Skip to main content

Bangun

Sambil menyantap sate ayam di Blok S malam itu, saya dan Setio – sahabat saya, berbincang ngalor ngidul tentang business trip – nya seminggu yang lalu ke Manila *thanks buat kaos HRC nya ya :) … * Kami sudah bersahabat sejak awal masa kuliah dulu, tahun 1996 … sudah lama sekali rasanya. Sekarang dia bekerja di salah satu perusahaan asuransi asing sebagai business analyst, dan dia baru saja mendapat tawaran di perusahaan lain. Obrolan itu membuat saya ingat jatuh bangunnya kami berdua ketika mencari pekerjaan selepas masa kuliah.

Dulu sekali, waktu baru saja lulus, kami dan beberapa sahabat yang lain mendapat kesempatan untuk interview di sebuah perusahaan asing untuk ditempatkan di Paris dan Beijing. Dari sekian banyak kandidat, akhirnya semua lolos, kecuali kami berdua. Tentu saja kami sangat terpukul, sampai-sampai menyempatkan diri bertandang ke sebuah kapel kecil di RS Boromeus untuk berdoa, mungkin lebih tepatnya untuk protes ke Tuhan, padahal Setio bukan penganut Katolik. Waktu itu rasanya terpukul sekali dan so sentimental …Hahaha, sekarang kami berdua tertawa terbahak-bahak kalau ingat pengalaman itu.

Perjalanan membawa kami berdua ke tempat yang berbeda. Berbeda dengan saya yang selama hampir 5 tahun ini bertahan di perusahaan yang sama, dia sudah mendarat ke 4 perusahaan. Dengan cara yang berbeda, kami berdua sama-sama berjuang untuk mencapai taraf kehidupan yang lebih baik. Akhirnya perjuangan dan kerja kerasnya selama ini menghasilkan buah yang manis. Setelah beberapa bulan yang lalu ia di-promote sebagai Ass. Man, sekarang ia mendapatkan tawaran yang jauh lebih bagus. Memang dia layak untuk itu. Well, seperti yang dibilang oleh seorang temannya, “You can do the best wherever you are, it’s about personal character, not about company attitude.”

Keberhasilan Setio dalam kariernya dan sukses beberapa sahabat lain mendapatkan Sampoerna scholarship tahun ini menjadi inspirasi saya. Seolah terbangun dari tidur, saya tersadar bahwa kesempatan saya belum habis. Siapa sih yang tidak tergugah kalau dua tahun berturut-turut punya sahabat yang mendapatkan beasiswa Sampoerna overseas? Saya bukan seorang yang career oriented. Tapi terlalu lama di perusahaan yang sama, sejujurnya saya katakan, bisa menumpulkan mental juang saya untuk terus berupaya lebih baik. Saya suka belajar sesuatu yang baru, tantangan baru. Rasanya saya perlu sesuatu yang baru, penyegaran setelah hampir 5 tahun menimba pengalaman di tempat ini. Dan sekarang saya sedang merintisnya.

Comments

Lili said…
Salam kenal yah Mita.
Wah Ummi dah lama tuh gak mampir ke Blog S, kangen jg sama baksonya.
Kaos HRC Ummi jg koleksi, baru ada KL, Sing, Bali ajah tuh...kayaknya kalau punya Manila seru jg.
sudi mampir?

Popular posts from this blog

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

Turned out alright

Last week everything turned out alright :) Jumat siang, dengan restu teman2 kantor :p gw cabut dari kantor, walaupun area leader gw ngajakin meeting buat next recipe, tapi dia bilang "Go ahead and don't worry about the meeting, you better get your license today :p" . Jam 12.30an, gw dijemput sama orang dari driving school, dan ngebutlah kita ke DMV Norristown ngejar ujian jam 2 siang. Gw deg2an banget, apalagi karena udah gagal 1x. Kalau gw fail lagi, means that I screw everything up. Karena in the next four weeks para tebengan bakalan cabut ke site di Oregon (gak mungkin kan gw jalan 2 mile ke kantor), kontrak apartment gw habis akhir September dan gw harus cari apartment baru, dan ada chance gw bakalan dikirim ke Oregon juga (walaupun bukan shift pertama). Tapi above it all, hidup tergantung sama orang lain itu sucks. Gw gak bisa bebas ke mana-mana, gak bisa cari kegiatan dan temen2 sendiri (temennya ya cuman temen dari temen gw), gak ada social life sama sekali. Nyampe...