Skip to main content

Surat untuk seorang sahabat

Dear sobat,

Senang bisa ngobrol dengan kamu kemaren minggu. Sayang aku nggak punya lebih banyak waktu, jadi kita cuma sempat makan ayam goreng dan ngobrol bentar :) Anyway, makasih banyak sore itu kamu bantuin aku wara-wiri ngurus Wawan. Aku jadi inget lagi obrolan kita, tentang angka 30 yang menagihmu untuk memenuhi komitmen, membuat keputusan lebih jelas untuk arah hidupmu selanjutnya. Angka bagus, Yesus juga mulai berkarya umur 30, hahaha, jawabanmu memang sedikit sontoloyo :p

Waktu kecil, kalau kita ditanya mau jadi apa, kita bisa dengan lantang menjawabnya: pengen jadi dokter, pengen jadi insinyur, atau pengen jadi manten ... hehehe (yang terakhir itu jawaban ponakanku yang umurnya 3.5 tahun kalau ditanya sama ibunya :D). Tapi sekarang susah sekali ya menjawab akan jadi apa kita 5 tahun ke depan. Apakah masih akan di jalur yang sama? Apakah masih akan bertahan di kota yang sama?

Tapi toh kita harus memutuskan. Dan sekarang giliranmu. Benar, dunia nyata memang tidak seidealis nilai-nilai yang pernah diajarkan ke kita. Pilihan ada di tangan kita sekarang, menjadi orang keras kepala yang menentang arus, dengan segala resiko yang kasat mata: didepak, dikucilkan, karir mandeg, etc. Atau memilih hanyut dan menjadi kompromistis. Seandainya ada jalan tengah, win-win solution, tentu semuanya lebih mudah. Hihihi, dasar sontoloyo aku ya, mana ada jalan tengah. Iya ya iya, enggak ya enggak, jangan iya enggak iya enggak :p

Aku percaya bahwa kamu tidak akan hanyut, kamu punya bakat jadi orang keras kepala, dan itu sudah cukup terpupuk selama ini, bukankah begitu? Hahaha ... Di sisi lain, seperti yang aku pernah bilang, kamu punya kemampuan untuk mengemas pendapatmu itu dalam bahasa yang enak untuk diterima oleh orang lain. Semoga talent itu akan makin berkembang dan bermanfaat untuk kamu dan orang-orang di sekitar kamu ya. Kalau kamu akhirnya memutuskan untuk di jalur karir yang sekarang, semoga kemampuanmu bernegosiasi akan membawamu ke karir yang lebih cemerlang dan lebih strategis untuk memperjuangkan idealismemu. Jadi, bisa dong aku ketemu Pak General Manager sekembalinya aku dari Pittsburgh ;)?

Di lain pihak, kalau kamu memutuskan untuk meninggalkan semua yang telah kamu rintis dan memulai dari nol untuk mengikuti Si Tukang Kayu secara total, semoga kamu bisa jadi pastor benar-benar memperjuangkan apa yang dulu di perjuangkan oleh Tukang Kayu. Aku paling benci mendengar cerita pastor-pastor yang setengah-setengah, akhirnya berhenti di tengah jalan, atau mereka yang pastor/biarawan/biarawati, tapi kelakuannya bertolak belakang dengan kaulnya. Aku percaya kamu bisa jadi pastor yang sukses. Tidak, bukan berarti punya nama atau kedudukan. Tapi sukses menjalankan visi dan misimu, berpegang teguh pada hal yang kamu yakini selama ini.

Akhirnya, selamat mencari jawaban, sukses selalu untukmu. Aku tunggu ceritamu selanjutnya. Hmm, aku penasaran, kamu yang mana yang akan ketemu temui 2 tahun lagi ;) ? Si calon pastor, atau general manager :) ? Oh ya, kalau tidak jadi calon pastor, semoga cepat bertemu dengan cewek yang bisa men-trigger sisi playfull kamu ya ;)? Doakan aku juga, semoga aku juga menemukan jalan hidup yang lebih mantab.

Salam dan doa :)
Mita

Comments

Anonymous said…
he he he... good one

Popular posts from this blog

Turned out alright

Last week everything turned out alright :) Jumat siang, dengan restu teman2 kantor :p gw cabut dari kantor, walaupun area leader gw ngajakin meeting buat next recipe, tapi dia bilang "Go ahead and don't worry about the meeting, you better get your license today :p" . Jam 12.30an, gw dijemput sama orang dari driving school, dan ngebutlah kita ke DMV Norristown ngejar ujian jam 2 siang. Gw deg2an banget, apalagi karena udah gagal 1x. Kalau gw fail lagi, means that I screw everything up. Karena in the next four weeks para tebengan bakalan cabut ke site di Oregon (gak mungkin kan gw jalan 2 mile ke kantor), kontrak apartment gw habis akhir September dan gw harus cari apartment baru, dan ada chance gw bakalan dikirim ke Oregon juga (walaupun bukan shift pertama). Tapi above it all, hidup tergantung sama orang lain itu sucks. Gw gak bisa bebas ke mana-mana, gak bisa cari kegiatan dan temen2 sendiri (temennya ya cuman temen dari temen gw), gak ada social life sama sekali. Nyampe...

Cause we both know that expectation kills ...

A friend said, "You are going nowhere, until any of you have the guts to talk about what kind of relationship it is. Even if you both only want companionship, it should be discussed to avoid misunderstanding.Then it's just the matter of time until you both get exhausted." Too bad, I don't have the courage.