Skip to main content

My best friend's lifetime decision

Kemaren siang HP saya tiba2 berbunyi, sebuah pesan masuk:

“I am getting married next year. Awal tahun depan keluarga kami berkenalan secara resmi. Minggu kemarin kami bertemu dengan orang tuaku dan orang tuanya. Tahun depan aku pindah ke Jogja mengikuti suamiku”.

Heh, it’s like a dejavu. Baru sehari sebelumnya saya blogwalking ke salah satu blog favorit saya *as a silent reader :) *, ceritanya tentang seorang teman yang tiba-tiba memutuskan untuk menikah karena ingin sebuah kehidupan yang simpel dan indah seperti di fairy tale, tiba-tiba saja hal yang sama terjadi dalam kehidupan sahabat saya.

“Heh, what ??!! “ cuma itu yang bisa saya tulis dalam reply kepada nya. Buru-buru saya mengkoreksinya, jemari saya menekan angka – angka itu. 0817xxx … dialing …

“Halo, eh Mit, barusan aku terima sms mu, baru aku mau balas, kamu sudah telpon.”
“Hei, Non, are you serious?”
“Iya Mit, I am serious … I know that it is shocking, yes, it shocks everybody …”
“Aku ingat beberapa minggu yang lalu kamu sms aku tentang cowok ini, I don’t think it’s getting serious this fast. How long do you know him ?”
“A month, maybe two … Tapi tau nggak Mit, dengan yang ini, aku kayak ketemu soulmate. Ini nggak kayak jatuh cinta seperti biasanya. Semuanya berjalan sangat lancar, sangat smooth … Entah kenapa kami begitu yakin satu sama lain”.
“Hahaha … Hei hei hei, I am really happy for you. But, give me one day to be shocked, okay :D ?”
“Ya, memang prosesnya begitu cepat …”
“Congrats ya Non, eh, ntar tak kontak lagi, ini mahal, pake HP *pelit mode on*, dan lagi banyak kerjaan …”
“Okay Mit, thanks for calling …”


Dia, sahabat saya itu, adalah salah satu orang yang paling saya percaya. Dia gadis yang sangat mengedepankan logika, tapi juga piawai mengolah rasa. Itu yang membuat banyak orang mempercayakan rahasia mereka kepadanya. Bertahun-tahun saya berkenalan dengannya, dimulai dari pertemuan di Buahbatu (saya masih ingat dengan jelas kehangatan tawanya hari itu :), berlanjut dengan hari hari ceria di rumah biru itu :). Saya juga jadi ingat kejadian setahun yang lalu, she cheered me up di Café Pisa, waktu itu perasaan saya gundah tak karuan, but I can’t admit that I am hurt. Dia mendengarkan kegundahan saya, membuat saya tertawa lagi malam itu. Tentu saja ditemani es krim yang enak itu :)

Terdiam, saya mencoba mencari penjelasan yang selogis-logisnya tentang keputusan sahabat saya itu. I am really happy for her, tapi saya juga mengkuatirkannya. Am I just jealous? Tak satupun penjelasan logis yang nyangkut di otak saya. Saya cuma mengirim pesan singkat :
“Kalau kamu bukan sahabatku, aku nggak kuatir. *Hugs*”.

Sesaat kemudian dia menjawab, menenangkan agar saya tidak kuatir. Ah, sudahlah, masih banyak pekerjaan menumpuk, sesaat saya menyingkirkan percakapan itu dari benak saya.

Kemudian sore itu, saya luntang lantung sendiri di Gramedia, tiba-tiba mata saya tertumbuk pada sampul sebuah novel, novelnya Mbak Anjar. Beberapa bulan yang lalu, sahabat saya itu memperlihatkan draft cover itu kepada saya. Ada foto teman-teman saya di sana, ada juga foto sahabat saya itu. Tergelitik, pikiran saya kembali melayang kepada percakapan yang belum selesai tadi siang. Rasanya saya masih berhutang sms kepada sahabat saya itu. Segera saya mengambil HP saya :

”Hei, aku lagi di Gramedia, di depan novelnya Mbak Anjar. Kamu nggak takut kalau ternyata nggak ‘secocok’ yang kamu bayangkan? Aku nggak bilang nggak mungkin lho nemuin soulmate dalam waktu yang cepat. Kan udah aku bilang, dari sms mu waktu itu, kelihatan banget kalau kamu lagi happy berat :) I will pray for you“.

Sesaat kemudian : “That’s why we need your pray Mit, there’s no logical explanation for the others, but we have faith. Our parents pray for us, very hard, because it’s a lifetime decision.”

Iya, sampai sekarang, I can’t see logical explanation behind all these stuff. Mungkin benar yang dikatakannya, there’s no logical explanation, but there’s faith. Mungkin juga karena saya belum pernah merasakan apa yang dirasakannya. So far, saya selalu jatuh cinta dengan orang-orang yang sebelumnya sudah akrab dengan dunia saya (well, ada satu pengecualian yang sangat berkesan, , tapi sudahlah, lupakan hal itu, hahaha) Well then, semoga Dia memberikan berkatnya kepada kalian berdua :) !! Congrats for both of you :)

Comments

Anonymous said…
hai, mit...
salah satu temanmu di cover novel "TIGA menjemput semburat cinta" itu yg mana? Apakah Dewi yg km maksud? Lha dia kan yg tukang potret jg, jd nggak mau kalah dehh ikutan "mejeng" hehe...

Good luck
-anjar-

Popular posts from this blog

Thanksgiving 2020

What a crazy ride we have been riding in 2020. The COVID-19 pandemic has pretty much put our life on hold, if not going on a slower pace. I feel that we are running a marathon, and it's not over yet. The emotional toll that we have been experiencing since March is real. Everything that we used to take for granted, like meeting up with friends, birthday parties, kids activities, traveling, the convenience of doing grocery shopping anytime we want, a lot of them have been taken away from us, from my family. No more parties, no more lunch or dinner with friends, no more invitation for birthday parties, no more traveling. Perhaps my life had become too easy before the pandemic. We had to switch Nathaniel from a brick and mortar school to a cyber school. I tried to plan my grocery trips ahead of time to avoid crowds. We had to wear masks everywhere. But at least we are healthy. At least I am facing this together with my husband and kids as a family. At least I am at home that is fu...

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

What would they decide ?

When I was a little girl, I heard a lot of stories about far-away lands from my mother. She told me stories that she got from my father's letters when he was away. Our family was apart for four years. My father went to school to Montpelier, France while my Mom raised my brother and me in Yogyakarta. Every other year Dad visited us, brought a lot of books and pictures home. Pictures of Versailles, Lourdes, Marseilles, Spain, and a lot more. He told us many stories, brought me from our little home to those countries, although only in imagination. Since that day, I convinced myself that someday, when I grow up, I will see those places with my own eyes :) About twenty some years later, my turn came. I stand here, a few thousand miles away from home. About once a week I call home, talked to my parents about this place. About the harsh winter in Pittsburgh, about my new town near Philadelphia, about my new job. I might not be here if my father never brought me those pictures, told me st...