Hari ini beliau berulang tahun ke 58.
Mama adalah sosok yang saya kagumi. Dia adalah perempuan mandiri dan pekerja keras yang membentuk saya untuk bisa berdiri di atas kaki saya sendiri.
Satu hal yang sampai sekarang saya tak habis pikir, adalah pengalaman Mama menjadi orang tua 'tunggal' selama 4 tahun. Ketika umur saya baru 2 tahun, Papa mendapat beasiswa untuk belajar ke luar negeri. Sayangnya beasiswa itu tidak cukup untuk membawa kami sekeluarga. Jadilah kami bertiga - Mama, saya, dan adik saya tinggal di Jogja, sementara Papa di Montpellier selama 4 tahun.
Itu adalah salah satu masa yang terberat dalam kehidupan kami. Hidup kami pas-pas-an di rumah kecil sewaan di kompleks dosen. Saya dan adik saya sering sakit-sakitan. Paling tidak, dalam 4 tahun itu saya 3 kali opname di rumah sakit, sementara adik saya 2 kali. Gaji Papa pun masih harus dipotong karena beliau tugas belajar. Entah bagaimana caranya, tapi Mama survived membesarkan kami sendirian selama 4 tahun itu. Bahkan beliau masih sempat menyelesaikan S2 nya dengan 2 anak kecil rewel yang selalu merecokinya.
Mama juga seorang 'pelajar' seumur hidup. Setelah Papa pulang, mama meneruskan sekolah. Jauh sekali dari sosok saya yang untuk meneruskan S2 saja butuh dipompa dengan doping semangat, beliau berhasil meraih gelar S3 di usia 40an. Beberapa minggu yang lalu, beliau minta bahan-bahan kuliah yang saya ambil di Pittsburgh karena kebetulan sesuai dengan minatnya. "Buat tambahan ide ngajar dan ngasih tugas ke mahasiswaku", katanya.
Tak hanya dalam bidang akademik, Mama saya adalah seorang yang 'nekat' dan tak punya kamus terlambat dalam belajar. Di awal umur 50-an, beliau belajar nyetir mobil. Walaupun sampai sekarang sering jadi bahan ledekan karena kalau nyetir suka nekat, tapi 2 jempol saya acungkan padanya. Beliaulah yang ke mana2 menyetir untuk saya kalau saya sedang di rumah. Katanya, "Aku takut kalau kamu yang nyetir, mendingan aku saja".
Hubungan kami tak selalu mulus, terutama di masa-masa remaja saya, ketika saya mudah sekali meledak karena larangan-larangan kecil. Beliau juga yang mewariskan kekeras-kepalaan ini :). Tapi satu hal yang pasti, beliau adalah 'rem' saya, yang selalu mengingatkan bahwa "Uang bukan segalanya".
Ya, dia lah Mama saya. Well, hari ini Mama saya berulang tahun. "Tak ada makan-makan di rumah," katanya, "Papa kan diet, nanti tidak bisa ikut makan-makan." Selamat ulang tahun Ma :)
Mama adalah sosok yang saya kagumi. Dia adalah perempuan mandiri dan pekerja keras yang membentuk saya untuk bisa berdiri di atas kaki saya sendiri.
Satu hal yang sampai sekarang saya tak habis pikir, adalah pengalaman Mama menjadi orang tua 'tunggal' selama 4 tahun. Ketika umur saya baru 2 tahun, Papa mendapat beasiswa untuk belajar ke luar negeri. Sayangnya beasiswa itu tidak cukup untuk membawa kami sekeluarga. Jadilah kami bertiga - Mama, saya, dan adik saya tinggal di Jogja, sementara Papa di Montpellier selama 4 tahun.
Itu adalah salah satu masa yang terberat dalam kehidupan kami. Hidup kami pas-pas-an di rumah kecil sewaan di kompleks dosen. Saya dan adik saya sering sakit-sakitan. Paling tidak, dalam 4 tahun itu saya 3 kali opname di rumah sakit, sementara adik saya 2 kali. Gaji Papa pun masih harus dipotong karena beliau tugas belajar. Entah bagaimana caranya, tapi Mama survived membesarkan kami sendirian selama 4 tahun itu. Bahkan beliau masih sempat menyelesaikan S2 nya dengan 2 anak kecil rewel yang selalu merecokinya.
Mama juga seorang 'pelajar' seumur hidup. Setelah Papa pulang, mama meneruskan sekolah. Jauh sekali dari sosok saya yang untuk meneruskan S2 saja butuh dipompa dengan doping semangat, beliau berhasil meraih gelar S3 di usia 40an. Beberapa minggu yang lalu, beliau minta bahan-bahan kuliah yang saya ambil di Pittsburgh karena kebetulan sesuai dengan minatnya. "Buat tambahan ide ngajar dan ngasih tugas ke mahasiswaku", katanya.
Tak hanya dalam bidang akademik, Mama saya adalah seorang yang 'nekat' dan tak punya kamus terlambat dalam belajar. Di awal umur 50-an, beliau belajar nyetir mobil. Walaupun sampai sekarang sering jadi bahan ledekan karena kalau nyetir suka nekat, tapi 2 jempol saya acungkan padanya. Beliaulah yang ke mana2 menyetir untuk saya kalau saya sedang di rumah. Katanya, "Aku takut kalau kamu yang nyetir, mendingan aku saja".
Hubungan kami tak selalu mulus, terutama di masa-masa remaja saya, ketika saya mudah sekali meledak karena larangan-larangan kecil. Beliau juga yang mewariskan kekeras-kepalaan ini :). Tapi satu hal yang pasti, beliau adalah 'rem' saya, yang selalu mengingatkan bahwa "Uang bukan segalanya".
Ya, dia lah Mama saya. Well, hari ini Mama saya berulang tahun. "Tak ada makan-makan di rumah," katanya, "Papa kan diet, nanti tidak bisa ikut makan-makan." Selamat ulang tahun Ma :)
Comments
Udh kangen dpt cucu tuh... Ilud
Ngingetin sama mamaku, yg walopun gak berpendidikan terlalu tinggi (D-3, tapi jaman itu kan udah lumayan yaaaa... hehehe..) tapi semangat belajarnya tinggi terus, termasuk belajar ng-internet dan punya blog sendiri!
Hidup mama-mama kita!
Mama-ku juga seorang Guru SMP negeri. Beliau nggak berpendidikan tinggi tapi paham betul pentingnya pendidikan buat anak2nya. Jadi, meskipun hidup pas-pasan, dari 4 orang puterinya, 3 lulusan S2 Australia, 1 sarjana yang akan bersekolah ke Jerman. Salut buat juga buat Bapak-ku, yang memilih untuk naik mobil butut untuk menyekolahkan kami meskipun dengan biaya sekolah itu sebenarnya dia bisa beli mobil idamannya. Sayang beliau pergi sebelum kami bisa membalaskan jasa2nya.