Skip to main content

Berharap

Orang bilang guru yang paling baik adalah pengalaman. Most people said so.
Aku lagi berpikir2 ... apakah benar aku sudah belajar dari pengalamanku selama ini? Apakah sakit-pahit-perih-suka-bahagia-tawa yang pernah aku alami dulu sudah membuat aku menjadi lebih baik?

Apa ya kira2 pelajaran yang bisa aku dapatkan dari sebuah hal yang terjadi lebih dari setahun yll itu? Selain pahit-perih yang masih terasa ... Masak sih enggak ada pelajaran berharga darinya

Kata orang, setelah mengalami hal yang pahit orang akan jadi lebih sabar, lebih rendah hati. Apakah aku sudah menjadi lebih sabar sekarang? Apakah aku sudah menjadi lebih rendah hati?

Waktu itu aku mencintainya seseorang ... dan akhirnya aku kecewa. Apakah pelajaran yang kudapat adalah: jangan pernah berharap??

Bukankah manusia hidup karena ada harapan? Orang yang tidak punya harapan, tidak akan ada cahaya di wajahnya, tidak ada sinar di matanya. Apakah sekarang aku harus mematikan segala kemungkinan untuk mulai berharap lagi?

Karena berharap itu menakutkan, tapi kita hidup karena ada harapan. Jadi, what should I do now? Membuka harapan? Ataukah aku tutup rapat2 harapan itu - dan aku pasti tidak akan kecewa lagi ... ?

Kalau aku punya harapan, pasti hidupku sekarang jadi lebih berwarna, karena ada sesuatu yang kunanti di depan sana ... tapi kalau itu ternyata jauh dari bayanganku, aku takut aku akan kembali terjatuh, kembali suram ...

Tapi kalau aku tidak berharap, hidupku akan biasa2 saja, gak ada warnanya ...

So? *bingung*

Comments

Popular posts from this blog

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

Turned out alright

Last week everything turned out alright :) Jumat siang, dengan restu teman2 kantor :p gw cabut dari kantor, walaupun area leader gw ngajakin meeting buat next recipe, tapi dia bilang "Go ahead and don't worry about the meeting, you better get your license today :p" . Jam 12.30an, gw dijemput sama orang dari driving school, dan ngebutlah kita ke DMV Norristown ngejar ujian jam 2 siang. Gw deg2an banget, apalagi karena udah gagal 1x. Kalau gw fail lagi, means that I screw everything up. Karena in the next four weeks para tebengan bakalan cabut ke site di Oregon (gak mungkin kan gw jalan 2 mile ke kantor), kontrak apartment gw habis akhir September dan gw harus cari apartment baru, dan ada chance gw bakalan dikirim ke Oregon juga (walaupun bukan shift pertama). Tapi above it all, hidup tergantung sama orang lain itu sucks. Gw gak bisa bebas ke mana-mana, gak bisa cari kegiatan dan temen2 sendiri (temennya ya cuman temen dari temen gw), gak ada social life sama sekali. Nyampe...