Skip to main content

Surat untuk sahabat (sambungan thn 2005)

Dear sahabat,

Tiba2 aku kangen dan ingat padamu. Ingin curhat tentang keinginan-keinginan setinggi awan, tentang hal-hal yang paling muluk dan ideal, yang mungkin aneh di mata orang. Mana undanganmu? Pasti lagi sibuk dengan persiapan ini itu untuk perayaan besar di akhir bulan ya, semoga semua lancar :) ...

Ingat tidak dua setengah tahun yang lalu? Saat aku berjuang beradaptasi di negeri yang baru ini, kau malah 'bertualang' ke Girisonta sebagai penanda tahun ke-30 dalam hidupmu. Mau mencari panggilanku, katamu waktu itu. Kau tetap berangkat walaupun banyak orang berkata kamu tak punya potongan jadi pastor. Dan mereka ternyata benar, hehehe. 'Petualangan'-mu itu malah membuatmu makin yakin bahwa itu bukan jalanmu.

Lalu beberapa bulan kemudian dengan penuh keceriaan dan kekonyolan kau bercerita bahwa kau telah menemukan tambatan hatimu. Kami bertemu di sebuah acara muda mudi gereja, demikian katamu. Dan dia memintaku untuk tetap menjadi pasanganku dalam sebuah permainan - walaupun harusnya berganti pasangan - karena sudah telanjur nyaman denganku, tambahmu lagi. Wah, cerita yang lucu dan menarik, tapi tentu saja harus dikonfirmasi ke yang bersangkutan suatu hari nanti ;) hahahaha ...

Aku ikut bahagia untukmu, akhirnya "Pak Lurah" menemukan "Bu Lurah". Dalam bayanganku, Bu Lurah pastilah perempuan yang suka tertawa, ceria dan tidak terlalu kalem, dan bisa membuatmu heboh dan keluar dari keteraturanmu yang kadang2 bikin gemas itu.

Tau nggak satu kata-katamu yang tidak pernah kulupakan - Tuhan sudah merencanakan skenario hidup kita baik adanya. Tinggal kita jalani dengan sebaik-baiknya. Duh, langsung tergenang air di mataku saat membaca pesan mu itu. Terharu, dikuatkan, dan sekaligus merasa ciut karena tidak memiliki keyakinan sebesar yang kamu punya. Betapa senangnya mempunyai sahabat dekat yang menguatkan dan sering mengingatkan ku - mengingat kamu jauh lebih religius daripada aku.

Kembali ke topik semula, semoga semua lancar, semoga rukun dan bahagia sampai kakek nenek. Dengan sangat menyesal aku tak bisa datang ke pestamu (sudah berapa banyak pesta pernikahan yang kulewatkan) ... jadi kuganti saja dengan posting spesial ini untukmu plus doaku untuk kalian berdua. Doa spesial dari aku yang kadang-kadang malas berdoa dan suka menggerutu kepadaNya :).

Jika semua lancar, semoga tahun depan kita bisa bertemu di Jakarta. Bertiga, atau berempat, kamu dan dia, aku dan dia (let's keep our finger crossed, semoga sudah kutemukan nanti, hehehe)

Salam hangatku untuk dia yang akan segera menjadi kakak perempuanku. Semoga berjuta-juta kebahagiaan melimpah, hangat seperti matahari senja yang menemani aku, kau, dan Aine bermain ombak. Ah, masa muda yang tak akan kembali ;)

Aku, di kota kecil dekat Philadelphia.

Comments

Anonymous said…
walaupun jadi tawanan perang, teteup aja "cinta" sama pak lurah hihihihihi
hoi pak lurah... mana undangannya? ;)

Popular posts from this blog

Thanksgiving 2020

What a crazy ride we have been riding in 2020. The COVID-19 pandemic has pretty much put our life on hold, if not going on a slower pace. I feel that we are running a marathon, and it's not over yet. The emotional toll that we have been experiencing since March is real. Everything that we used to take for granted, like meeting up with friends, birthday parties, kids activities, traveling, the convenience of doing grocery shopping anytime we want, a lot of them have been taken away from us, from my family. No more parties, no more lunch or dinner with friends, no more invitation for birthday parties, no more traveling. Perhaps my life had become too easy before the pandemic. We had to switch Nathaniel from a brick and mortar school to a cyber school. I tried to plan my grocery trips ahead of time to avoid crowds. We had to wear masks everywhere. But at least we are healthy. At least I am facing this together with my husband and kids as a family. At least I am at home that is fu...

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

What would they decide ?

When I was a little girl, I heard a lot of stories about far-away lands from my mother. She told me stories that she got from my father's letters when he was away. Our family was apart for four years. My father went to school to Montpelier, France while my Mom raised my brother and me in Yogyakarta. Every other year Dad visited us, brought a lot of books and pictures home. Pictures of Versailles, Lourdes, Marseilles, Spain, and a lot more. He told us many stories, brought me from our little home to those countries, although only in imagination. Since that day, I convinced myself that someday, when I grow up, I will see those places with my own eyes :) About twenty some years later, my turn came. I stand here, a few thousand miles away from home. About once a week I call home, talked to my parents about this place. About the harsh winter in Pittsburgh, about my new town near Philadelphia, about my new job. I might not be here if my father never brought me those pictures, told me st...