Skip to main content

a prayer for ur daughter

Dear ... aku ikut berduka cita atas kehilangan yang kamu alami ...

Pagi itu saya menerima sms yang mengejutkan dari Lusi tentang kabar buruk itu: "Selamat pagi Mit. Aku mau minta doa buat anaknya *****. Sudah lahir, kembar perempuan, tapi salah satu meninggal. Mohon doanya ya Mit .... "

Menimbang-nimbang, aku tak punya cukup keberanian untuk menelponmu, menyampaikan duka citaku. Aku tidak bisa membayangkan kesedihanmu, ketika Lusi mengatakan bahwa kamu menangis dan terus menangis di telepon. Kamu, yang selalu tertawa, kamu yang selalu optimis, kamu yang pernah membuatku menangis di ujung telpon. Rasanya aku tak akan sanggup mendengar kesedihanmu. Akhirnya aku hanya menitipkan salamku lewat Lusi, dan meminta dia untuk mencari karangan bunga untuk kalian.

Tapi masih ada alasan lain. Berhadapan denganmu, aku masih jadi pengecut yang tak berani menghadapi kenyataan, memilih untuk menghilang dan tidak meneruskan pertemanan. Potongan-potongan fragmen itu, masih saja jadi momok yang tak pernah berani kuhadapi dengan langsung.

Well, semoga kalian berdua tabah dan kuat menghadapi semua ini. Semoga, suatu hari, kita bisa bertemu lagi, tertawa bersama sebagai dua teman lama, menertawakan hari-hari masa muda kita. Semoga, saat itu akan datang.

Kupanjatkan doa untuk putrimu tercinta, dan untuk kalian berdua.

Dari ujung dunia yang lain,
Pittsburgh, 10 Februari 2006.

Comments

Popular posts from this blog

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

Turned out alright

Last week everything turned out alright :) Jumat siang, dengan restu teman2 kantor :p gw cabut dari kantor, walaupun area leader gw ngajakin meeting buat next recipe, tapi dia bilang "Go ahead and don't worry about the meeting, you better get your license today :p" . Jam 12.30an, gw dijemput sama orang dari driving school, dan ngebutlah kita ke DMV Norristown ngejar ujian jam 2 siang. Gw deg2an banget, apalagi karena udah gagal 1x. Kalau gw fail lagi, means that I screw everything up. Karena in the next four weeks para tebengan bakalan cabut ke site di Oregon (gak mungkin kan gw jalan 2 mile ke kantor), kontrak apartment gw habis akhir September dan gw harus cari apartment baru, dan ada chance gw bakalan dikirim ke Oregon juga (walaupun bukan shift pertama). Tapi above it all, hidup tergantung sama orang lain itu sucks. Gw gak bisa bebas ke mana-mana, gak bisa cari kegiatan dan temen2 sendiri (temennya ya cuman temen dari temen gw), gak ada social life sama sekali. Nyampe...