Skip to main content

Back to Pittsburgh: Craving Indonesian Food

Setelah hampir 3 minggu lamanya menjadi budak perut, bangun dengan mata mengantuk lalu membuka tudung saji, makan minimal 3x sehari (kadang bisa sampe 4 atau 5x :p), dan tidak berhenti ngemil, dan tidur dengan perasaan bersalah karena kekenyangan, sekarang saatnya back to reality!

Bahwasanya liburan adalah liburan, dan 3 minggu di rumah adalah surga, dan Indonesian food is the best. Tapi kenyataan berbicara lain sekarang, hehehe. Kembali ke Pittsburgh berarti kembali ke kenyataan bahwa kalau mau makan ya harus masak dulu (nggak sekedar buka tudung saji), berharap makan gurame goreng, bakar manis, atau acar kuning adalah mimpi di siang bolong, dan masakan yang paling mirip dengan masakan di indo adalah java fried rice nya Spice Island. Guess what, nasi goreng yang selama ini saya santap dengan penuh semangat itu pun sekarang berasa tidak karuan (buktinya sudah 3 hari masih bersisa di kulkas). Walah ....

Ya ya ya, inilah sindroma orang yang baru pulang kampung. Craving makanan rumah. Mulai dari gudheg uritan yang dibeli mama di pasar sorogenen (walaupun waktu di rumah protes2 melulu), terong balado bikinan mama, tempe goreng, pisang goreng, dan segala makanan lainnya. Tapi sekali lagi, kenyataan berbicara lain. Yang ada di kulkas adalah potato salad, spinach and artichoke dip, dan nasi goreng sisa 3 hari yang lalu, hihihi.

Ya sudahlah, memang saatnya kembali ke dunia nyata.

Comments

JengMayNot said…
Eh? Pasar Sorogenen? Yogya atau Solo? Hehehe..
Reza said…
Wah mita baru pulang ya...
Senangnya :)
Gimana kabar Indo?

Popular posts from this blog

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

Turned out alright

Last week everything turned out alright :) Jumat siang, dengan restu teman2 kantor :p gw cabut dari kantor, walaupun area leader gw ngajakin meeting buat next recipe, tapi dia bilang "Go ahead and don't worry about the meeting, you better get your license today :p" . Jam 12.30an, gw dijemput sama orang dari driving school, dan ngebutlah kita ke DMV Norristown ngejar ujian jam 2 siang. Gw deg2an banget, apalagi karena udah gagal 1x. Kalau gw fail lagi, means that I screw everything up. Karena in the next four weeks para tebengan bakalan cabut ke site di Oregon (gak mungkin kan gw jalan 2 mile ke kantor), kontrak apartment gw habis akhir September dan gw harus cari apartment baru, dan ada chance gw bakalan dikirim ke Oregon juga (walaupun bukan shift pertama). Tapi above it all, hidup tergantung sama orang lain itu sucks. Gw gak bisa bebas ke mana-mana, gak bisa cari kegiatan dan temen2 sendiri (temennya ya cuman temen dari temen gw), gak ada social life sama sekali. Nyampe...