Skip to main content

Yang menggembirakan - yang menyedihkan

*Update : taunnya salah yang sedih #1, bukan 2005, tapi 2000 :). *

Membaca posting teteh ini, saya jadi senyum-senyum sendiri dan ingin berbagi cerita tentang momen-momen suka dan duka dalam hidup saya. Here we go, semoga juga bisa membuat kalian senyum-senyum waktu membacanya, hahaha.

Yang menggembirakan :

1. Ulang tahun ke-28 kemarin. Pertama kali ulang tahun di negeri orang, ini pertama kalinya ulang tahun saya dirayakan dengan surprise party. Teman-teman saya sukses menipu saya dengan berbagai alasan untuk menyiapkan pesta itu. Malam itu kami dinner bareng-bareng, lalu setelahnya Joek mengantarkan saya pulang. Tapi dengan alasan mau mengambil surat di kantor ceweknya, saya diculik supaya teman-teman lain bisa menyiapkan surprise party itu. Hihihi, geli kalau mengingat-ingat betapa saya manggut-manggut dan mengiyakan waktu dengan tampang sok innocentnya dia bilang, "Duh, kasian Naomi, dia lagi nungguin surat buat internship di India, tapi suratnya belum datang". Sial, gw ditipu mentah-mentah! Hahaha

2. Diterima di Informatika ITB tahun 1996. Malam menjelang pengumuman UMPTN, saat orang lain sibuk mencari tahu hasil UMPTN, saya dengan tenangnya tidur. Toh besok pagi juga bisa lihat di koran, hehehe. Tengah malam buta Fika, sahabat SMA saya, menelpon. Saya masih ingat betul kata-katanya, "Mit, kayaknya kamu diterima di ITB, soalnya kode jurusannya aneh, bukan kodenya UGM." HAH? Saya diterima di ITB? What a big surprise! Gimana nggak surprise, memilih jurusan IF-ITB pun hanya gara-gara panas dengan seorang teman yang memilih jurusan yang sama, tapi di ITS. Hahaha, alasannya gak serius blas ya :p

3. Operasi by-pass papa sukses. Sekitar bulan Februari/Maret 2004, papa saya divonis mengalami penyumbatan pembuluh darah ke jantung. Alih-alih cuti seminggu untuk cek-up dan di-balon di RS Harapan Kita, Papa harus menjalani operasi by pass.Itu momen yang paling menegangkan dalam hidup saya, Papa masuk kamar operasi jam 1 siang, dan sampai jam 6 sore belum ada kabar apa-apa dari kamar operasi. Ketegangan itu berkurang sedikit waktu dokter berkata operasi berjalan dengan sukses. Tapi hanya Mama yang boleh masuk menengok Papa. Semalaman kami menunggu di rumah sakit, ditemani om2 dan tante2 saya - kakak dan adik-adik Papa.Syukurlah, semua ketegangan itu langsung hilang dan berubah menjadi kegembiraan dan rasa syukur yang luar biasa ketika besok paginya saya diperbolehkan masuk ke kamar Papa, dan melihat Papa saya sudah segar bugar, bahkan sudah bisa makan sendiri tanpa disuapi !

4. Diterima di University of Pittsburgh dan Bank Indonesia pada saat yang bersamaan, Desember 2000. 5 tahun stucked di perusahaan yang sama sempat membuat saya rada frustrasi. Maka ketika teman kost saya dengan semangat 45 menyuruh saya mendaftar ke BI, saya iya-iya saja dan melakukannya tanpa beban. Begitu pula ketika seorang teman yang lain memberi informasi beasiswa di University of Pittsburgh, well, itung-itung undian berhadiah, saya jalani saja dua-duanya. Tak disangka, mungkin justru karena dijalani tanpa beban yang berlebihan, saya justru diterima dua-duanya. Saya sungguh bersyukur atas berkat ini. Dua-duanya sama-sama bagus, sama-sama menjanjikan, tapi seolah saya dihadapkan pada simpang jalan yang sama sekali berbeda arah. Well, setelah pusing menimbang-nimbang, jadilah saya membuat keputusan untuk melepaskan BI dan terbang ke kota di ujung lain dunia ini, hehehe. Beberapa orang menyesalkan pilihan saya itu, tapi ya sudah, itu pilihan saya. Untunglah keluarga saya supportif keputusan saya. Doakan saja semoga pilihan saya tidak salah ;), hihihi.

5. Jatuh cinta ;). I should admit that I am not good at all untuk urusan yang satu ini, hehehe. Setidaknya sampai sekarang, selalu saja berantakan. Tapi bagaimanapun juga, jatuh cinta, dating, dan kupu kupu yang menari-nari di perut ketika bertemu 'dia' selalu menjadi momen yang membahagiakan. Well, semoga saja saya tidak kapok untuk merasakan sensasi jatuh cinta yang sejuta rasanya itu, hahaha. Omong-omong, sudah cukup lama saya tidak jatuh cinta. Ada yang mau saya jatuh-cintai? Hihihi, just kidding :p

Yang membuat saya sedih :

1. Ditolak Schlumberger. November 2005. Schlumberger mengadakan rekrutmen besar-besaran di jurusan saya untuk ditempatkan di Paris dan Beijing. Tidak ada acara psikotes dan tetek bengek lainnya, saya dan teman-teman sejurusan langsung dipanggil untuk interview akhir. Saya salah menjawab pertanyaan interviewer, wong yang dicari programmer kok saya bilang nggak suka programming, huehehe (and now it turns out that I am a programmer ;). Jelas saja tidak diterima. Huhuhuuu, sedihnya. Dari sekian applicant (yang sebagian besar adalah sahabat-sahabat dekat saya), cuma saya dan Setio (my best buddy - sampai sekarang :)) yang tidak diterima. Yang lucunya, sehabis ditolak, kami berdua pergi ke kapel Borromeus buat berdoa dan mengadu, huehehehe. Sekarang kami berdua tertawa terbahak-bahak kalau ingat momen ini. Culunnya kita ya 'Yo :)

2. Patah hati di ulang tahun ke-25. Beberapa bulan berjalan bersama, dia sukses membuat saya jatuh hati. Waktu itu, rasanya dia adalah yang paling ideal. Tapi belakangan kami makin jauh, well, saya sudah siap-siap patah hati. Tapi saya tidak pernah bermimpi gong-nya justru di hari ulang tahun saya. Dari seorang teman, saya tahu akhirnya dia jadian dengan cewek lain. Hmmm, rasanya seperti terjun bebas ke jurang kali ya :p. Hehe, anyway, sekarang cerita ini cuma sekedar jadi old-archive dalam hidup saya :) Walaupun sempat membuat saya hancur cukup lama, tapi kehadiran cowok ini dalam hidup saya tetap saya syukuri. At least waktu itu dia yang memotivasi saya untuk lebih serius menyiapkan diri kalau memang mau sekolah lagi. Kami berdua sempat apply bareng untuk mencari beasiswa ke Belanda, dan gagal total. Tapi ternyata score2 GRE dan TOEFL yang saya dapat waktu itu, finally helped me to get here in Pittsburgh, hehehe.

3. Gempa Jogja. Siapa yang tidak sedih mendengar kota kelahirannya porak poranda karena gempa? Apalagi, hari itu adalah hari pernikahan sepupu saya. Semua famili berkumpul di Jogja untuk merayakannya. Tapi Tuhan berkehendak lain. Syukurlah keluarga saya selamat. Sampai sekarang pun, gempa masih saja menggoncang kota saya itu. Sebenarnya saya tak sabar untuk segera pulang dan menengok sanak keluarga dan teman-teman di sana. Tapi apa daya, I can not afford it right now.

4. Last but not least, homesick. 10 tahun jauh dari rumah ternyata tidak membuat saya lebih tabah untuk tidak homesick. Sebenarnya saya relatif mudah untuk menyesuaikan diri dengan tempat dan situasi baru, sekaligus membuat diri saya betah. Demikian pula di Pittsburgh. Everything is OK, saya cukup betah di sini. Tapi kalau lagi homesick, beuhh, sedih dan kangen setengah mati. Teman saya sering sekali mentertawakan keinginan saya untuk pulang, "Kamu indo banget sih :D". Yah, gimana ya, walaupun ngeluyur ke sana sini adalah salah satu hobi saya, tapi saya biasanya selalu pulang kandang untuk charging batere saya :) Sekarang saya sedang latihan survival nih ceritanya, hehehe.

Ternyata, dibalik semua kegembiraan dan kesedihan saya, selalu ada hikmahnya. Banyak hal yang saya nggak ngerti kenapa harus begini, kenapa harus begitu. Tapi tak ada pilihan selain menjalani semuanya dengan sebaik-baiknya. Dan sekarang pun, saya masih berusaha :)

Comments

Merlyna said…
hello... thanks udah berkunjung ke blog saya. iya, sama2 anak ITB, tapi saya AR.. dan angkatan yg lebih tuwek.. hehe. salam kenal ya mit..
oh ya, itu yg menggembirakan ada 5 points, jadi masih menang deh dari yg menyedihkan :)
Anonymous said…
melepaskan BI? hebat Mit, percaya diri banget untuk ngambil pilihan yang 'ga mainstream' ;).

sukses yaaa :)
andersonite said…
251144 ya? Saya masih ingat. Dan saya juga kan yang menyampaikan kabar buruk di hari ulang tahun itu. Maaf yaaaaaaaaaaaaaaa
Mita said…
mer : halo salam kenal :) iya, masih lebih banyak gembiranyak kok ;)

yanti : enggak sepede itu benernya :) makasih doanya yaa ...

siwoer: kayaknya lebih gampang jatuh dari tangga ato bis dari pada jatuh cinta, hahaha.

deweu : bukan salah kamu :), sekarang udah jadi cerita lalu di map yang berdebu.
Anonymous said…
Iya nih, mb Mittaa.... yet another person yang menolak BI ^_^.
Inget Reni gak? kita wawancara bareng tahap akhir :)

Semoga sukses yaaaaa.. sekolahnyaaa =)

Popular posts from this blog

Thanksgiving 2020

What a crazy ride we have been riding in 2020. The COVID-19 pandemic has pretty much put our life on hold, if not going on a slower pace. I feel that we are running a marathon, and it's not over yet. The emotional toll that we have been experiencing since March is real. Everything that we used to take for granted, like meeting up with friends, birthday parties, kids activities, traveling, the convenience of doing grocery shopping anytime we want, a lot of them have been taken away from us, from my family. No more parties, no more lunch or dinner with friends, no more invitation for birthday parties, no more traveling. Perhaps my life had become too easy before the pandemic. We had to switch Nathaniel from a brick and mortar school to a cyber school. I tried to plan my grocery trips ahead of time to avoid crowds. We had to wear masks everywhere. But at least we are healthy. At least I am facing this together with my husband and kids as a family. At least I am at home that is fu...

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

What would they decide ?

When I was a little girl, I heard a lot of stories about far-away lands from my mother. She told me stories that she got from my father's letters when he was away. Our family was apart for four years. My father went to school to Montpelier, France while my Mom raised my brother and me in Yogyakarta. Every other year Dad visited us, brought a lot of books and pictures home. Pictures of Versailles, Lourdes, Marseilles, Spain, and a lot more. He told us many stories, brought me from our little home to those countries, although only in imagination. Since that day, I convinced myself that someday, when I grow up, I will see those places with my own eyes :) About twenty some years later, my turn came. I stand here, a few thousand miles away from home. About once a week I call home, talked to my parents about this place. About the harsh winter in Pittsburgh, about my new town near Philadelphia, about my new job. I might not be here if my father never brought me those pictures, told me st...