Skip to main content

Di rumah

Aduh ngantuknya, berulang kali saya menguap siang ini, gara2 kereta Taksaka yang terlambat empat jam dari seharusnya *selalu aja cari kambing hitam :D*, sehingga saya baru masuk ke Jakarta tepat pukul delapan pagi. Cepat-cepat cari taksi, pulang ke kost, mandi, dan langsung berangkat ke kantor.

Long weekend ini saya habiskan di Jogja. Pulang ke rumah, bertemu papa - mama - emak - adik. Penyakit lama saya kambuh begitu sampai rumah. Malas ke mana-mana. Lebih enak menghabiskan waktu tidur-tiduran di rumah, hahaha ... males sekali. Saya cukup puas dengan membaca dan menikmati gambar-gambar indah dari setumpuk majalah National Geographic koleksi Papa, sambil bolak-balik ke ruang makan mengambil tempe goreng di lemari. Tidak ada main ke mall, tidak ada ngopi ke Starbuck, yang ada hanya bersantai di rumah. Ngobrol hal-hal yang gak penting dengan keluarga. Menikmati foto-foto lama, saling mencela tentang
masa kecil dengan sepupu-sepupu. Bertandang ke om dan tante, ngobrol lagi di sana. Itu yang paling tepat untuk dilakukan di Jogja. Ritme kota ini memang untuk bersantai, bercanda ria dengan keluarga, kemudian kembali ke Jakarta.

Well, I am lucky to have a family like them.

Comments

Hany said…
Salam kenal balik, Mita. Sayang aku nggak bisa tanda tangan dgn alamat blog baruku. Terpaksa tanda tangan pake alamat di Blogger, hehe...

Nanti kalo transit di Sgpr, jangan lupa kabar2i aku yak. Sapa tau mau ketemuan, hehehe... Semoga lantjar perjalanan sekolahnya nanti.

Hany @ http://bintangmatahari.blogsome.com/

Popular posts from this blog

Rediscover childhood ...

When Iis asked whether I'd like to join a traditional Indonesian dancing ~ Balinese, I was hesitated. Last time I did Balinese dance was in Nyoman Gunarsa's Sanggar Dewata around 1989. I started dancing Balinese at age 4 when I saw my older cousins dancing, so I told my mom that I wanted to dance. Wrong decision :p! My mom enjoyed bringing me to the dance club, more than I enjoy dancing, and I was stuck for more than 6 years :p I knew that I wasn't talented, but she just didn't let me quit no matter how much I begged, hahaha. I finally quit because I needed to study more to prepare for Ebtanas (I know, I know it's such a lame excuse, hehehe) . Never crossed my mind that I would dance again. First because I didn't enjoy it, second because I am not talented. When finally I say yes, I'll come, I thought it would be the first and last time :) But I was wrong. It's fun and I enjoy it. This time is different because my mom doesn't tell me to do the dancing...

Turned out alright

Last week everything turned out alright :) Jumat siang, dengan restu teman2 kantor :p gw cabut dari kantor, walaupun area leader gw ngajakin meeting buat next recipe, tapi dia bilang "Go ahead and don't worry about the meeting, you better get your license today :p" . Jam 12.30an, gw dijemput sama orang dari driving school, dan ngebutlah kita ke DMV Norristown ngejar ujian jam 2 siang. Gw deg2an banget, apalagi karena udah gagal 1x. Kalau gw fail lagi, means that I screw everything up. Karena in the next four weeks para tebengan bakalan cabut ke site di Oregon (gak mungkin kan gw jalan 2 mile ke kantor), kontrak apartment gw habis akhir September dan gw harus cari apartment baru, dan ada chance gw bakalan dikirim ke Oregon juga (walaupun bukan shift pertama). Tapi above it all, hidup tergantung sama orang lain itu sucks. Gw gak bisa bebas ke mana-mana, gak bisa cari kegiatan dan temen2 sendiri (temennya ya cuman temen dari temen gw), gak ada social life sama sekali. Nyampe...