Skip to main content

At least I am moving forward

Barusan saya menerima sebuah artikel dari Sigit, seorang kawan lama. Artikelnya menarik, dan seperti biasa, berkobar-kobar penuh semangat, dan kalau memakai bahasa kami-kami dulu, meningkatkan energi. Berhubung artikelnya panjang sekali, ini saya cuplik bagian-bagian pentingnya. Buat yang mau artikel lengkapnya atau ingin kontak dengan penulisnya, bisa hubungi saya, dan akan saya kirim via japri.

MOVING FORWARD
song by: Hoobastank

At least I'm moving forward.
At least I'm moving forward.
At least I'm moving forward.
At least I'm moving forward...

I stand before, a road that will lead,
into the unknown. At least unknown to me.
I want to go, but I'm paralysed with fear.
Fear of a choise, where the outcome isn't clear.

Nooo, but still I gooo.

And I take, the first step of a million more.
And I'll make mistakes I've never made before.
But at least I'm moving forward, at least I'm moving forward.
At least I'm moving forward...

I wonder if, the journey will be,
Shorter as I hope, or much longer than it seems.
But either way, I've made up my mind.
I'm through feeling scared, I'm leaving that behind.

Sooo, Now it's time to gooo.

---- Cut by Sigit-b ----


Sudah banyak petuah, cerita, artikel, training-training dan kisah hidup yang menceritakan perihal kesuksesan; entah itu dalam hal olah raga, ilmu pengetahuan, bisnis, perjalanan hidup dan lain sebagainya. Begitu beragamnya cerita kesuksesan yang bisa digali membuat ide-kisah ini tak pernah habis untuk dieksplorasi.

Pada akhirnya berbagai dialog batin, ketakutan dan keberanian akan sebuah keputusan baru, keberanian anda untuk menata diri, hingga tetap mencoba bertekun dan setia yang akan mengantarkan anda untuk terus berusaha moving forward, bergerak maju.

Pada awal tulisan ini saya kutipkan syair lagu yang dinyanyikan oleh Hoobastank. Menarik jika anda coba lihat kalimat-demi kalimat yang ada dalam lagu itu. Suasana kegundahan hati sangat terlihat dalam bait lagu tersebut; di satu sisi ia harus membuat sebuah keputusan baru, tetapi di satu sisi dia tidak yakin apakah keputusan itu akan secara pasti-mutlak menghasilkan hasil yang bagus?

Saya melihat proses dialog batin terjadi dalam syair lagu tersebut. Ketakutannya akan hasil yang tidak jelas, pun keinginan nya untuk terus melangkah adalah bukti bagaimana tarik ulur rasa ini sedang terjadi.

Lihat proses berikutnya; dia membayangkan saat keputusan itu diambil, akan banyak kesalahan yang mungkin akan dia lakukan, yang selama ini belum dia buat. Sampai titik ini, tentunya perasaan tidak berani untuk maju menjadi lebih dominan. Tetapi, menarik apa yang kemudian terjadi.

Dirinya menerima, meng-AMINI pelbagai kesalahan yang mungkin akan terjadi, yang (bahkan) lebih banyak dari sebelumnya. Tentunya peng-Aminan ini tidak serta muncul begitu saja. Menurut saya kesadaran ini disemprotkan oleh tubuhnya pun berdasarkan pengalamannya selama ini; bagaimana dia berdamai-dan bertekad dengan kesalahan yang dibuatnya. Setelah itu, entah bagaimana prosesnya (sangat unik) tubuhnya mau menerima dan mengambil sebuah keputusan baru, dan ia pun malangkah maju.

Penutup

Fear of a choise, where the outcome isn't clear.
but still I gooo.
But at least I'm moving forward, at least I'm moving forward.


Saya merasa-rasa, berbagai terobosan besar, berbagai kesuksesan besar sering kali di awali oleh rangkaian tiga kalimat di atas. Maka dititik ini sebuah keputusan bukan semata berdasarkan pada hitungan, analisa logis-matematik semata, tetapi juga oleh intuisi yang tubuh berikan saat saya-anda coba merasakannya, coba berdialog dengannya.

Maka, to : all : selamat untuk terus bergerak maju, dari keputusan demi keputusan, mudah-mudahan dialog-dialog pribadi mampu memberi jawab atas keterbatasan data dan keterbatasan sebuah analisis. Terakhir, saya mau kutip apa yang ditulis oleh Susanna Tamaro dalam salah satu novelnya: "Va Dove Ti Porta Il Cuore --- Pergilah kemana hati membawamu". salam.(sgt)

Mita's personal note :

Thanks a lot Git. Inspiring as usual. Aku masih inget waktu kamu 'nantangin' aku buat bikin keputusan - stay di Jakarta atau mencoba sesuatu yang baru di Pittsburgh. Well, mungkin kamu gak bermaksud nantangin aku, tapi seperti biasa, apa yang kamu omongin, provocating as usual, hehehe.

After all, we never know what awaits beyond us. We might fail, but at least we try. Seperti kamu sering bilang dulu, hidup itu dialektika, thesis - antithesis - trial and error. And now, I am moving forward, don't know where it leads to, but I am moving. Ayooo semangatttt :D !!!!!!!!!

Comments

Popular posts from this blog

Thanksgiving 2020

What a crazy ride we have been riding in 2020. The COVID-19 pandemic has pretty much put our life on hold, if not going on a slower pace. I feel that we are running a marathon, and it's not over yet. The emotional toll that we have been experiencing since March is real. Everything that we used to take for granted, like meeting up with friends, birthday parties, kids activities, traveling, the convenience of doing grocery shopping anytime we want, a lot of them have been taken away from us, from my family. No more parties, no more lunch or dinner with friends, no more invitation for birthday parties, no more traveling. Perhaps my life had become too easy before the pandemic. We had to switch Nathaniel from a brick and mortar school to a cyber school. I tried to plan my grocery trips ahead of time to avoid crowds. We had to wear masks everywhere. But at least we are healthy. At least I am facing this together with my husband and kids as a family. At least I am at home that is fu...

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

What would they decide ?

When I was a little girl, I heard a lot of stories about far-away lands from my mother. She told me stories that she got from my father's letters when he was away. Our family was apart for four years. My father went to school to Montpelier, France while my Mom raised my brother and me in Yogyakarta. Every other year Dad visited us, brought a lot of books and pictures home. Pictures of Versailles, Lourdes, Marseilles, Spain, and a lot more. He told us many stories, brought me from our little home to those countries, although only in imagination. Since that day, I convinced myself that someday, when I grow up, I will see those places with my own eyes :) About twenty some years later, my turn came. I stand here, a few thousand miles away from home. About once a week I call home, talked to my parents about this place. About the harsh winter in Pittsburgh, about my new town near Philadelphia, about my new job. I might not be here if my father never brought me those pictures, told me st...