Skip to main content

Love or Needs ?

"Gue lagi berantem sama nyokap. Bonyok gak pernah bisa ngertiin gue ... "
"Bukannya emang orang2 sebaya kita sering konflik dengan bonyok ya, karena kita beda generasi ... Kita dianggep nya seneng2 melulu. Gak tau mereka kita kerja capek dan stress nya kayak apa... Kita ngopi2 bentar, dibilang buang2 duit ..."
"Makanya Mit, itu gunanya punya istri, suami, someone who will understand you better than your parents ..."

Another conversation -
"Wih, lagunya, melow banget :p? Lagi fall in love sama sapa neh ?"
"Huahaha, sekarang mah gak jamannya jatuh cinta Mit ... tapi persamaan kepentingan :D ""Oh really :)) ?

Dan sekarang aku sedang mempertanyakannya ... Apakah cinta itu hanya nama lain dari kebutuhan? Atau kah dia ada, berdiri sendiri, di luar kebutuhan? Aku gak bicara tentang cinta yang muluk2 seperti cinta seorang ibu terhadap anaknya, atau cinta Dia yang menciptakan dunia. Aku hanya bertanya tentang cinta pria-wanita.

Ketika kamu bertemu seseorang, dan menemukan kebutuhanmu dalam dirinya, is it what everybody calls love? Dan ketika suatu saat dia tidak lagi memenuhi kebutuhanmu, apa yang akan kau lakukan terhadapnya? Apakah kamu akan meninggalkannya? Jika kamu memutuskan untuk tetap berada di sisinya, mungkin itulah yang disebut 'cinta'. Jika kamu berhenti pada saat kamu sudah tidak membutuhkan dia, ya sudah, that's an ending ...

Sayangnya tidak ada cara lain untuk mengetahui apakah yang kamu rasakan itu cinta atau sekedar kebutuhan, selain menjalaninya. Yang berarti kamu mengambil resiko untuk ditolak, terluka, disakiti. Dan sekarang aku sedang berpikir2 apakah aku berani untuk mengambil resiko itu (lagi).

*seandainya aku bisa ngobrol tentang hal ini, ttg ketakutanku ... tentang masa lalu, tentang masa depan ...*

Comments

Popular posts from this blog

Thanksgiving 2020

What a crazy ride we have been riding in 2020. The COVID-19 pandemic has pretty much put our life on hold, if not going on a slower pace. I feel that we are running a marathon, and it's not over yet. The emotional toll that we have been experiencing since March is real. Everything that we used to take for granted, like meeting up with friends, birthday parties, kids activities, traveling, the convenience of doing grocery shopping anytime we want, a lot of them have been taken away from us, from my family. No more parties, no more lunch or dinner with friends, no more invitation for birthday parties, no more traveling. Perhaps my life had become too easy before the pandemic. We had to switch Nathaniel from a brick and mortar school to a cyber school. I tried to plan my grocery trips ahead of time to avoid crowds. We had to wear masks everywhere. But at least we are healthy. At least I am facing this together with my husband and kids as a family. At least I am at home that is fu...

What would they decide ?

When I was a little girl, I heard a lot of stories about far-away lands from my mother. She told me stories that she got from my father's letters when he was away. Our family was apart for four years. My father went to school to Montpelier, France while my Mom raised my brother and me in Yogyakarta. Every other year Dad visited us, brought a lot of books and pictures home. Pictures of Versailles, Lourdes, Marseilles, Spain, and a lot more. He told us many stories, brought me from our little home to those countries, although only in imagination. Since that day, I convinced myself that someday, when I grow up, I will see those places with my own eyes :) About twenty some years later, my turn came. I stand here, a few thousand miles away from home. About once a week I call home, talked to my parents about this place. About the harsh winter in Pittsburgh, about my new town near Philadelphia, about my new job. I might not be here if my father never brought me those pictures, told me st...

Turned out alright

Last week everything turned out alright :) Jumat siang, dengan restu teman2 kantor :p gw cabut dari kantor, walaupun area leader gw ngajakin meeting buat next recipe, tapi dia bilang "Go ahead and don't worry about the meeting, you better get your license today :p" . Jam 12.30an, gw dijemput sama orang dari driving school, dan ngebutlah kita ke DMV Norristown ngejar ujian jam 2 siang. Gw deg2an banget, apalagi karena udah gagal 1x. Kalau gw fail lagi, means that I screw everything up. Karena in the next four weeks para tebengan bakalan cabut ke site di Oregon (gak mungkin kan gw jalan 2 mile ke kantor), kontrak apartment gw habis akhir September dan gw harus cari apartment baru, dan ada chance gw bakalan dikirim ke Oregon juga (walaupun bukan shift pertama). Tapi above it all, hidup tergantung sama orang lain itu sucks. Gw gak bisa bebas ke mana-mana, gak bisa cari kegiatan dan temen2 sendiri (temennya ya cuman temen dari temen gw), gak ada social life sama sekali. Nyampe...