Skip to main content

Kopi, kopi, kopi

Semenjak kerja di Jakarta, saya jadi doyan ngopi. Kebiasaan itu menjadi-jadi setelah di Pittsburgh. Kalau pagi-pagi nggak ngopi, rasanya mata nggak bisa terbuka lebar, ngantuk seharian. Hari yang paling menyiksa adalah Jumat, karena Jumat berarti meeting di pagi hari di luar kantor, bangun terburu-buru, tidak boleh ketinggalan bis yang datang cuma setengah jam sekali, dan biasanya, nggak sempat ngopi.

Saking senengnya ngopi, waktu acara tukar kado waktu Natal taun lalu pun, saya bahagiaaa sekali karena dapat gift card $25 di Starbucks *hihihi, nggak penting banget ya :p*. Hadiah gift card dari teman2 sekantor waktu ultah pun nggak jauh2, again, another Starbucks gift card, hehehe. Tapi bukan berarti saya Starbucks mania lho ...

Waktu di Jakarta, favorit saya adalah nescafe three in one. Sore2 kita mata mulai merem melek, saya tinggal ke pantry buat bikin kopi. Sekarang pun, saya benar2 berusaha menghindari ketergantungan pergi ke gerai kopi. Mahal bo. Jadi sebisa mungkin, pagi2 saya bikin kopi di rumah. Nggak aneh2, cukup nescafe dengan krim dan gula. Yang penting kopi, hehehehe. Omong2 tentang Nescafe, buset, di sini harganya mahal banget. Nescafe ukuran normal (gak tau berapa gram sih :p), bisa $7, bandingkan dengan kopi merek gak jelas, misalnya merek Giant Eagle, yang bisa separoh harga Nescafe :(( !

Nah, yang bikin payah tuh di area sekitar kantor, paling nggak ada 2 gerai kopi di depan mata. Starbucks yang ada di sebelah kantor, dan Carribou tepat di seberang Starbucks. Walaupun pagi2 dah ngopi, kadang2 saya tergoda juga buat masuk. Karena dulu nggak pernah tau perbandingan gerai2 kopi, preferensi awal saya selalu Starbucks. Paling aman, dah ketauan rasanya. Tapi belakangan saya justru ketagihan white mocha di Carribou, yang menurut saya rasanya lebih "kopi" dibandingkan Starbucks. Kalau mau kopi beneran harusnya mah minum kopi hitam ya, jangan mocha, hehehe. Sayangnya, saya belum bisa menikmati kopi hitam yang pekat. Yang bikin tambah jatuh cinta di Carribou adalah biscotti, alias biskuit panjang yang kerasnya kayak menggigit batu. Tapi sekali gigit, nikmaaatttt ...

Selain Starbucks dan Carribou, gerai kopi yang lain yang pernah saya coba adalah Crazy Mocha alias Dancing Goat alias Kambing Gila. Yang satu ini adalah gerai kopi lokal di Pittsburgh. Sayangnya, kopinya sendiri terlalu manis dan nggak enak. Jadi saya lebih sering beli desert dan nongkrong di sana demi internet gratis dibandingkan kopinya, hehehe.

Satu lagi, sayangnya nggak ada di Pittsburgh, Pete's Coffee. Hmmm, yang satu ini, aromanya juga lebih strong. Saya pertama kali mampir di gerai ini waktu main ke LA, lalu juga di Boston.

Nah, gimana dengan di Jakarta? Walaupun saya cukup puas dengan nescafe-ice nya si Aa penjual pisang bakar di Tovas, sekali-sekali saya juga ke Starbucks (again), atau ke Bakoel Kofie di Cikini. Yang terakhir ini saya suka karena cozy, lumayan terasa kopi, dan banyak mainan aneh2 yang bisa dimainkan di sana sambil kongkow2. Last but not least, Dome di Plaza Indonesia is a good place buat liat air mancur HI sambil ngayal :p Kopinya mah ya gitu2 aja.

Nah, kamu2, hobi ngopi nggak? Ada saran gak di mana tempat yang enak buat ngopi2 di Jakarta (selain yang udah saya sebutkan tadi) atau Jogja (mentang2 bakalan pulang nih, hehehe). Atau kalian justru punya saran biar saya bisa menghilangkan kebiasaan saya ngopi :) ?

Comments

Anonymous said…
Pokoke kalo ke Jakarta jangan lupa ke Bakoel Koffie Mit!

Eh, yang aku rada sebel sama DC ya karena kedai kopinya kurang beragam (Starbucks lagi, Caribou lagi). Seneng banget waktu ke Seattle atw San Francisco yang punya macam2 variasi, terutama yg lokal!
andersonite said…
Yang bener "Peet's", bukan "Pete's"

Biar nggak butuh kopi, minum aja caffeine pills, dijamin murah, gak repot, dan tokcer ...
Anonymous said…
Gue gak suka kopi. Iiiih kurang sehat bagi badan nnn kantong.
Caffeine pills bisa22 tokcer 3 malam suntuk.
Yuni said…
sama .. addicted to coffeee :((
Anonymous said…
Mau ngurangin kopi ?? Minum aja kopi jagung, alis jagung bakar dikasih air ??? Rasa ??? Mirip banget kopi. Ditanggung murah .... tuetep sehat jasmani dompet and rohai.
Anonymous said…
kalau ke Jogja, coba di angkringan Lek Man deket stasiun Tugu Mit. Ada kopi joss, kopi dicelup arang hehehe... katanya sih joss :p -dw-
Anonymous said…
Cah Jogja to ? Ra usah kuatir saiki neng Jogja uakeehhh cafe arep ngopi bueres.Jogja wis meh kayak jkt hehehe
Anonymous said…
hayooo.. dolan-o sini.. lihat dan rasakan cara ngopi negeri spaghetti.. dijamin bakalan termehek2.. it's totally different with american coffee.. hi.hi.hi.:P

Popular posts from this blog

Thanksgiving 2020

What a crazy ride we have been riding in 2020. The COVID-19 pandemic has pretty much put our life on hold, if not going on a slower pace. I feel that we are running a marathon, and it's not over yet. The emotional toll that we have been experiencing since March is real. Everything that we used to take for granted, like meeting up with friends, birthday parties, kids activities, traveling, the convenience of doing grocery shopping anytime we want, a lot of them have been taken away from us, from my family. No more parties, no more lunch or dinner with friends, no more invitation for birthday parties, no more traveling. Perhaps my life had become too easy before the pandemic. We had to switch Nathaniel from a brick and mortar school to a cyber school. I tried to plan my grocery trips ahead of time to avoid crowds. We had to wear masks everywhere. But at least we are healthy. At least I am facing this together with my husband and kids as a family. At least I am at home that is fu...

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

What would they decide ?

When I was a little girl, I heard a lot of stories about far-away lands from my mother. She told me stories that she got from my father's letters when he was away. Our family was apart for four years. My father went to school to Montpelier, France while my Mom raised my brother and me in Yogyakarta. Every other year Dad visited us, brought a lot of books and pictures home. Pictures of Versailles, Lourdes, Marseilles, Spain, and a lot more. He told us many stories, brought me from our little home to those countries, although only in imagination. Since that day, I convinced myself that someday, when I grow up, I will see those places with my own eyes :) About twenty some years later, my turn came. I stand here, a few thousand miles away from home. About once a week I call home, talked to my parents about this place. About the harsh winter in Pittsburgh, about my new town near Philadelphia, about my new job. I might not be here if my father never brought me those pictures, told me st...