Skip to main content

Foto pre-wedding

“Eh, si Mite udah pulang kondangan. Gimana kondangannya ?”
“Hiks, tadi aku nyampe sana makanannya udah hampir habis. Jadi cuma makan dikit.”
“Liat dong souvenirnya …”
“Tuh di meja …”
“Huahahaha … “
“Lho ?? Kok ketawa ?”
“Abis, souvenirnya kalender poto-poto pre-wedding. Temenmu tega deh Mit, kamu disuruh liat tampangnya dia tiap hari selama setaun penuh … “
“Hahaha … bener juga ya, aku harus ngeliat tampang si Mamat setaun penuh. Mungkin dulu dia bercita-cita jadi model, lalu gak kesampaian. Jadi sekarang dia memaksa teman-temannya untuk setaun penuh memajang potonya dia … “
“Sekarang lagi nge-trend ya poto-poto pre-wedding. Dari undangan sampai souvenir, semuanya dihiasin poto pre-wedding”
“Ho oh, mending kalo jauhjenik kayak aku ya Mit, lha kalo enggak :p ?”
“Hahaha … dasar narcist. Tapi kalo aku married nanti, aku emoh ah majang poto pre-wedding di undangan. Undangan kan pasti dibuang kalo dah gak kepake. Jadi poto kita bakal dibuang-buang sama orang. Kok aku gak tega ya liat potoku dibuang ke tempat sampah … “
“Ho oh, padahal dah capek-capek dandan maksimal ya. Tapi inget gak Mit, kayaknya beberapa bulan yang lalu ada yang pengen poto pre-wedding ya … :p ?! Huahaha … “
“Siapa Mbak? Eh, aku ya ?” *nyengir mode on*

-beberapa bulan yang lalu –

“Lho Mit, tumben buka-buka majalah cewek. Temanya wedding pula …”
“ Mbakkkk … “ *guling-guling di kasur, sambil meluk guling*
“Kamu kenapa Mit ? “
“Huhuhuuu … pengen poto pre-wedding … “
“Huahaha. Kenapa kamu ?! Ada-ada aja, pengen pre-wedding segala. Salah makan apa?”
“Soalnya kemaren si Dewi bilang kalau dia mau moto-motoin kalau aku mo poto pre-wedding. Terus kemaren abis liat poto-poto hasil jepretannya Dewi. Bagus-baguss … Jadi pengen poto pre-wedding …”
“Boleh-boleh aja sihh, masalahnya, kamu mau pre-wedding sama sapa Mit ?”
“Kata Dewi pake stuntman ajah … hehehe … Ntar mukanya bisa diedit :p … “
“Wah, boleh juga tuh idenya, hahaha. Tapi siapa yang mau jadi stuntman, ya ??! “
“Apes-apesnya si Didiek boleh juga kata Dewi …. “
“Huahaha, tampang preman kayak gitu ?!”
“Ya kalo poto pre-wedding bagus karena emang udah ganteng dari sononya kan gak heran dong. Tapi kalau yang tampang preman bisa jadi bagus, berarti emang kualitas potonya gak diragukan lagi kan … hahaha … Lagian aku kan dah cantik, cukup membantu lah … ting ting … hahaha … “
“Tapi serius deh Mbak, jepretannya si Dewi bagus-bagus. Dia pinter ngambil moment dan angle yang bagus. Jadi gak pasaran.”
“Trus?”
“Ya jadinya pengen dipoto prewedding … hehehe “ *innocent mode on*
“Bocah kok keukeuh” , si Mbak senyum-senyum, sambil ngeloyor meninggalkan aku di kamar kost.

- beberapa nama terpaksa disamarkan … hehehe

Comments

andersonite said…
Huahaha. Kalau kaya gini nggak pernah diceritain ke temen. Tau tau udah muncul di blog. Tenang aja, jaman digital ini, wajah bisa diedit kok. Tinggal pilih temen cowok yang badannya standar hihihi
Mita said…
deweu : huehehe, aku juga dah lupa tentang poto prewedding ini kok kalo mbak wiwin gak komentar tentang souvenir nikahan :D

siwoer : huahaha, itu keinginan sesaat kok :p, gak diwujudkan, konsekuensinya beraatttt :p

Popular posts from this blog

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

Turned out alright

Last week everything turned out alright :) Jumat siang, dengan restu teman2 kantor :p gw cabut dari kantor, walaupun area leader gw ngajakin meeting buat next recipe, tapi dia bilang "Go ahead and don't worry about the meeting, you better get your license today :p" . Jam 12.30an, gw dijemput sama orang dari driving school, dan ngebutlah kita ke DMV Norristown ngejar ujian jam 2 siang. Gw deg2an banget, apalagi karena udah gagal 1x. Kalau gw fail lagi, means that I screw everything up. Karena in the next four weeks para tebengan bakalan cabut ke site di Oregon (gak mungkin kan gw jalan 2 mile ke kantor), kontrak apartment gw habis akhir September dan gw harus cari apartment baru, dan ada chance gw bakalan dikirim ke Oregon juga (walaupun bukan shift pertama). Tapi above it all, hidup tergantung sama orang lain itu sucks. Gw gak bisa bebas ke mana-mana, gak bisa cari kegiatan dan temen2 sendiri (temennya ya cuman temen dari temen gw), gak ada social life sama sekali. Nyampe...