Skip to main content

All about name

Tadi di ruang kerja saya terjadi diskusi seru yang sama sekali tidak penting antara saya, Gede (rekan kerja saya yang sama2 anak Indonesia), Stephanie (Pittsburgher), dan Dai Hua.

Mereka mulai membahas nama-nama orang Indonesia yang menurut mereka aneh bin ajaib - panjang tidak karuan, hahaha. Mulailah dibahas satu-satu. Kalau dulu, saya lebih sering menyebut nama saya M.V. Asih Paramita. Begitu di Pittsburgh, karena bule-bule itu susah mengucapkan 'Asih' saya lebih suka mencomot first dan last word, jadilah nama beken saya Maria Paramita, huehehehe.

Orang-orang yang sering berinteraksi dengan saya tetap memanggil saya Mita, tapi sebagian orang yang cuma kenal sambil lalu memanggil saya Maria. Maka bingunglah Stephanie ketika Patty - pegawai administrasi di kantor kami - selalu menyebut Maria, Maria, and Maria. Who's Maria? Berkali-kali dia bertanya sebelum nyadar kalau Maria is Mita, huehehehe.

Lalu pembahasan beralih ke Gede. Well, sebelum Gede dan saya, ada seorang rekan lain dari Indonesia - tepatnya Bali yang juga kerja di tempat yang sama. So Stephanie sudah agak-agak mengerti dengan aturan nama-nama Bali yang berdasarkan urutan dalam keluarga. Tapi Dai Hua kebingungan, dan tambah bingung lagi dia ketika dia tahu nama lengkapnya Gede adalah I Gede Wira Yuda Pramana. How come you have such a long name? Dan ketika Gede menyebutkan nama bokap dan nyokapnya, yang cuma dua kata, lebih bingung lagi lah gadis Cina itu. Why did they give you a very long name?

Kebingungan mereka menjadi lengkap ketika mereka tahu kami biasa punya panggilan yang berbeda-beda di rumah, di kantor, etc, bahwa sebagian dari orang Indonesia tidak menggunakan family name, dan ada juga orang Indonesia yang namanya cuma satu kata saja.

Trus mulailah mereka dengan pertanyaaan-pertanyaan mulai dari yang standar sampai yang kreatif sekali :p Seperti - apakah semua nama itu tercantum di dokumen-dokumen resmi kami (ya jelaslah), apakah kami gak pegel kalo mbulet-mbuletin nama (kayak UMPTN misalnya), bagaimana caranya membedakan Paijo satu dengan Paijo yang lain kalo nggak punya nama keluarga, kenapa saya dipanggil Mita (nah lo, lah jelas itu bagian dari nama saya :p), dan apakah orang Indonesia bisa suka-suka memilih last name (hahahaha, nama kan dikasih sama orang tua, bukan beli di supermarket :p)

Kesimpulannya, mereka bingung aje dengan nama kami, hehehehe. Lalu saya bilang ke mereka, kalau suatu saat saya punya anak, saya bakalan kasih nama anak saya yang simple-simple aja. Cukup satu atau dua kata, trus ditambah nama bapaknya di belakang. Biar gak ribet di paspor, huehehehe. Oh ya, saya sih punya preferensi nama anak yang alfabetnya di depan-depan aja deh, biar kalo dipanggil urutan apa-apa either paling depan atau paling belakang sekalian, biar gampang diinget, hehehe. *Gak penting banget yeee :p*

Comments

Anonymous said…
I acan only say... HAHAHAHAHAH...

Popular posts from this blog

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

Turned out alright

Last week everything turned out alright :) Jumat siang, dengan restu teman2 kantor :p gw cabut dari kantor, walaupun area leader gw ngajakin meeting buat next recipe, tapi dia bilang "Go ahead and don't worry about the meeting, you better get your license today :p" . Jam 12.30an, gw dijemput sama orang dari driving school, dan ngebutlah kita ke DMV Norristown ngejar ujian jam 2 siang. Gw deg2an banget, apalagi karena udah gagal 1x. Kalau gw fail lagi, means that I screw everything up. Karena in the next four weeks para tebengan bakalan cabut ke site di Oregon (gak mungkin kan gw jalan 2 mile ke kantor), kontrak apartment gw habis akhir September dan gw harus cari apartment baru, dan ada chance gw bakalan dikirim ke Oregon juga (walaupun bukan shift pertama). Tapi above it all, hidup tergantung sama orang lain itu sucks. Gw gak bisa bebas ke mana-mana, gak bisa cari kegiatan dan temen2 sendiri (temennya ya cuman temen dari temen gw), gak ada social life sama sekali. Nyampe...