Skip to main content

Hidup makin susah di Jakarta

Keluar dari halte busway siang itu, saya disambut kesemrawutan lalu lintas di sekitar Stasiun Kota. Kalian tentu bisa membayangkan suasana yang terjadi tiap hari tersebut. Angkot-angkot yang ngetem, manusia yang lalu lalang, suara-suara klakson mobil yang saling berteriak, dan panas terik matahari. Menggambarkannya saja membuat saya berkeringat dan kehausan, hahaha.

Cepat-cepat saya menyeberang dan masuk ke salah satu angkot. Seorang bule tiba-tiba menyeberang ke segitiga di tengah jalan yang ramai itu, mengeluarkan kameranya, dan membidik kesemrawutan tersebut sebagai objeknya. Saya sibuk mengira-ngira apa yang ada di pikirannya. Objek apa yang menarik perhatiannya, kesemrawutan ini kah? Mungkin ketika orang itu pulang ke negaranya, dia akan menunjukkan foto itu ke teman-temannya dan berkata : “Lihat, ini kesemrawutan di sebuah negara dunia ketiga, Indonesia. Negara yang katanya penghasil minyak bumi, tapi justru sedang terpukul perekonomiannya karena kenaikan harga minyak dunia. Negara yang katanya terkena krisis, tapi lihatlah, di kemacetan itu, banyak mobil-mobil mewah berjubel.”

Saya melayangkan pandangan ke arah lain. Di sela-sela angkot yang tak beraturan, tampak ojek-ojek sepeda meliuk-liuk dengan penumpang di boncengannya. Untuk membuat penumpangnya merasa sedikit lebih nyaman, terdapat semacam bantalan pada boncengan. Kulit para pengemudi sepeda itu menghitam terbakar matahari demi seribu dua ribu rupiah untuk menghidupi keluarganya.

Di sisi lain jalan, tampak seorang laki-laki menarik gerobak. Di bagian belakang gerobak tersebut, seorang anak kecil duduk, kotor dan ingusan. Apakah mereka adalah sebagian dari ‘manusia-manusia gerobak’ yang mencoba bertahan di Jakarta? Apa jadinya anak kecil itu lima belas atau dua puluh tahun mendatang? Jadi peminta-minta di bus kota yang menakut-nakuti penumpang dengan mengatakan mereka baru keluar dari penjara? Sedih membayangkannya …

Mencoba berempati, saya bahkan tak berani membayangkan apabila diri saya ada di posisi mereka. Dengan apa yang saya miliki sekarang pun, saya masih mengeluh. Hidup makin susah di Jakarta, harga-harga rasanya semakin mencekik. Beberapa hari yang lalu saya berbelanja kebutuhan bulanan, waktu saya membaca jumlah yang harus saya bayarkan, saya nyaris tak percaya. Nyaris dua ratus ribu untuk barang-barang remeh temeh ini?

Temans, apa yang dapat kita buat untuk mereka? Memberi sedekah pada peminta-minta di jalanan menurut saya sama sekali tak membantu. Dulu, dulu sekali waktu masih kuliah, dengan idealisme yang masih menyala, senang rasanya bisa melakukan sesuatu buat orang lain. *Hi there, masih ingat nggak dengan semangat dan sensasi yang berkobar-kobar dulu itu :) ?*. Hidup rasanya berarti. Tapi sekarang, justru ketika saya sudah memiliki penghasilan sendiri, I am feeling helpless and useless. Cuma satu yang terbayang di benak, saya harus mengurangi kesenangan-kesenangan yang tak terlalu penting, seperti ngopi di starbucks, dome, atau bakoel coffee. Sebuah kesenangan yang tak bisa saya tolak selama ini :) . Ah, bahkan itu pun tak membantu sama sekali.

Ada urun saran dan rembug?

Comments

Popular posts from this blog

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

Turned out alright

Last week everything turned out alright :) Jumat siang, dengan restu teman2 kantor :p gw cabut dari kantor, walaupun area leader gw ngajakin meeting buat next recipe, tapi dia bilang "Go ahead and don't worry about the meeting, you better get your license today :p" . Jam 12.30an, gw dijemput sama orang dari driving school, dan ngebutlah kita ke DMV Norristown ngejar ujian jam 2 siang. Gw deg2an banget, apalagi karena udah gagal 1x. Kalau gw fail lagi, means that I screw everything up. Karena in the next four weeks para tebengan bakalan cabut ke site di Oregon (gak mungkin kan gw jalan 2 mile ke kantor), kontrak apartment gw habis akhir September dan gw harus cari apartment baru, dan ada chance gw bakalan dikirim ke Oregon juga (walaupun bukan shift pertama). Tapi above it all, hidup tergantung sama orang lain itu sucks. Gw gak bisa bebas ke mana-mana, gak bisa cari kegiatan dan temen2 sendiri (temennya ya cuman temen dari temen gw), gak ada social life sama sekali. Nyampe...