalau aja yang pahit itu gak terjadi, kayaknya mo disodorin beasiswa di depan hidung pun aku gak akan ambil :) ... Is it what so called "blessing in disguise" ? Menurut hasil googling, blessing in disguise = a good thing that you don't recognize at first. But as I person who never feel satisfied, saya masih saja bertanya-tanya, kok jalannya musti gitu ya. Kok saya musti lewat jalan yang sangat tidak mengenakkan? I really thank God for my succeed, but it doesn't stop me thinking "Kenapa saya tidak boleh mendapatkan dua hal yang bagus instead of satu kegagalan dan satu keberhasilan :) ? Maruk ya :) ?"

Membuat mata uang itu menjadi seimbang, sungguh merupakan pekerjaan berat buat saya. Bahkan saya sempat 'marah' kepada Dia, karena semua upaya saya seolah tak ada artinya. Semua kerja keras, doa, dan air mata saya seolah diacuhkan begitu saja. Saya berhenti berdoa, berhenti meminta. Saya seolah terjebak dalam ruang sempit tak berpintu. Dengan keras kepala saya tetap membenturkan kepala dan hati saya ke dinding yang keras itu. Tiba-tiba berkat itu datang. Tidak seperti yang saya minta. Dinding itu tetap keras, tapi ada jendela yang tiba-tiba terbuka untuk keluar dari ruang yang sesak itu.

Tampaknya saya akan melangkah melalui jendela itu, meninggalkan dinding yang tetap keras tak tertembus. Saya bersyukur untuk jendela yang terbuka itu. Walaupun dalam hati saya, pertanyaan itu masih selalu ada.

Dalam buku yang saya baca beberapa minggu yang lalu "The Fifth Mountain - by Paulo Coelho", diceritakan dengan apik tentang pergulatan Yakub, seorang tokoh Perjanjian Lama, melawan Tuhan. Semalaman dia bergulat dengan Tuhan, dan dia tidak berhenti sampai Tuhan mau memberikan berkatNya. Dan akhirnya pergulatan itu berhenti, Tuhan memberikan berkatnya atas Yakub. Tampaknya saya sama keras kepalanya dengan Yakub. Saya bersyukur, sungguh saya bersyukur, atas jendela yang terbuka itu. Tapi saya akan tetap bertanya kepada Tuhan, sampai Ia memberikan jawabNya, dan memberkati saya.

Comments

Popular posts from this blog

Thanksgiving 2020

What a crazy ride we have been riding in 2020. The COVID-19 pandemic has pretty much put our life on hold, if not going on a slower pace. I feel that we are running a marathon, and it's not over yet. The emotional toll that we have been experiencing since March is real. Everything that we used to take for granted, like meeting up with friends, birthday parties, kids activities, traveling, the convenience of doing grocery shopping anytime we want, a lot of them have been taken away from us, from my family. No more parties, no more lunch or dinner with friends, no more invitation for birthday parties, no more traveling. Perhaps my life had become too easy before the pandemic. We had to switch Nathaniel from a brick and mortar school to a cyber school. I tried to plan my grocery trips ahead of time to avoid crowds. We had to wear masks everywhere. But at least we are healthy. At least I am facing this together with my husband and kids as a family. At least I am at home that is fu...

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

What would they decide ?

When I was a little girl, I heard a lot of stories about far-away lands from my mother. She told me stories that she got from my father's letters when he was away. Our family was apart for four years. My father went to school to Montpelier, France while my Mom raised my brother and me in Yogyakarta. Every other year Dad visited us, brought a lot of books and pictures home. Pictures of Versailles, Lourdes, Marseilles, Spain, and a lot more. He told us many stories, brought me from our little home to those countries, although only in imagination. Since that day, I convinced myself that someday, when I grow up, I will see those places with my own eyes :) About twenty some years later, my turn came. I stand here, a few thousand miles away from home. About once a week I call home, talked to my parents about this place. About the harsh winter in Pittsburgh, about my new town near Philadelphia, about my new job. I might not be here if my father never brought me those pictures, told me st...