Beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah tante saya. Ia punya anak laki-laki yang belum genap satu tahun umurnya. Namanya Karl, seorang anak laki-laki yang lucu – putih, bermata sipit, tapi berambut keriting – perpaduan yang manis hasil peranakan Cina – Jawa, tidak seperti saya yang berat sebelah ;) Om Robert, suami Bu Tari – saya biasa memanggil tante saya dengan panggilan Bu – iseng mencandai saya. “Nggak segera pengen bikin mainan kayak gini Mit :) ?”. Saya cuma bisa nyengir kuda.
Alih-alih ingin menggendong bayi seperti banyak teman sebaya, keinginan yang dulu pernah ada kok seolah menghilang ya. Dulu saya selalu membayangkan, saya akan berdiri dengan menggendong seorang anak perempuan kecil, bermata belok (seperti mata saya ;), pipi berwarna merah jambu yang tembem dan sehat, berambut pendek ikal, dengan kulit yang lumayan putih, hehehe. Di samping saya berdiri suami saya (wajahnya sih beberapa kali berubah-ubah, tergantung gambaran saat itu, yang menurut saya bakal jadi ayah dan suami ideal, hahaha), sedang menggandeng putra pertama kami, anak laki-laki yang sehat, lincah dan bandel seperti umumnya anak-anak, dan anak kami itu sedang tertawa nyengir badung.
Dulu saya juga selalu bilang kepada sahabat saya bahwa saya ingin tinggal di Bandung, jadi dosen yang pekerjaannya tidak terlalu mengikat, sementara suami saya tetap bisa merintis karier di Jakarta. Dengan adanya tol Cipularang, hal seperti itu sekarang lebih mungkin diwujudkan. Seperti Bu Ita dan suaminya (dosen saya dulu). Dan sahabat saya selalu menimpali, “Ya iyalah, siapa sih yang nggak pengen jadi seperti Bu Ita. Dosen cantik, punya suami yang baik banget dengan kariernya bagus, anak-anak juga ‘kopen’ karena jadi dosen relatif gak menyita waktu.”
Tapi itu dulu. Sekarang, susah membayangkan seperti itu. Bukannya saya tidak ingin berkeluarga dan punya anak, tapi sekarang gambaran itu jadi kabur.
Alih-alih ingin menggendong bayi seperti banyak teman sebaya, keinginan yang dulu pernah ada kok seolah menghilang ya. Dulu saya selalu membayangkan, saya akan berdiri dengan menggendong seorang anak perempuan kecil, bermata belok (seperti mata saya ;), pipi berwarna merah jambu yang tembem dan sehat, berambut pendek ikal, dengan kulit yang lumayan putih, hehehe. Di samping saya berdiri suami saya (wajahnya sih beberapa kali berubah-ubah, tergantung gambaran saat itu, yang menurut saya bakal jadi ayah dan suami ideal, hahaha), sedang menggandeng putra pertama kami, anak laki-laki yang sehat, lincah dan bandel seperti umumnya anak-anak, dan anak kami itu sedang tertawa nyengir badung.
Dulu saya juga selalu bilang kepada sahabat saya bahwa saya ingin tinggal di Bandung, jadi dosen yang pekerjaannya tidak terlalu mengikat, sementara suami saya tetap bisa merintis karier di Jakarta. Dengan adanya tol Cipularang, hal seperti itu sekarang lebih mungkin diwujudkan. Seperti Bu Ita dan suaminya (dosen saya dulu). Dan sahabat saya selalu menimpali, “Ya iyalah, siapa sih yang nggak pengen jadi seperti Bu Ita. Dosen cantik, punya suami yang baik banget dengan kariernya bagus, anak-anak juga ‘kopen’ karena jadi dosen relatif gak menyita waktu.”
Tapi itu dulu. Sekarang, susah membayangkan seperti itu. Bukannya saya tidak ingin berkeluarga dan punya anak, tapi sekarang gambaran itu jadi kabur.
Comments