
Beberapa hari ini saya banyak dikelilingi oleh emosi-emosi yang membahagiakan dari orang-orang di sekeliling saya. Walaupun bisa dikatakan tak ada yang berhubungan langsung dengan saya, kebahagiaan itu menular, menghinggapi diri saya :)
Dimulai dengan kejutan kecil yang saya dapatkan dari sahabat saya (lihat posting saya sebelumnya ;), kebahagiaan-kebahagiaan kecil terus bermunculan pada diri orang-orang yang saya sayangi. Tebak apa yang membuat saya tertular berbahagia ? Karena mereka menyertakan diri saya dalam kebahagiaan itu.
Kemanusiaan saya, tak bisa saya pungkiri, membuat saya pun kadang ingin diperhatikan, disayangi, dan merasa dibutuhkan. Sangat manusiawi bukan? Seorang teman menuturkan kebahagiaan yang dirasakannya, ketika ia mendapatkan ucapan selamat ulang tahun dari orang-orang di sekitarnya. Ia merasa berbahagia karena ternyata orang-orang itu masih mengingat dirinya. Memang betul apa yang dikatakannya, tapi sudah saya katakan, kebahagiaan itu seperti virus yang cepat menyebar dan menular. Bukan saja mereka yang diberi yang merasa bahagia, tetapi juga mereka yang memberi.
Bayangkan ketika seseorang menerima ucapan selamat ulang tahun yang sederhana, dan kemudian dengan senyum yang tulus dia mengucapkan terima kasih. Siapa yang merasa bahagia? Yang diberi ucapan kah? Atau yang mendapat ucapan terima kasih dan senyum tulus? Tentu saja keduanya. Siapakah yang lebih bahagia? Saya tidak dapat menjawabnya.
Pun ketika sahabat saya mengucapkan terima kasih atas concern saya untuk keputusannya yang belum juga dapat saya pahami, kami juga telah saling menularkan kebahagiaan. Saya pun sangat berterimakasih kepadanya, karena ternyata dia masih mendengarkan concern saya.
Hari-hari bahagia ini menjadi lengkap ketika saya mendengar kabar bahagia dari Lusi, sahabat SMA saya. Malam itu dia telah melahirkan seorang bayi perempuan – my little niece, called Serafin :) Selamat datang ke dunia ponakanku tersayang, akan ada banyak petualangan yang menunggumu :). Maaf ya, tantemu ini sedang banyak pekerjaan di Jakarta, jadi baru akan menengokmu paling cepat bulan depan, siapa suruh kamu lahir di Jogja, hahaha.
Jadi, mari kita saling menularkan kebahagiaan. Buat orang-orang spesial yang menularkan kepada saya kebahagiaan-kebahagiaan tersebut, terima kasih buat senyuman kalian, you have no idea how much it worth for me. Di penghujung hari ini, setelah berkutat dengan kemacetan lalu lintas Jakarta yang semakin tak bisa ditolerir, kalian menghadirkan secercah senyum di wajah saya. Dan perasaan saya menjadi semakin ringan ketika tiba-tiba sebuah suara halus menyapa hati saya dan berkata, “Everything is gonna be all right, Mit.”
Comments