Skip to main content

Sejuta pilihan, sejuta konsekuensi

Manakah yang akan kamu pilih : mengembangkan potensi yang ada dalam diri kamu semaksimal mungkin, bahkan jika itu berarti mengorbankan quality time bersama orang-orang yang kamu cintai seperti keluarga kamu, ATAU memilih untuk bersama dengan orang-orang tercinta (meaning that you decide to leave a bright career or potential path in front of you) ?

Kemarin saya dan seorang sahabat bercakap-cakap tentang hal itu. Kami memiliki beberapa kesamaan. Sama-sama merantau di negeri orang, terpisah dari keluarga tercinta, (relatively) family person, dan sama-sama single belum terikat komitmen dengan siapapun.

Dengan kondisi kami sekarang, kami punya sejuta pilihan (hihihi, sedikit hiperbola, gak papa lah ;)) yang ada di depan kami. Kami bisa jadi apa pun yang kami mau (lagi-lagi hiperbola, hahaha). Well, intinya, kami cukup optimis bahwa kami punya kemampuan dan kemauan yang cukup untuk meraih apa yang kami inginkan - tentu saja tidak terbatas pada karir bagus dan $$$, tapi kami tidak mau munafik bahwa $$$ akan membantu mempermudah hidup. Saya pribadi sudah cukup capek jadi mahasiswa miskin selama 8 bulan ini, hehehe.

Dengan semangat mencoba hal yang baru dan meraih sesuatu yang lebih baik :p saya ambil keputusan itu 8 bulan yang lalu. Well, apparently it's not a bad decision. So far, I enjoy coming to this city, make new friends, and learn a lot of new things. Dan tentu saja, keputusan ini membuka kesempatan-kesempatan lain yang sebelumnya tak ada dalam benak saya. Well, misalnya saja kerja di sini setelah saya lulus nanti - kalo dapet kerja di sin.

Tapi ketika pilihan itu harus diambil, tentu saja ada konsekuensi yang mengikutinya. Tak mungkin kita mengangkat satu ujung tongkat tanpa menggerakkan ujung yang lain. Kurang lebih begitu kata Covey dalam "7 Habit"-nya. Salah satunya adalah quality time bersama keluarga. Buat saya pribadi, it's kinda hard. Apalagi saya cuma 2 bersaudara, adik saya pun jauh dari rumah. Kasihan juga bonyok, tapi saat-saat kangen, rencana mau nengokin mereka aja belum kesampaian karena harus menguras seluruh tabungan saya.

Oh well, akhirnya sampai lah saya dan sahabat saya itu di jalan buntu, that it is a hard decision to make, however, sometime I will have to make the decision. Hmm at least saya masih ada waktu sekitar satu tahun untuk memutuskan langkah saya berikutnya. Tapi kalo lagi merenung dan dipikir-pikir, pusing juga siiih :)

Ada yang mau share gak :)?

Comments

Anonymous said…
Catch the dream if you can...
Apa perlu tanggapan dari orang tua?? Ilud
Anonymous said…
dulu aku juga ninggalin ortu hampir 7 tahun. kuliah dgn beasiswa, jadi mandiri. tapi kadang kasihan juga krn aku cuma 2 bersodara.. adekku kesepian, ortu juga agak kepikiran krn waktu itu kan aku baru lulus SMA..
Anonymous said…
YM ID aku eneng_geulis :)
Anonymous said…
jauh dari orangtua dan keluarga? ah, gw sudah melakukannya sejak umur 12 tahun. umm, wait, maybe it's not the same thing. i've never live abroad yet :D. Quality time, eh? Frankly speaking, i don't miss my family too much, he he he. I'll go back visiting them every once in a while, spend some time, and then go back to work, and that's it.

This is how I think of it. Family, however far they are, remains family. Whether you choose to chase a dream or not, they'll be there. And to me, no matter how many "quality time" I spent with my family (I tell you this because 12 years live with my family, I only come home for like 5 or 6 times), I always have the same warm feeling each time they are around. And somehow, I just know that that warm feeling will remain there, ready to wrap me everytime I come back.

Or maybe, I'm just not a family person, lol
wirenlog said…
hmm kalo masih single seh...ga masalah lama2 juga, kalo dah punya anak hmmm mendingan jgn lama2 ya..you will miss alot.

Popular posts from this blog

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

Turned out alright

Last week everything turned out alright :) Jumat siang, dengan restu teman2 kantor :p gw cabut dari kantor, walaupun area leader gw ngajakin meeting buat next recipe, tapi dia bilang "Go ahead and don't worry about the meeting, you better get your license today :p" . Jam 12.30an, gw dijemput sama orang dari driving school, dan ngebutlah kita ke DMV Norristown ngejar ujian jam 2 siang. Gw deg2an banget, apalagi karena udah gagal 1x. Kalau gw fail lagi, means that I screw everything up. Karena in the next four weeks para tebengan bakalan cabut ke site di Oregon (gak mungkin kan gw jalan 2 mile ke kantor), kontrak apartment gw habis akhir September dan gw harus cari apartment baru, dan ada chance gw bakalan dikirim ke Oregon juga (walaupun bukan shift pertama). Tapi above it all, hidup tergantung sama orang lain itu sucks. Gw gak bisa bebas ke mana-mana, gak bisa cari kegiatan dan temen2 sendiri (temennya ya cuman temen dari temen gw), gak ada social life sama sekali. Nyampe...