Skip to main content

Tentang seorang sahabat ...

Tiba2 aku ingat temanku yang satu ini, sahabat lama sejak SMP, Dewi.
Sekarang, bertahun2 sejak kami gak satu sekolah lagi, kami berdua sudah dewasa.
Sayangnya sometimes aku merasa kehilangan dia ... Ada satu dua masalah di antara kami yang bikin kami jadi jauuuh ... Sayang banget.

Anyway, dulu aku pernah nulis tentang dia ... tentang persahabatah kami. Ini dia, untuk sekedar mengingat seorang sahabat lama yang hilang. Tidak hanya untuk Dewi, tapi untuk semua sahabat yang pernah hadir dalam hidupku.


Aku pertama kali mengenalnya sekitar 9- 10 tahun yang lalu, ketika kami masih di SMP. Kami berkenalan di sebuah tempat kursus Bahasa Inggris. Persahabatan kami berlanjut ketika kami bersekolah di SMA yang sama.

Dewi anak yang manis, lincah, supel, tomboy, tapi sekaligus sangat keibuan. Dia bukan orang yang bisa duduk , ada saja kegiatannya. Sampai2 ada yang memanggilnya manusia proposal karena setiap kali ia selalu membawa-bawa proposal kegiatan. Bakatnya itu berlanjut setelah kami lulus SMA. Dia jadi aktivis. Saat demonstrasi menentang Soeharto marak tahun 98, dia ada di antara mereka. Dia juga aktif di gerakan ANV (Active Non Violence), di pembinaan anak SMA, dan di banyak tempat yang lain. Dia percaya, bahwa itulah cara dia memuliakan Sang Pencipta. Ad Maiorem Dei Gloriam, demi makin mulianya nama Tuhan. Energinya seolah tak pernah habis.

Sekitar 2-3 tahun yang lalu, dia kena typus. Tak tanggung2, penyakit itu dua kali menyerangnya, membuat dia harus pintar2 menyimpan energinya yang sekarang tak lagi berlebih. Belum pulih energi dan kekuatannya, dia kehilangan orang yang sangat
dicintainya. Tuhan memanggil pacar pertama yang sangat disayanginya. Cerita belum berakhir. Sekitar setahun yang lalu, ketika teman2nya menempuh ujian, dia kembali terkapar di rumah sakit karena jatuh dari sepeda motor, kepalanya membentur tanah. Tapi tampaknya cobaan belum selesai untuknya. Beberapa bulan yang lalu, dokter memvonisnya kena Hydrocephallus, yang jika menyerang anak2 menyebabkan kepala membesar lebih dari ukuran normal. Untuk itu, sebuah selang silikon permanen harus dipasang di bawah kulitnya, untuk membuang cairan dari kepala ke perutnya. Rambut panjang kebanggaannya itu harus dicukur gundul.

Saat aku mengunjunginya sebulan yang lalu, dia mensharingkan apa yang dialaminya. Dia berkata, bahwa semua yang dia banggakan telah diambil daripadanya.

"Aku bangga bahwa aku dapat berpikir cepat dan bertindak cepat, kini aku harus berpikir dan bertindak sangat-sangat lambat. Aku sangat menyayangi cowokku itu, walaupun waktu itu kami telah berpisah, dan Tuhan memanggilnya. Aku sangat bangga akan rambut panjangku, dan kini aku tidak memilikinya lagi."

Lalu dia melanjutkan lagi, "Aku percaya tidak ada satu kebetulan di dunia ini, semua pasti ada maksudnya. Apalagi kalau tiga kejadian berturut-turut terjadi tiap tahun. Pembimbing rohaniku meminta aku untuk merenungkan, apa makna dari semua ini, apa kehendak Si Anak Tukang Kayu (baca: Yesus) padaku? Tapi aku tetap belum menemukan
jawabannya".

Malam tadi, tiba2 aku merindukannya. Kuhubungi dia via SMS, aku bertanya, bagaimana caranya kita bisa tahu kehendakNya? Lalu Dewi menjawab, "Pertanyaan yang sama juga aku tanyakan padaNya, apa kehendaknya padaku? Hard to find out, but please tetep semangat,
jangan sampai itu hilang yach?"

Tadi pagi, saat aku masih mengantuk ada SMS dari dia lagi, "Pagi! Bangun! Olahraga - Doa - Mandi - Makan! Go with new Spirit, OK?!!" Aku cuma bisa tersenyum, dasar, pagi2 bangunin orang tidur ...

Thanks 'Wi! Semangat hidup kamu membuat aku merasa lebih baik hari ini. Kamu tidak membuat aku merasa lebih beruntung daripada kamu, tapi kamu membuat aku merasa mendapatkan teman seperjuangan, bersama-sama berusaha akan kehidupan yang lebih baik, berusaha mencari kehendakNya atas hidup kita, walaupun itu tidak gampang. Dan hari ini terasa lebih indah ...

Jakarta, 2 November 2001

Epilog:
Buat Dewi, di mana pun kamu berada, sometimes I miss you, rasanya seperti kehilangan sahabat yang selalu mendukung aku, tapi ketika aku berhadapan dengan kamu, rasa kesel, jengkel dan dongkol itu bercampur. Aku juga kadang menyayangkan sikapmu yang sekarang seperti putus asa dan menyerah.

Aku berharap bahwa sepotong idealisme masih menyala di hati kamu. I know that it's a hard period in ur life time, tapi jangan menyerah ...

Comments

SEKJEN PENA 98 said…
kami masih ada!
masih bergerak!
masih melawan!
www.pena-98.com
www.adiannapitupulu.blogspot.com

Popular posts from this blog

Thanksgiving 2020

What a crazy ride we have been riding in 2020. The COVID-19 pandemic has pretty much put our life on hold, if not going on a slower pace. I feel that we are running a marathon, and it's not over yet. The emotional toll that we have been experiencing since March is real. Everything that we used to take for granted, like meeting up with friends, birthday parties, kids activities, traveling, the convenience of doing grocery shopping anytime we want, a lot of them have been taken away from us, from my family. No more parties, no more lunch or dinner with friends, no more invitation for birthday parties, no more traveling. Perhaps my life had become too easy before the pandemic. We had to switch Nathaniel from a brick and mortar school to a cyber school. I tried to plan my grocery trips ahead of time to avoid crowds. We had to wear masks everywhere. But at least we are healthy. At least I am facing this together with my husband and kids as a family. At least I am at home that is fu...

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

What would they decide ?

When I was a little girl, I heard a lot of stories about far-away lands from my mother. She told me stories that she got from my father's letters when he was away. Our family was apart for four years. My father went to school to Montpelier, France while my Mom raised my brother and me in Yogyakarta. Every other year Dad visited us, brought a lot of books and pictures home. Pictures of Versailles, Lourdes, Marseilles, Spain, and a lot more. He told us many stories, brought me from our little home to those countries, although only in imagination. Since that day, I convinced myself that someday, when I grow up, I will see those places with my own eyes :) About twenty some years later, my turn came. I stand here, a few thousand miles away from home. About once a week I call home, talked to my parents about this place. About the harsh winter in Pittsburgh, about my new town near Philadelphia, about my new job. I might not be here if my father never brought me those pictures, told me st...