Skip to main content

Lain padang lain belalang

Tadi siang advisor saya mengeluhkan salah satu bimbingannya, seorang mahasiswa dari negara kaya minyak, yang menurutnya lebih memprioritaskan pulang kampung daripada mengerjakan research PhDnya. Well, if you already have everything, can you still expect the spirit to fight :) ? In some cases yes, but mostly no ... Selain demi prestise, ngapain juga dia susah-susah mengerjakan research :D? Tidak seperti saya dan beberapa mahasiswa lain dari negeri 'susah' yang memang harus berjuang buat kehidupan yang lebih baik :p *cieeee ...*

Lain ladang memang lain belalang. Beda negara, beda pula karakter orang-orangnya. Well, mungkin itu salah satu keuntungan belajar di US, kita bertemu orang-orang dari berbagai belahan dunia. Selama bekerja di Jakarta, saya hanya memiliki sedikit kesempatan untuk berinteraksi dengan orang dari negara lain, itu pun mostly Asia - Singapore, Hongkong, dan Malaysia. Baru ketika di Pittsburgh, saya benar-benar bertemu dengan berbagai bangsa. Asik juga mendengarkan cerita2 dari mereka atau melihat kebiasaan mereka yang berbeda dari kita.

Kebiasaan orang-orang hitam contohnya. Kalau naik mobil, mereka selalu menyetel musik hip hop keras-keras (istilah saya sampai 'jedag-jedug'), kaca diturunkan, dan teman saya menambahkan, kursi mobil selalu ditarik sampai jauh kebelakang (menurut saya sih ini karena mereka rata2 tinggi2) dan nyetir dengan satu tangan. Kadang-kadang saya geli sendiri kalau teman saya (sesama orang Indonesia) menjemput saya dengan musik yang disetel keras-keras, serasa dijemput oleh seorang rapper atau penyanyi hip hop kulit hitam, hahaha.

Lain lagi dengan kultur orang Thai yang cinta banget ma rajanya. Sampai-sampai, waktu hari ultah rajanya, (lagi2 menurut temenku), status semua anak Thai di MSN adalah i love my king atau sebangsa itu lah :). Menurut temenku, saking sayangnya mereka sama rajanya, mereka akan marah banget kalo kita mbecandain rajanya dengan guyonan yang sarkastik.

Huehehe, emang lucu dan unik-unik. Well, mungkin di mata mereka, orang Indonesia itu juga lucu, menggemaskan, dan sekaligus menyebalkan karena jam karet :D *walaupun saya berusaha seminimal mungkin jadi jam karet :D* ... Nah, karena ini sudah hampir jam setengah dua malam, kita sudahi dulu posting kali ini.

Happy weekend everyone!

Comments

Anonymous said…
hihihihi.. kita punya pengalaman sama soal orang2 African American. Selain doyan nyetel musik keras2 di mobil dan buka kaca jendela (kadang2 ini ganggu juga sih..), mereka juga kalo lagi ngobrol suka kayak saling teriak. weh, kalah deh suku gw! :D
Anonymous said…
Mit, kayanya tergantung orang per orang...punya temen orang kuwait, ngambil phd matematik, rajin banget dan jarang pulang ke negaranya. Tapi memang sih, rata-rata yang dari negara kaya minyak itu, seperti yang Mita ceritain :-)
redwhitebride said…
menarik memang kalo punya kesempatan berbaur dengan orang2 dari berbagai belahan dunia. satu hal yang gw sadarin: stereotype (walau ditentang abis2an) itu ternyata sering bener, in most cases...

Popular posts from this blog

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

Turned out alright

Last week everything turned out alright :) Jumat siang, dengan restu teman2 kantor :p gw cabut dari kantor, walaupun area leader gw ngajakin meeting buat next recipe, tapi dia bilang "Go ahead and don't worry about the meeting, you better get your license today :p" . Jam 12.30an, gw dijemput sama orang dari driving school, dan ngebutlah kita ke DMV Norristown ngejar ujian jam 2 siang. Gw deg2an banget, apalagi karena udah gagal 1x. Kalau gw fail lagi, means that I screw everything up. Karena in the next four weeks para tebengan bakalan cabut ke site di Oregon (gak mungkin kan gw jalan 2 mile ke kantor), kontrak apartment gw habis akhir September dan gw harus cari apartment baru, dan ada chance gw bakalan dikirim ke Oregon juga (walaupun bukan shift pertama). Tapi above it all, hidup tergantung sama orang lain itu sucks. Gw gak bisa bebas ke mana-mana, gak bisa cari kegiatan dan temen2 sendiri (temennya ya cuman temen dari temen gw), gak ada social life sama sekali. Nyampe...